
Desi membawa buah tangan dari Pras ke belakang. Ia mencicilnya, pertama yang ia bawa adalah gelas, baru dua buah plastik itu.
''Aarrghhh, Desiii, ishhhh!!!'' omel Desi pada dirinya sendiri ketika mengingat kelakuannya tadi.
''Au ah!''
Desi melanjutkan makan kelengkeng, tadi saat masih ada Pras, sudah pasti ia jaga image. Sekarang mau makan banyak.
Di sekolahan
Beberapa anggota osis berangkat meskipun hari ini hari Minggu, mereka sedang mempersiapkan hadiah-hadiah. Sedangkan anggota osis yang mengikuti lomba, dilarang untuk ikut melihat dan ikut campur soal isi hadiah tersebut.
''Tumben telat, Pras?'' tegur Adji.
''Oh, iya maaf, tadi mampir dulu ke rumahnya Desi.'' jawab Pras.
''Ke rumah Desi?''
Pras mengangguk santai.
Adji langsung merapatkan mulutnya karena kelepasan bicara dengan suara yang keras.
''Kamu dari rumah Desi?'' tanya Siska yang kebetulan mau masuk ke ruangan.
''Iya.'' jawab Pras jujur.
__ADS_1
''Gimana kondisi kakinya?'' tanya Siska.
''Ya, masih pincang-pincang jalannya. Tapi, tadi sudah ku pasangkan plester. Semoga bisa membantu lebih enakan buat dia gerak.'' jawab Pras.
''Syukurlah, sepi banget nggak ada Desi.'' balas Siska.
Pras hanya tersenyum tipis, sedangkan Siska sudah berlalu masuk ke ruangan. Disana masih ada Adji dan Pras.
''Ayo main badminton aja, Ji.'' ajak Pras.
''Oh, ayo, ayo.'' jawab Adji sedikit kaget.
Kedua laki-laki remaja itu berjalan menuju gedung serbaguna sekolah. Disana sudah ada beberapa teman lainnya yang juga anggota osis dan kemarin mengikuti lomba. Karena tidak diizinkan untuk ikut dalam mempersiapkan hadiah-hadiah, mereka pun mengisinya dengan bermain-main.
Adji berjalan dibelakang Pras, ia menelisik pada temannya itu.
''Dan, kenapa harus Desi?'' lanjutnya.
Adji menggelengkan kepalanya cepat. Ia harus menepis rasa curiganya itu. Sudah jelas kedatangan Pras ke rumah Desi untuk rasa tanggung jawab akibat cedera yang dialami Desi.
Saat lomba kemarin berakhir, perlengkapan olahraga mereka tinggal di tempat penyimpanan yang ada di gedung tersebut karena langsung mengantar Desi.
''Gantian-gantian!'' seru Pras.
''Kemana aja kok baru datang?'' tanya teman lainnya.
__ADS_1
''Habis dari rumah Desi, kasih plester.'' jawab Pras.
''Awas lho, Pras. Dari luka menjadi cinta, uhuy!'' canda temannya itu.
"Huss!! sekolah yang bener dulu." balas Pras.
Adji yang baru keluar dari mengambil tas raketnya melihat tawa Pras dan beberapa teman lainnya itu.
''Apa yang mereka bahas?'' bathinnya.
Lagi-lagi Adji menepis segala dugaan, ia melanjutkan langkahnya. Mereka bermain bulutangkis sebanyak 4 orang untuk satu lapangan.
Waktu terus berjalan, sudah tengah hari, mereka sudah menyelesaikan tugasnya. Besok tinggal membagikan hadiah-hadiah setelah upacara bendera hari Senin.
Sekolahan kembali kosong dari murid-murid, hanya ada penjaga sekolah yang memang tinggal di dalam sana.
Jam 14.30 WIB, Desi baru saja bangun tidur siang. Ia baru mulai tiduran tadi setelah shalat Dzuhur. Ia keluar dari kamar, dan hendak ke belakang untuk mencuci wajahnya.
''Ini temanmu yang bawa?'' tanya mamak.
''Iya Mak.'' jawab Desi dengan suaranya yang masih lesu.
Mamak masih mengupas buah apel sembari menonton televisi. Sedangkan bapak, sepertinya masih istirahat juga karena Desi belum melihatnya.
''Jam berapa temanmu tadi kesini?'' tanya mamak ketika Desi sudah selesai mencuci wajahnya dan ikut duduk di samping mamak.
__ADS_1
''Yaaa, sekitar tiga puluh menitan dari Mamak pergi ke kebun kayaknya.'' jawab Desi lalu menyomot irisan buah apel yang ada di piring.
''Oooo.'' balas mamak.