Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 8 : Kita Pasti Bisa, FIGHTING!


__ADS_3

Setelah melalui berbagai rangkaian latihan rutin. Mulai dari melatih skill, fisik, dan memperkuat faktor nonteknis. Akhirnya perlombaan siap di mulai esok hari.


Antara yakin dan tegang yang saling beradu di pikiran Desi. Dia sangat gugup, tetapi rasa semangat tidak pantang menyerah selalu ia utamakan.


Desi menatap langit-langit kamarnya yang tanpa plafon itu. Di pandanginya cicak yang kebetulan melintas di kayu ring penyangga genteng atap rumahnya.


''Cak, cak! bisa nggak jangan pup sembarangan!'' protes Desi dalam hati.


Lewatnya cicak itu membuat pikiran Desi buyar karena telah memberikan kejutan berwarna hitam putih di sampingnya. Untung saja tidak mengenai badan Desi ataupun wajah.


Mau tidak mau Desi harus beranjak dari kasurnya untuk membersihkan kotoran itu.


''Tidur Mak.'' ujar Desi yang melihat mamak masih setia dengan sinetronnya.


Sinetron yang alur ceritanya semakin menguji emosional penonton. Tapi, tetap menjadi kesayangan para mamak-mamak.


''Belum selesai.'' jawab mamak tanpa menoleh karena masih fokus.


''Hmmmmm.'' balas Desi lalu masuk ke dalam kamar dengan menenteng gayung berisi air yang sudah di kasih sabun.


Desi langsung membersihkan kain sprei itu dari kotoran cicak.


"Ok beres."


"Awas ya cak kalau pup nggak lihat-lihat tempat! tak panggilkan Samsul!" ancam Desi.


Sedangkan yang mendapatkan ancaman mungkin sedang bersiap-siap untuk menerima kejutan-kejutan berikutnya. Dasar binatang.


Samsul adalah nama seekor kucing jantan yang terkenal bar-bar karena generasi oren.


°°


Sebelum berangkat ke sekolah, Desi mengisi perutnya dengan sepiring nasi. Segugup apapun, ia harus sehat dan kuat. Tidak boleh membuat kecewa siapapun.


''Do'akan lancar ya Pak, ya Mak.'' pinta Desi setelah selesai menyantap menu sarapannya.


Karena setiap langkah yang kita ambil tidak akan baik jika tanpa ridho dari sang Pencipta melalui kedua orangtua kita.


''Pasti Des, semoga lancar.'' ujar mamak.


''Aamiin.'' balas Desi.


''Jangan sampai mudah buang poin. Intinya jangan sampai lawan dapat poin dari eror kamu. Semangat dan atur strategi dengan baik, jangan sampai cedera.'' tutur bapak.


Desi menjadi sangat tersentuh.


''Iya Pak. Siap laksanakan.'' balas Desi yang ditutupi dengan tawa. Padahal dalam hatinya ia ingin menangis karena terharu dengan pesan yang bapak ucapkan untuknya.


Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Dan Desi sangat bersyukur meskipun tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik-Nya.


Tin tin


''Siska datang tuh.'' ujar mamak.


''Berangkat dulu Mak, Pak.''


''Iya hati-hati.'' ucap keduanya.

__ADS_1


''Assalamu'alaikum.'' ucap Desi.


''Wa'alaikumussalam.''


Karena bukan hari biasa, Desi ikut lomba, sedangkan Siska menjadi panitia, jadi mereka berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya.


''Semangat sekali Desiana Putri.'' seru Siska melihat penampilan Desi bak seorang atlit sungguhan.


''Ya dong pastinya haha.''


''Foto bentar yuk.'' ajak Siska.


''Oke.''


Desi dan Sisma melakukan foto beberapa, dari yang berdua, sendiri-sendiri, sampai foto berdua dari jarak jauh dengan menggunakan timer karena tidak ada yang memotretnya.


''Bagus-bagus, sip.'' ucap mereka setelah melihat hasil jepretannya.


''Nanti kirim ya Sis.'' pinta Desi.


''Oke.'' jawab Siska.


''Nanti tak kirim kalau sudah di sekolahan ya, sekarang ayok berangkat.'' ajak Siska.


''Oke.'' jawab Desi dan langsung naik di jok belakang motor Siska.


Kedua gadis itu tertawa bersama sembari tancap gas menuju sekolahan.


Di sekolah sudah ada beberapa murid yang datang, tentu saja mereka yang memiliki tugas. Dari anggota osis dan beberapa yang mengikuti lomba.


Desi dan Siska langsung berpisah karena memiliki tugas yang tidak sama. Siska menuju ke ruang panitia, sedangkan Desi ke gedung tempat di selenggarakan perlombaan badminton.


''Woy.'' balas Adji.


Adji baru turun dari motornya dan tampak celingukan. Desi yang melihat kedatangan Adji langsung memanggil.


Adji pun langsung berjalan cepat ke arah dimana Desi berdiri.


''Lah tadi aku ke rumahmu Des, ternyata sudah berangkat. Semangatnya top markotop.'' puji Adji mengangkat kedua jempolnya.


''Bisa aja.'' balas Desi dengan menepuk pundak temannya itu.


Keduanya terkekeh bersama sembari berjalan masuk ke dalam gedung itu.


''Berangkat sama siapa?'' tanya Adji.


''Biasalah siapa lagi kalau bukan sama Siska.'' jawab Desi.


''Oh ya tadi kamu bilang ke rumahku?'' tanya Desi.


''Iya, pas kebetulan bapak mertua mau berangkat ke kebun. Katanya kamu sudah berangkat.'' jawab Adji dengan santainya.


''Hehhh ngawur!! mertua-mertua!'' protes Desi beralih menepuk lengan temannya itu.


Haha


Adji langsung tertawa setelah mendapatkan protes dari pasangannya itu.

__ADS_1


''Jangan sakiti aku Des, nanti nggak bisa smash kenceng loh.''


''Hilih alasan.'' balas Desi dan kembali menepuk lengan Adji lebih keras.


''Justru tepukan Desi ini bikin Adji makin kenceng smashnya, biar kayak smash kerasnya babah Ahsan haha''


''Itu kedengarannya lebih seperti ledekan ya say.'' ujar Adji.


Desi langsung tertawa.


Sirine dari kantor sekolahan sudah berbunyi, tanda untuk berkumpul di halaman sekolah guna membuka acara ini.


Seluruh murid berkumpul menjadi satu, dari kelas X hingga kelas XII. Dari panitia, peserta lomba, dan juga para murid yang tidak mengikuti lomba alias siap menjadi pendukung masing-masing wakil dari kelasnya.


Kepala sekolah memberikan sambutan untuk pembukaan acara sederhana ini.


''Meskipun perlombaan ini hanya bersifat internal, saya berharap kalian benar-benar menunjukkan kemampuan terbaik kalian. Karena disini juga akan dilakukan seleksi untuk bidang olahraga yang akan dikirimkan nanti saat gebyar SMK yang dilaksanakan tahun depan, dimana jadwal itu terpaksa mundur cukup jauh dari jadwal sebelumnya.'' seru kepala sekolah tersebut.


''Tapi, pihak sekolah kita dan SMK lainnya menghormati keputusan dari pihak SMK yang akan menjadi tuan rumah. Saya harap, dengan mundurnya jadwal tersebut bisa kalian manfaatkan untuk berlatih lebih keras lagi agar mendapatkan hasil yang maksimal.''


Para murid yang ikut lomba pun semakin semangat mendengar seruan dari kepala sekolah.


''Baiklah anak-anak, untuk mempersingkat waktu, sepertinya hari ini cuaca juga sangat cerah sekali. Acara memperingati hari Pekan Olahraga Nasional selama tiga hari ke depan saya buka!''


Gemuruh suara tepuk tangan di halaman sekolah tersebut sangat serempak.


Sambutan pun selesai, semua panitia langsung ke tempatnya masing-masing. Sementara para peserta lomba juga sudah menuju ke tempat dilaksanakannya lomba masing-masing cabang. Dari futsal, badminton, dan bola voli.


Adji dan Desi mendapatkan urutan main kedua setelah pasangan ganda putra yang mempertemukan antara wakil kelas XI jurusan teknik kendaraan ringan dan kelas X jurusan perkantoran.


Pendukung dari masing-masing sudah siap dengan seruannya untuk memberikan dukungan.


Karena bermain kedua, Adji dan Desi sudah bersiap-siap dengan melakukan pemanasan ringan di belakang.


''Gugup banget Des, asli.'' ujar Adji jujur seraya menarik nafasnya dalam-dalam sampai berkali-kali.


''Tenang Ji, kita pasti bisa. FIGHTING!!'' seru Desi.


Adji melihat ekspresi semangat dari Desi membuatnya terkekeh. Gadis itu benar-benar selalu tampil all-out meskipun sama-sama merasa gugup.


''SEMANGAATT!!''


Keduanya langsung tertawa dan melakukan tos untuk memberikan semangat.


Dari kejauhan mereka menonton pertandingan ganda putra itu, terlihat sama-sama ngotot untuk memenangkan pertandingan.


''G1laaa!! keren bangeettt!!''


Tentu saja mereka mempelajari teknik bermain dari pemain lain.


Berdasarkan undian, pasangan Adji dan Desi tidak berada di pool yang sama dengan kelas Pras. Mereka bisa saja bertemu di final asalkan bisa menyingkirkan pemain lainnya.


Saat setelah mengetahui undian itu, rasa semangat Desi semakin meningkat. Ia sangat berharap bisa sampai final dan juara, meskipun melawan yang lain. Bertemu dengan Pras di final adalah suatu anugerah.


Karena tidak banyak pasangan, pertandingan ini juga tidak banyak melewati tahapan-tahapan.


''Dimenangkan oleh Angga Haryadi dan Ariyadi dari kelas X perkantoran.'' seru wasit menyudahi pertandingan pertama ini.

__ADS_1


Kedua pasangan itu langsung saling bersalaman tanda permainan selesai. Meskipun menjadi lawan di lapangan, setelah selesai mereka tetaplah saling berteman.


Wajah-wajah dua murid laki-laki yang baru saja memenangkan pertandingan itu sangat sumringah. Mereka melambaikan tangan ke arah penonton yang merupakan teman-teman sekelasnya dan sedari tadi tidak henti-hentinya mengeluarkan suara untuk memberikan dukungan penuh.


__ADS_2