
Pertandingan sangat sengit, penonton dibuat tegang oleh poin keduanya yang sangat ketat hingga harus mempertandingkan game ketiga sebagai penentu kemenangan. Game pertama diselesaikan dengan kemenangan Adji dan Desi, dan game kedua, pasangan Pras dan Yulia berhasil menyamakan kedudukan.
Suara para pendukung saling menyeru dan saling bersahutan. Apalagi game ketiga ini pasangan Adji dan Desi sementara unggul dengan poin 19-17, dua poin lagi kemenangan akan mereka dapatkan. Atau dua poin lagi untuk lawan yang akan menyamakan kedudukan lagi.
''Huuuhh, tenang ... sabar ... fokus ... pasti bisa!'' gumam Desi memberikan semangat pada dirinya sendiri yang sangat tegang itu.
Servis siap dilakukan oleh Pras karena sebelumnya Desi melakukan kesalahan saat drop shot justru kelebaran sehingga shuttle cock berada di luar garis. Kesalahan yang dibuat Desi tentu saja menguntungkan bagi lawannya karena mendapatkan tambahan poin.
Permainan kembali berlanjut.
''AWW!'' teriak Desi seketika membuat pertandingan langsung terhenti sementara.
Desi langsung terduduk dengan memegangi kakinya setelah menerima servis flick yang tidak dalam antisipasinya itu. Desi yang belum siap dengan servis panjang ke arah belakang itu dibuat terkejut sehingga harus memutar ke belakang demi mengembalikan shuttle cock.
Ternyata gerakan kakinya salah, kaki Desi terasa sangat sakit. Gadis itu langsung meringis kesakitan sembari mengangkat tangan tanda meminta pertandingan berhenti terlebih dahulu. Shuttle cock juga tidak berhasil masuk ke area lawan.
Adji langsung mendekati Desi yang sudah terduduk. ''Des, kenapa kaki kamu?'' tanyanya panik.
''Mana yang sakit?'' tanyanya dengan raut wajah yang khawatir.
Desi hanya menggeleng sambil tetap meringis menahan sakit di kakinya.
Sementara pasangan lawan belum berani mendekat sebelum mendapatkan izin. Mereka hanya melihat dari seberang net. Keduanya juga tampak khawatir jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada Desi, terutama Pras.
Wasit memanggil PMR untuk segera menangani Desi.
''Lepas aja ya, Des? kamu kelihatan kesakitan banget. Jangan maksain buat lanjut.'' ujar Adji semakin khawatir.
Desi menggeleng lagi. ''Janganlah Ji, nanggung dua lagi.'' jawab Desi masih bersikeras untuk melanjutkan pertandingan meskipun saat ini kakinya masih sulit untuk digerakkan.
Dua murid yang bertugas di PMR pun mendekati Desi dan Adji. Desi sudah melepaskan sepatu dan juga kaos kakinya agar lebih memudahkan untuk ditangani.
''Coba kakinya digerak- gerakkan, Des.'' ujarnya.
Desi langsung nurut, ia menggerakkan kakinya ke kanan dan kiri. Masih sangat nyeri.
''SEMANGAAT DESIIII!!!!'' seru salah satu teman Desi yang sedang menyaksikan pertandingan ini.
''Lepas aja, ya. Nggak papa kok.'' ujar Adji lagi.
"Kita bisa dapatkan dilain waktu." imbuhnya.
__ADS_1
Laki-laki itu tidak tega melihat Desi yang tengah kesakitan pada kakinya.
Kaki Desi masih ia luruskan, sembari petugas dari PMR itu memberikan penanganan pertama.
Huuuhhh
Desi menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mencoba menggerak-gerakkan kakinya dan mencoba untuk berdiri. Belum ada kata menyerah, ia masih tetap ingin melanjutkan pertandingan ini hingga selesai tanpa ada yang mundur sebelum waktunya.
Adji dengan perhatiannya membantu Desi untuk berdiri lagi. Wajahnya terlihat cemas karena Desi masih berusaha menahan rasa sakit.
Desi berjalan sedikit pincang ke arah wasit, ia meminta istirahat terlebih dulu untuk mengambil nafas.
Yang bertugas menjadi wasit adalah salah satu guru olahraganya.
''Maaf Pak, saya akan melanjutkan pertandingan ini. Tapi, sebentaar saya mau minum dulu.'' ujar Desi memohon.
''Kamu yakin?'' tanya guru tersebut.
Desi mengangguk.
Waktu pun diberikan pada kedua pasangan itu. Desi duduk di kursi plastik milik sekolahan yang disediakan untuk pertandingan saat istirahat dan juga meletakkan tas pemain.
''Nggak Ji, nanggung. Nanti tolong cover kemanapun ya. Aku mau berusaha.'' paksa Desi yang masih kekeuh.
''Adji ... please ... aku mohon banget, ini kesempatan pertamaku.''
Adji tidak tega membujuk lagi untuk Desi menyudahi pertandingan ini. Kegigihan dari Desi membuatnya mengiyakan.
''Baiklah, kalaupun nanti ada apa-apa sama kamu, tolong jangan maksa lagi. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.''
Desi mengangguk, "Terima kasih partner andalan." ucap Desi yang membuat Adji tersenyum.
Sedari tadi Pras dan Yulia menatap khawatir dan juga tidak enak. Namun, tetap belum ada izin untuk mendekati.
''Pertandingan akan dilanjutkan lagi!'' seru wasit saat Desi sudah siap.
Penonton bertepuk tangan memberikan dukungan penuh. Terutama seruan kalimat penyemangat untuk Desi.
Poin bertambah untuk pasangan lawan, menjadi 19-19 karena jauh dari jangkauan Desi, sedangkan Adji sudah terlanjur berada di belakang ketika sebelumnya melakukan sebuah smash.
Desi mencoba tenang, justru Adji yang tidak bisa tenang karena langkah Desi terlihat sangat berat. Seorang Desi yang biasanya mau pontang panting, sekarang menjadi berbeda.
__ADS_1
''Maaf.'' ucap Desi.
Game berlanjut, rally terjadi dan kesempatan untuk Adji melakukan sebuah smash ternyata berhasil dengan baik. Shuttle cock jatuh di tengah-tengah antara Pras dan Yulia, keduanya terlihat salah komunikasi sehingga tidak ada yang menangkisnya.
20-19
Satu lagi untuk mendapatkan kemenangan. Namun, game belum berakhir, semuanya bisa saja terjadi.
Desi melakukan servis dan diarahkan pada Pras. Pengamatan yang sangat baik, shuttle cock tersebut tidak sampai sehingga poin gratis untuk lawan.
Desi menepuk keningnya sendiri karena ceroboh.
''Maaf, Jiiiii.'' ucap Desi.
Adji menepuk-nepuk pelan bahu Desi. ''Nggak papa.'' jawabnya dengan tersenyum.
20-20
Poin semakin ketat, ketegangan terjadi antara kedua pasangan dan juga para penonton. Apalagi poin sudah adu setting.
Pertandingan semakin seru dan menegangkan. Poin lawan berbalik unggul, Desi hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam agar bisa melakukan yang terbaik semampunya untuk saat ini.
''SELESAI!'' seru wasit.
Pertandingan berakhir dengan skor tipis dan ketat, yakni 20-22.
Pras langsung menangkup wajahnya mengucap syukur. Ia tidak melakukan selebrasi berlebihan karena mengingat lawannya tidak dalam kondisi baik. Apalagi dirinya lah yang menyebabkan hal itu terjadi.
Permainan akhirnya selesai, Adji dan Desi hanya bisa tos karena harus puas dengan posisi runner up.
Yulia langsung menghampiri Desi dan memeluknya. Begitu juga dengan Pras, ia menyalami lawan dan mengucapkan terima kasih atas permainan yang luar biasa.
Meskipun lawan saat di lapangan, diluar pertandingan, mereka tetaplah teman.
''Maaf, Des.'' ucap Pras.
Desi hanya tersenyum.
''Aman, selamat ya untuk kalian.'' ucap Desi menatap Pras dan Yulia secara bergantian.
Pertandingan penutup final hari ini akhirnya selesai. Yulia langsung membantu Desi untuk duduk di kursi. Penyerahan hadiah tidak langsung diberikan pada hari ini. Namun, akan ada penyerahan hadiah pada hari Senin setelah pelaksanaan upacara bendera.
__ADS_1