Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 21 : Jadikan Itu Kenyataan


__ADS_3

Pras yang sudah selesai memasangkan plester di kaki Desi pun langsung pamit setelah tidak lama dari kedatangan Adji. Ia pergi bersama Yulia yang tadi menyusulnya.


Murid-murid sudah mulai berkumpul di halaman sekolahan. Salah satu guru mengatur barisan para murid-murid, begitu juga dengan Pras yang siap merapikan barisan sebelum upacara bendera di mulai.


''Sedihnya nggak bisa ikut upacara.'' gumam Desi menatap teman-temannya dari dalam kelas.


Tatapan itu tertuju pada sosok yang satu tahun belakangan ini hanya menjadi teman biasa, sekedar disapa sudah membuatnya bunga, padahal sapaan itu karena mereka berada di dalam organisasi yang sama.


Sebenarnya, bukan hanya saat mereka sama-sama menjadi anggota osis saja momen kebersamaan itu terjadi, tetapi saat kegiatan ekstrakurikuler dan terpilihnya sebagai anggota pasukan bendera tingkat kecamatan pada waktu kelas X. Dari beberapa sekolahan tingkat menengah atas, dari SMK ini di ambil 6 murid. Seleksi yang tidak mudah dan diikuti oleh banyak murid, akhirnya 6 murid terpilih, diantaranya ada Pras, Desi, Adji, dan 3 lainnya.


''Rasanya seperti mimpi, Pras. Kita sudah kenal lama, kita sudah seringkali di momen yang sama. Tapi, kamu seperti alergi sama perempuan. Hanya dengan Yulia kamu bisa seakrab itu, Pras. Senyum kalian pun sangat mirip, apalagi pas senyum kelihatan giginya. Kalian berdua itu benar-benar definisi jodoh, karena sangat mirip.'' bathin Desi.


Upacara bendera sudah di mulai, Desi hanya bisa menatap dari dalam kelas. Matanya pun jadi mengantuk dibuatnya. Lama sekali belum selesai-selesai.


Pukul 08.05 WIB, akhirnya upacara bendera itu selesai. Bendera merah putih sudah berkibar dengan baik.


''Ngantuk, Des?'' tegur Adji yang pertama kali masuk ke dalam kelas.


Desi langsung mengerjapkan kedua matanya.


''Banget, Ji. Beneran deh, mending ikut upacara aja, daripada duduk diam sendirian kayak anak hilang.'' jawab Desi jujur.


Adji tertawa kecil, lalu menarik bangku disebelah Desi. Pemilik bangku tersebut masih berada diluar kelas.


''Siska mana?'' tanya Desi celingukan.


''Lagi nyiapin podium sama anak-anak osis lainnya.'' jawab Pras.

__ADS_1


Desi hampir melupakan kalau sekarang momen pengambilan hadiah.


''Oh iya, lupa, hehe.''


Pemberian hadiah yang tadinya akan dibagikan langsung setelah upacara selesai, berubah akan diadakan di dalam gedung serbaguna. Anggota osis sudah menyiapkan podium untuk para pemenang, agar terlihat seperti pertandingan yang sesungguhnya.


''Ya sudah ayo kesana, Pras.'' ujar Desi.


''Pras?'' balas Adji.


''Eh, Adji, maksudku. Maaf Ji, maaf kebetulan tuh si Pras lewat.'' tunjuk Desi dengan asal.


Adji menoleh dan mengikuti jari telunjuk Desi, tidak ada sosok Pras disana.


''Mana?'' tanya Adji.


Adji tersenyum tipis lalu mengangguk kecil.


''Ayo ke gedung.'' kali ini gantian Adji yang mengajak.


''Bisa jalan, 'kan?'' tanya Adji.


''Bisaaa, aman terkendali.'' jawab Desi.


Gadis itu beranjak dari bangkunya dengan hati-hati, sebelum memulai langkahnya, ia lebih dulu menggerak-gerakkan kakinya.


''Yuk.'' ajak Desi ketika sudah siap untuk melangkah.

__ADS_1


Desi berjalan dengan pelan, kakinya yang pincang menjadi pusat perhatian murid-murid sekolahan tersebut. Tetapi Desi tidak mempedulikan, mereka semua juga sudah tau apa penyebabnya.


''Kalau kamu kesulitan, biar aku gendong aja, Des.'' cetus Adji.


Desi langsung tertawa.


''Yang ada malah jadi bahan gosip, Ji.'' bisik Desi.


''Kalau gitu jadikan itu kenyataan, Des, bukan hanya gosip.'' balas Adji.


Desi langsung menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Adji. Kedua remaja itu saling menatap.


''Aku lagi becanda, Des. Serius banget mukamu.'' ujar Adji.


''Ooohh, hehe.'' balas Desi.


Desi kembali melanjutkan langkahnya yang pelan-pelan. Adji masih setia membersamai langkah temannya itu.


Tak lama kemudian, mereka tiba di dalam gedung. Adji langsung mencarikan kursi agar mereka duduk paling depan.


''Terima kasih, Ji.'' ucap Desi sembari menduduki kursi plastik itu.


''Sama-sama.'' jawab Adji.


Arah pandangan Desi lagi-lagi tertuju pada pintu masuk gedung tersebut yang sangat lebar. Ia melihat Pras dan Yulia yang kembali bersama. Kedua remaja itu masuk dengan saling melemparkan candaan.


''Harusnya aku yang disana, dampingimuuuu ...''

__ADS_1


Ah, sayang sekali Desi tidak hafal lanjutannya lagu itu, padahal cocok untuk ia nyanyikan saat ini. Meskipun ia hanya menyanyi lewat bathin.


__ADS_2