Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 26 : Lupa Bilang Terima Kasih


__ADS_3

Seketika Desi menjadi gagap. Apakah hanya rasa tanggungjawab itu membuat Pras berubah seperti ini. Desi masih belum menemukan jawaban yang pasti ada segala teka-teki yang muncul di dalam benaknya.


Desi tetap dengan pendiriannya, sedalam apapun rasa cintanya pada laki-laki itu, ia tetap harus bisa jaga diri sebaik-baiknya. Jangan sampai karena kepedulian yang sekarang ia terima, menjadikannya menurunkan harga diri.


''Lama banget dia ngetik caption-nya.'' bathin Desi bertanya-tanya dengan ekor matanya yang melirik, tetapi tetap tidak terlihat.


Sangat jarang kaum laki-laki menuliskan caption dengan panjang lebar. Bahkan di unggahan Pras yang pernah Desi lihat beberapa waktu yang lalu, Pras lebih sering hanya membagikan postingan dari fanpage. Ia bagikan ulang tanpa caption. Sepertinya memang tidak jauh berbeda antara Pras Desi dalam hal itu.


''Semenjak cedera itu, kalian benar-benar menjadi dekat.'' bathin seseorang yang menatap Pras dan Desi dari kejauhan. Ia langsung meneruskan langkahnya menuju kantin. Pemandangan siang ini membuat hatinya sakit.


''Sorry, agak panjang caption-nya, Des. Sudah selesai, mungkin ada notifikasi masuk di hp kamu.'' ucap Pras sembari meletakkan ponselnya diatas meja kayu itu


''Oh, iya, nggak papa.'' jawab Desi gugup.


Desi langsung membuka ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Hal itu membuat Pras tersenyum tipis.


''Ishh! sepertinya Pras tau kalau aku gemetaran.'' bathin Desi.

__ADS_1


Dengan tangan yang sudah mampu ia kendalikan itu, Desi membuka aplikasi sosial media. Sebuah notifikasi yang pelaku pengunggahan itu ada di sebelahnya.


Sudut bibir Desi membentuk sebuah senyuman saat membaca caption yang Pras tulis. Apalagi di ujung caption, secara khusus Pras menuliskan permintaan maaf dan terima kasih untuk Desi. Pras juga mengakui sudah membuat kaki Desi cedera.


''Luar biasa kata-katanya, kamu keren banget bisa menyusun kata demi kata yang terlintas di pikiran, lalu dituangkan ke dalam bentuk tulisan kayak gini. Pasti nggak mudah juga, 'kan?'' tanya Desi.


''Nggak sulit kok, Des. Semua itu tergantung pada diri kita. Aku suka menulis soal apapun yang nongol dibenakku.'' jelas Pras.


Desi mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, lalu menghadap ke arah Pras sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.


''Bukannya kamu juga suka nulis, 'kan?'' tanya Pras.


Pras tersenyum tipis. ''Iya taulah, itu di papan pengumuman yang aktif setor tulisan siapa lagi kalau bukan kamu. Desiana Putri di sekolah ini, kayaknya cuma kamu aja.'' balas Pras.


Desi langsung tertawa kecil, ia memang aktif membuat tulisan-tulisan pendek. Isinya sekedar motivasi kecil untuk dirinya sendiri dan juga siapapun yang membacanya. Sampai beberapa adik kelasnya sering bertanya pada Desi soal menulis kata-kata.


''Terus, aku boleh komen nggak nih di unggahan kamu, Pras?'' tanya Desi dengan nada candaan. Padahal di dalam hatinya was-was akan larangan keras. Ia takut Yulia akan marah.

__ADS_1


''Kalau bisa sih memang wajib, biar unggahanku nggak kasihan juga. Masa yang terlibat di unggahanku, mereka hanya numpang lewat saja.'' jawab Pras yang juga sedikit becanda.


Mereka pun langsung tertawa, tetapi keduanya mampu menahan agar tidak bersuara. Karena khawatir mengganggu siapapun yang lewat. Sebenarnya bukan mengganggu, lebih tepatnya membuat teman-teman di sekolahan itu menjadi curiga akan kedekatan Pras dan Desi


Dengan segala keraguan yang belum juga pergi, Desi mengomentari unggahan Pras dengan gemetar. Ia mengawali dengan ucapan bismillah di dalam hatinya sebelum mengetik komentar, supaya apa yang ia takutkan tidak akan pernah terjadi.


''Sudah ku komentari, Pras.'' ujar Desi lalu meletakkan ponselnya di atas meja, berdampingan dengan ponsel milik Pras.


''Ohh, oke, nanti ku baca ya ... sekarang aku mau balik ke kelas dulu ya, Des. Kamu hati-hati.'' ucap Pras yang kemudian beranjak.


Desi hanya mengangguk. Ia menatap kepergian Pras yang berjalan seorang diri. Tapi, baru beberapa langkah, Pras berhenti dan berbalik arah.


''Kok balik lagi? ada yang ketinggalan?'' tanya Desi.


''Nggak ada, aku lupa bilang terima kasih karena sudah dikasih nonton badminton di hp kamu.'' ucap Pras berhasil membuat Desi nyengir.


''Oohh, ya sama-sama.'' jawab Desi.

__ADS_1


Pras pun kembali pamit meninggalkan Desi untuk bergabung dengan teman-temannya. Desi masih duduk disana, sembari menunggu teman-temannya yang masih di kantin.


__ADS_2