Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 9 : Partner Andalanku


__ADS_3

Bermain di urutan kedua, ketika pemain pertama sudah di penentuan. Adji dan Desi sudah bersiap-siap, begitu juga dengan lawannya dari kelas XII Akuntansi. Meskipun akan menjadi lawan di lapangan, diluar lapangan tetap berteman antara adik dan kakak kelas.


Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Desi melakukan gerakan-gerakan ringan agar lebih santai.


''Huuuuhhhh''


''LAPANGAN 1, GANDA CAMPURAN, MARI KITA SAMBUT REZA BUDIANTO DAN ITA LESTARI DARI KELAS DUA BELAS AKUNTANSI"


"WOAAHH''


Seru pembawa acara di gedung tersebut dengan semangat 45 yang mendapatkan sambutan tepuk tangan dan seruan dari para pendukung.


Suara gemuruh tepuk tangan dari pendukung pasangan tersebut sudah menyambut. Pasangan Reza dan Ita memasuki area lapangan terlebih dahulu, meletakkan tas raketnya ke kursi sisi lapangan yang sudah di sediakan lalu menghampiri wasit di tengah lapangan.


''DAAANNN, MARI KITA SAMBUT LAWAN DARI MEREKA, ADJI NUGROHO DAN DESIANA PUTRI DARI KELAS SEBELAS PERKANTORAN"


"WOOOAAH'' seru pembawa acara masih semangat dan riuahan pendukung yang mengikuti.


Adji dan Desi memasuki lapangan dengan melambaikan tangan yang memegang raket itu kepada para pendukungnya yang tengah bertepuk tangan.


Ke empat pemain sudah berada di tengah lapangan dan saling berhadapan. Servis pertama akan dilakukan Ita kepada Adji.


Sebelum permainan benar-benar dimulai, tentu saja diberikan kesempatan untuk melakukan pemanasan.


''SIAP UNTUK BERMAIN!'' seru wasit.


Mereka langsung ke tempat masing-masing. Desi dan Adji melakukan tos lagi untuk membangun chemistry di dalam pasangan.


''Fokus, fokus.'' ujar Adji yang di belakang Desi.


Desi mengangguk.


Permainan sudah di mulai, servis pertama yang dilakukan oleh Ita gagal menyeberangi net, alias nyangkut. Mungkin itu efek gugup karena belum terbiasa dan bisa jadi mesin belum panas.


Permain kembali di mulai, rally mulai tercipta, dalam ganda campuran tentu saja pihak perempuan yang selalu menjadi incaran karena di anggap lemah.


Poin kembali di ambil oleh pasangan Desi dan Adji. Awal game belum menemukan kesulitan, mereka tidak mau membuang kesempatan ini untuk mendapatkan poin-poin berikutnya.


''Lawan masih grogi Des, jangan buang poin.'' ujar Adji mengingatkan sebelum Desi melakukan servis.


Desi mengangguk lagi.


''GAME'' seru wasit.


Poin demi poin di dapatkan secara bergantian, akhirnya game pertama di menangkan oleh pasangan Adji dan Desi. Saatnya berpindah lapangan dan istirahat.


''Beberapa kali tadi bolamu out Ji, lebih hati-hati lagi.'' ujar Desi lalu meneguk air mineral.


Adji mengangguk, ia pun menyadari kesalahannya.


''Sepertinya yang cewe kurang pede kalau di depan net, tadi banyak mati sendiri disana.'' ujar Adji.


''Iya benar Ji. Semangat lagi, fokus.''


Adji dan Desi kembali tos.


''DUA PULUH DETIK, DUA PULUH DETIK. PEMAIN MASUK KE LAPANGAN.'' seru wasit.


Karena pasangan Reza dan Ita masih belum selesai berdiskusi untuk menghadapi lawan. Disaat sudah mendapatkan peringatan, mereka langsung masuk ke lapangan dan siap menghadapi game kedua.


Akankah game berakhir dengan dua game saja dengan kemenangan Adji dan Desi?


Atau Reza dan Ita bisa mencuri kemenangan game kedua ini dan memaksakan dengan rubber game?

__ADS_1


Tak sengaja sorot mata Desi menatap pada seseorang yang sedang menonton. Desi tersenyum senang meskipun itu bukan spesial sedang menontonnya. Hal yang wajar karena mereka di sektor yang sama, pasti akan mempelajari tipe permainan mereka untuk di waspadai jika berhadapan.


''Ingat Des, dia sedang berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu menjadi lawanmu. Dia juga akan main hari ini, huufftt.'' bathin Desi mengingatkan dirinya sendiri.


Desi kembali fokus karena permainan sudah dimulai.


Ternyata game kedua pasangan Reza dan Ita bangkit, sepertinya mereka sudah panas dan beradaptasi dengan kondisi lapangan serta angin.


Game kedua di interval pertama, pasangan Adji dan Desi ketinggalan 9-11, cukup terlihat perbedaannya. Game pertama Adji dan Desi menang dengan skor yang cukup jauh, yaitu 21-10


''Mereka benar-benar menghindari net kamu Des, dan sengaja narik kamu ke belakang.'' ujar Adji di waktu istirahat.


''Iya, pokoknya kita jangan sampai kebawa pola permainan mereka Ji. Kompak lagi, semangat lagi ya, aku tadi memang kurang kuat kalau di tarik ke belakang, maaf banget.'' ucap Desi merasa bersalah.


''Nggak papa, pasti bisa.'' ujar Adji memberi semangat.


Adji menepuk-nepuk bahu Desi pelan dan bersiap di penentuan untuk segera menyudahi atau menyerah dan lanjut game ketiga.


"MAIN" seru wasit.


Permainan kembali di mulai, setelah interval game kedua. Dari komunikasi untuk mengatur strategi, pasangan Adji dan Desi akhirnya bisa menyamakan kedudukan menjadi imbang.


''Fokus-fokus, jangan sampai kesusul.'' ujar Desi memberikan semangat untuk Adji dan juga tentu untuk dirinya sendiri.


Permainan semakin seru, para pendukung masing-masing kelas saling bersahutan memberikan semangat kepada wakil mereka.


''REZA-ITA!! PROK PROK PROK''


''ADJI-DESI!! PROK PROK PROK''


Pertandingan internal sekolahan yang menjelma seperti pertandingan resmi. Kedua kubu juga sangat menjunjung sportifitas.


Poin semakin ketat, 19-19 kedudukan sementara. Servis masing di pegang pasangan Adji dan Desi.


Seru penonton yang semangat karena Adji dan Desi mengamankan poin 20 terlebih dahulu.


Beberapa kali Desi terlihat mengambil nafas, tak di pungkiri ia semakin gugup.


''WOAAAAAAAAHH''


Gemuruh tepuk tangan pendukung pasangan yang menang yaitu Desi dan Adji.


Pertandingan pertama dimenangkan oleh pasangan Adji dan Desi, mereka dipastikan lolos ke babak selanjutnya setelah menang cukup dengan dua game langsung, 21-10 & 21-19


''Alhamdulillah.'' ucap Desi.


Desi langsung mengajak tos kepada Adji, lalu bersalaman dengan lawannya.


''Selamat ya.'' ucap lawan.


''Terimakasih Kak, permainan yang seru.'' balas Desi untuk kakak kelasnya itu.


Pertandingan selesai dengan dua game langsung membuat fisik tidak terlalu terkuras. Mereka lebih bisa cepat beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh agar di pertandingan berikutnya lebih siap lagi. Belum tau siapa yang akan menjadi lawannya, karena calon lawan belum bermain. Namun, prinsip seseorang yang mengikuti perlombaan tentu saja siapapun lawannya, harus siap.


''Hampir kecolongan set kedua.'' ujar Desi pada Adji setelah mereka tiba di belakang, tempat istirahat para pemain.


Adji kembali mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat, lalu meneguk air mineral.


''Iya, untung lawan kita lebih tegang dari kita hihi.'' jawab Adji dengan suara pelan.


''Tapi, kita sudah membuktikan, karena mau sekurang apapun lawan, kalau kita nggak bisa memanfaatkan keadaan ya pasti lepas sih.'' balas Desi.


''Hebattt banget memang partner andalanku ini.'' puji Adji.

__ADS_1


''Apa sih Ji ... biasa aja deh perasaan, 'kan memang begitu.'' jawab Desi merendah.


Adji justru tertawa.


''Apaaa?!! nggak usah ketawa!'' protes Desi.


Adji yang tadinya masih menahan tawanya, justru malah dilepaskan tawa itu setelah mendapatkan protes.


''Jangan ketawa mulu! ayo makan, laper nih.'' ujar Desi.


''Makan?? oke.'' jawab Adji semangat.


''Eh tapi, kayaknya lebih baik ganti baju dulu deh.'' ujar Desi.


Bau keringat di badannya yang sudah menyerap di kaos ternyata semakin menyengat. Bisa-bisa aroma itu membuat orang-orang di sekitarnya pingsan.


''Mau di temenin?'' balas Adji.


''Ngawur!!''


''Hahaha, canda kali Des.''


Desi langsung menunjukkan tanda tinju untuk mengancam temannya itu agar tidak berani macam-macam.


Ancaman Desi bukannya membuat Adji takut, justru malah membuatnya gemas.


Desi mengambil kaos gantinya yang ia bawa di dalam tas gendongnya. Ia langsung cepat-cepat ke kamar mandi untuk ganti.


Sedangkan untuk laki-laki tidak kesulitan mencari tempat hanya untuk mengganti baju, Adji tidak kemana-mana, ia berganti di tempat istirahat.


Tak lama kemudian, Desi kembali sudah ganti kaos biasa.


''Ini sudah tak ambilkan dua nasi kotaknya.'' ujar Adji.


Setiap murid yang mengikuti perlombaan mendapatkan jatah nasi kotak untuk makan siang.


''Wuiihh mantap, ayam geprek viral nih.'' ujar Desi.


''Perasaan sama aja bentuknya, ayam ya tetep jadi ayam.'' sahut Adji.


''Yang penting bukan di suruh makan ayam hidup.'' balas Desi seraya menuangkan sambal yang dibungkus plastik kecil itu di atas potongan ayam goreng tepung.


''Hahaha''


°°


Pertandingan tidak berhenti sampai disini, Desi dan Adji melanjutkan untuk menonton pertandingan ganda campuran berikutnya, agar bisa menilai tipe permainan masing-masing calon lawannya, karena dengan memahami tipe permainan lawan, akan menjadi bekal yang baik ketika mereka saling berhadapan.


''Ketua osis kita bagus banget mainnya.'' puji Desi.


Ya, kali ini yang sedang bertanding salah satunya ada Pras, ketua OSIS sekolah ini dan juga sosok yang disukai Desi secara diam-diam. Maka dari itu, Desi tidak boleh melewatkan momen itu.


''Bener kamu Des, aku berharap kita bertemu di final.'' balas Adji.


''AAMIIN.'' jawab Desi semangat.


Sebelum Adji mengharapkan hal itu, Desi sudah lebih dulu mengharapkan pertemuan itu di final nanti.


Pandangan Desi pun tak teralihkan, ia fokus mengamati tipe permainan Pras, sebagai penggebuk ia cukup bagus, dan jika berada di depan net juga tidak kerepotan. Tentu saja sekalian mengamati wajahnya yang sudah berkeringat.


"Astaghfirullah!" gumam Desi.


"Kenapa Des?" tanya Adji ketika mendengar Desi beristighfar.

__ADS_1


"Eh? nggak papa, Ji." jawab Desi.


__ADS_2