
Desi langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara itu.
''Eh, Pras. Iya, alhamdulillah sudah mendingan kok.'' jawab Desi.
Pras juga datang ke sekolahan lebih awal, apalagi dirinya memiliki jabatan sebagai ketua osis, sehingga ia memiliki kesadaran untuk memberikan contoh yang baik bagi semuanya.
''Alhamdulillah kalau sudah membaik, jadi lega, Des.'' ucap Pras.
Desi pun ikut tersenyum saat Pras tersenyum.
''Ya sudah aku lanjut ke kelas dulu.'' ujar Desi yang jantungnya berdebar kencang.
''Aku antar.'' Pras memberikan penawaran.
''Eh, nggak usah, terima kasih.'' tolak Desi.
''Nggak papa-papa, teman-teman juga belum pada datang.'' balas Pras.
Desi mengedarkan pandangannya, di depan kelasnya masih terlihat sepi. Kalau sudah ada yang datang, biasanya mereka duduk-duduk di depan kelas.
''Ya sudah terserah kamu aja.'' balas Desi.
Desi berjalan lebih dulu dengan kaki yang masih sedikit pincang itu. Sedangkan Pras berjalan disebelahnya. Kebetulan kelas mereka tidak terlalu jauh, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama.
''Dimana tempat dudukmu, Des?'' tanya Pras saat melihat kursi-kursi di ruangan kelas Desi masih diletakkan diatas meja karena sebelumnya habis dibersihkan.
''Disana.'' tunjuk Desi.
Pras mengikuti arah tunjukan jari telunjuk Desi. Ia langsung masuk.
''Mau ngapain, Pras?'' seru Desi yang masih berdiri di depan pintu kelasnya.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Pras menurunkan kursi Desi dan juga kursi teman sebangku Desi.
''Ohh, hehe ... terima kasih.'' ucap Desi.
Pras mengajak Desi yang masih berdiri untuk duduk di depan kelas. Di setiap depan kelas, ada bangku panjang yang biasanya ditempati para murid yang sedang bersantai atau sedang menghafal sesuatu jika sedang sepi.
''Maaf, aku ganti plesternya lagi ya.'' tutur Pras.
''Kalau aku pasang sendiri, gimana, Pras?'' tanya Desi sedikit ragu. Ia takut akan tatapan murid-murid lainnya.
''Kamu sudah pernah belajar soal ini?'' Pras bertanya balik.
Desi menggeleng. Pras pun tersenyum tipis.
''Tidak semudah itu, Des. Niatnya pulang sekolah, aku mau mampir ke rumah kamu buat masang ini, tapi, ternyata kamu berangkat, ya sudah sekarang aja gantinya.'' tutur Pras yang kemudian turun dari bangku itu.
''Maaf ya.'' ucap Pras.
''Biar aku lepaskan sendiri, Pras.'' ujar Desi.
Desi membuka sepatunya, kemudian kaos kaki.
Dari kejauhan ada yang menatap kedua remaja itu dengan senyum. Ia langsung berjalan cepat untuk menghampiri keduanya.
''Pras ... Des.'' sapa Yulia.
''Eh, Yulia.'' balas Desi yang kembali reflek memundurkan kakinya saat Pras sudah siap memasang plester.
''Bikin kaget orang aja kamu.'' protes Pras.
''Hehe, maaf.'' ucap Yulia.
__ADS_1
''Gimana kondisi kaki kamu, Des?'' tanya Yulia.
''Alhamduillah sudah baikan kok, Yul.'' jawab Desi.
''Diam dulu, aku mau pasang plester ini.'' ujar Pras pada Yulia.
''Okay, baby, haha.'' jawab Yulia yang kemudian tertawa.
Yulia pun turun dari bangku panjang itu, ia duduk di sebelah Pras sembari memperhatikan tangan Pras yang sedang hati-hati memasang plester di kaki Desi.
''Baby? bahkan mereka semakin mirip kalau lagi diam fokus seperti itu. Konon katanya, jodoh itu memang mirip.'' bathin Desi sembari menatap wajah kedua temannya itu.
''Oke, sudah beres.'' ujar Pras.
''Biar aku pakai sendiri sepatuku. Terima kasih ya, Pras.'' ucap Desi.
Murid-murid sudah mulai berdatangan, begitu juga dengan teman-teman satu kelas Desi. Siska baru saja datang, ia melihat Desi bersama dengan Pras dan juga Yulia sedang mengobrol.
''Lho, Des? kamu sudah sehat?'' tanya Siska yang langsung memeriksa kaki Desi.
''Jangan dipencet-pencet juga, Siskaaa!!!'' seru Desi.
''Hahaha, maap.'' ucap Siska.
Tak lama kemudian, Adji juga mendekat ke perkumpulan itu.
Beberapa menit yang lalu. Adji yang baru saja datang melihat Desi bersama dengan Pras dan Yulia. Ia melihat dari kejauhan saat Pras tengah memasangkan plester di kaki Desi. Ia yang akan masuk ke kelas, terpaksa menunda sampai momen itu selesai.
''Sudah sembuh, Des?'' tanya Adji.
''Hey partner andalanku, alhamdulillah sudah mendingan kok.'' jawab Desi dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
''Syukurlah kalau begitu.'' jawab Adji ikut tersenyum.