Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 17 : Aku Merasa Bersalah (Bonus Visual)


__ADS_3


Adji-Desi-Pras


CIMAI MOHON MAAF YA KALAU ADA YANG KURANG COCOK HEHE 🙏


...*******...


Kedua bola mata Desi langsung terbelalak. Secinta apapun dia dengan laki-laki ini, tidak mungkin ia akan macam-macam demi membuktikan rasa cintanya.


Pikiran Desi sudah langsung lari ke hal-hal negatif, bahkan ia spontan menarik kakinya, badannya juga spontan mundur.


''Eh, mau ngapain?!'' pekik Desi langsung sedikit mundur. Wajahnya pun sudah menunjukkan raut khawatir.


"Aduh!'' rintih Desi sembari memegangi kakinya.


"Kamu kenapa, Des?'' tanya Pras tanpa rasa bersalah.


Desi melotot lagi, bisa-bisanya laki-laki itu tidak menyadari.


''Berikan kakimu.'' ujar Pras tanpa menunggu jawaban Desi.


''Untuk apa?'' tanya Desi.


''Sinikan dulu, hati-hati. Kamu juga kenapa langsung gerak begitu? pasti sakit lagi, 'kan?''


Kedua alis Desi langsung menyatu mendengar omelan itu. ''Dia ngomel apa perhatian sih?'' bathin Desi.


Dengan rasa ragu, Desi memajukan kakinya lagi. Pras meraihnya dan meletakkan diatas pahanya.


''Kamu mau ngapain? apa itu?!'' pekik Desi lagi.


"Astaghfirullah, Desi ... aku mau masang ini.'' ujar Pras, lalu mengambil sesuatu dari dalam sakunya.


Desi memperhatikan apa yang ada ditangan laki-laki itu.

__ADS_1


''Aku sedikit belajar tentang ini, dan dulu aku dikasih sama pelatihku.'' jelas Pras.


''Maaf.'' ucap Pras sebelum memasangkan plester itu.


Desi mengangguk, ia memandangi sisi wajah Pras yang tengah menunduk. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Kinesio tape, tentu saja tidak sembarang orang bisa memasangnya. Pras pernah berlatih dengan seseorang yang sudah pernah menjadi atlit tim nasional. Pras juga sudah diajari cara memasangnya agar tidak salah.


Desi menyebutkan plester untuk atlit. Benda itu cukup membantu kekuatan otot-otot yang mengalami cedera.


Keduanya sama-sama diam, Pras sedang memasang plester itu dengan hati-hati.


''Terima kasih ya, Pras.'' ucap Desi sedikit gemetar setelah Pras menurunkan kakinya.


Pras mengangguk.


''Kalau ada apa-apa dengan kaki kamu, jangan lupa hubungi aku.'' ujar Pras setelah kembali duduk.


''Iya.'' jawab Desi.


Pras juga langsung terkekeh pelan karena baru menyadari hal itu.


''Mana hpmu?'' Pras menyodorkan tangannya.


Desi langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel.


Pras mengetikkan sesuatu di dalam ponsel Desi. Tak lama kemudian ia langsung mengembalikan pada pemiliknya.


''Sudah ku test buat ngirim pesan di hpku, nih ya sudah masuk.'' ujar Pras menunjukkan layar ponselnya dan ada pesan masuk dari nomor Desi.


''Iya.'' jawab Desi


''Kalau gitu, aku izin pamit dulu, Des. Kamu cepat sembuh supaya bisa bermain bulutangkis lagi, nanti sekali-sekali kita partneran.'' ujar Pras sembari mengenakan jaketnya.


''Oh, hehe''

__ADS_1


''Iya, aamiin ... terima kasih ya, Pras.'' ucap Desi dan dibalas anggukan kepala oleh Pras.


''Mau mampir ke sekolahan dulu ini.'' ujar Pras.


''Oh, iya, salam buat teman-teman yang masih bertugas.'' balas Desi.


Pras mengangguk lagi.


Desi mengikuti Pras yang sudah beranjak dari duduknya. Dengan langkahnya yang belum normal ia mengikuti Pras yang sudah berdiri di dekat pintu.


''Semoga benar-benar nggak parah ya, Des. Aku merasa bersalah banget sama kamu.'' ucap Pras lagi sembari menepuk pundak Desi.


Desi justru malah mematung dan tidak menjawab apapun. Hanya anggukan kecil tanpa ia sadari.


''Pulang dulu.'' ujar Pras.


''Eh, iya, hati-hati dijalan, Pras.'' balas Desi.


Pras tersenyum tipis lalu keluar dari rumah Desi.


Desi masih berdiri di tengah pintu, ia menunggu sampai Pras pergi dari sana.


Dengan tanpa disadari, Desi melambaikan tangan. Pras membalasnya sekilas dengan mengangkat tangan lalu menurunkan kaca helmnya.


''Pras dadah ke aku?'' bathin Desi.


Desi pun langsung tersadar, justru tangannya masih melambai-lambai.


''ASTAGHFIRULLAH ... DESIIIII!!!!'' seru Desi langsung memukuli tangannya sendiri yang tidak bisa terkontrol itu.


''Dasar malu-maluin!'' omel Desi pada tangannya sendiri.


Desi langsung masuk ke dalam rumah, menutup pintu ruang tamu dan menguncinya rapat. Ia merutuki dirinya sendiri sembari memukuli tangannya lagi yang tidak terkontrol itu.


''Pasti Pras akan menilaiku seorang gadis yang tidak waras. AARRRGGGHHH Desiiii!!!''

__ADS_1


__ADS_2