Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 32 : Latihan


__ADS_3

''Eh, maaf, Pras, aku nggak lihat.'' ucap Desi.


Di waktu yang bersamaan, Adji yang tadinya masih di dalam kelas hendak keluar, tetapi melihat Pras dan Desi di sana membuatnya kembali masuk ke kelas.


''Aku perhatikan, kaki kamu sudah sembuh ya, Des?'' tanya Pras sembari menatap kaki Desi.


''Iya alhamdulillah, Pras.'' jawab Desi ikut tersenyum.


''Alhamdulillah, aku juga lega, Des.'' balas Pras yang selama ini masih dihantui rasa bersalah.


''Ya sudah kalau gitu, aku mau ke kantin beli minum.'' pamit Pras.


''Oh, iya.''


Pras meninggalkan Desi yang masih berdiri di teras. Sementara gadis itu langsung menunduk untuk menyembunyikan senyumnya yang lebar. Setelah senyumnya bisa terkendali, Desi langsung masuk ke dalam kelas.


Istirahat kali ini Desi tidak ikut ke kantin, ia membawa bekal. Di kelasnya hanya ada beberapa orang, karena yang lain sudah ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan, termasuk Siska.


Setelah berhasil mengambil beberapa gambar dan video, Desi baru membuka bekalnya. Baru saja mau menyendok, Adji duduk di bangku Siska.


''Eh, Adji, kebiasaan deh!'' protes Desi.


Adji hanya terkekeh.


''Kamu nggak ke kantin, Ji?'' tanya Desi.


''Nggak, lagi malas.'' jawab Adji.


''Kayaknya enak tuh.'' sindir Adji karena tidak ditawari bekal Desi.


Hahaha


Desi langsung tertawa terbahak-bahak karena memang tidak sadar belum memberikan penawaran.


Teman-temannya yang lain sudah biasa melihat Adji yang sering menghampiri dimana Desi berada. Mereka juga sudah sering menggodai dua anak muda itu. Tapi, respon Desi selalu membantah, sementara Adji hanya senyum-senyum saja.

__ADS_1


''Makan Ji, masakan mamakku. Emmm, tapi, dikit bawanya, kamu kalau cuma mau coba boleh dikit aja, kalau banyak-banyak nanti aku nggak jadi makan, haha''


Desi kembali tertawa karena terpaksa harus jujur.


''Coba lagi deh masakan ibu mertua, beneran boleh 'kan?'' tanya Adji.


''Hmmm, iya dikit ya.''


Adji terkekeh lagi mendengar peringatan dari Desi.


''Iya Beb.'' jawab Adji.


''Kamu dulu aja.'' suruh Adji karena Desi menggeser wadah bekalnya itu ke depannya.


''Nggak papa kamu aja yang duluan, aku bawa dua sendok kok.'' balas Desi.


Mereka pun makan sembari mengobrol, meskipun hal yang tidak baik, tetapi masih tetap saja dilakukan sampai makanan itu dihabiskan oleh Desi sendiri. Adji hanya menyuap dua sendok saja, karena Desi memang membawa sedikit.


Jam pelajaran terakhir hari ini ditutup dengan mata pelajaran yang sangat membuat pusing, yaitu mengenai surat menyurat. Semua buku besar dan kecil sudah ada di atas meja.


''Hayo itu yang ngantuk, siap-siap untuk mendapatkan tugas!'' tegur guru tersebut.


Murid yang mengantuk tersebut pun langsung di senggol oleh teman sebangkunya. Ia langsung nyengir dan berusaha untuk fokus.


''Materinya untuk surat tidak terlalu banyak, mulai minggu depan kita praktik langsung menurut kelompok yang sudah di bentuk ya.'' ujar guru tersebut.


''Baik, Buuuuu.'' jawab murid-murid kompak.


Selesai menerangkan pelajaran hari ini, guru tersebut meminta anak didiknya untuk menyatat yang sudah ia rangkum.


Vina langsung menuliskan rangkuman itu ke bukunya. Ia senang jika harus langsung praktik, karena lebih mudah untuk memahami daripada hanya mendengarkan teorinya saja.


Tepat pukul 14.00 WIB, sirine di sekolah sudah dibunyikan sebagai tanda jam pelajaran telah berakhir.


''Sampai disini dulu ya, anak-anak. Pulang sekolah langsung ke rumah masing-masing, jangan pada keluyuran.'' ujar guru tersebut.

__ADS_1


''Baik, Buuuuu''


Semua kelas sudah berhamburan keluar. Yulia berlari kecil ke arah parkir karena Desi sedang menunggu Siska yang masih mengambil motor.


''Des, mau ikut latihan nggak?'' tanya Yulia.


''Hah? tapi, aku nebeng sama Siska.'' jawab Desi.


''Emm, kalau kamu mau, nanti aku antar pulangnya.'' ujar Yulia.


''Sebentar ya aku bilang dulu sama Siska.''


Yulia mengangguk.


Desi langsung mendekati Siska yang masih menunggu pemilik motor yang parkir di belakang motornya.


''Sis, Yulia ngajakin latihan, nanti dia mau ngantar aku.'' ujar Desi.


''Ya, nggak papa, Des. Ikut aja tapi, jangan berat-berat dulu ya.'' balas Siska.


''Siap, Bos! thank you.'' ucap Desi.


''Kalau gitu kamu langsung pulang aja, aku sama Yulia dulu ya.'' pamit Desi.


''Okay.'' balas Siska.


Desi kembali ke tempat Yulia berdiri.


''Oke Yul, tapi, aku belum shalat Dzuhur, Yul. Soalnya kebiasaan kalau nggak ada jadwal tambahan, shalatnya di rumah, hehe''


''Iya, nggak papa, lagian nungguin si Pras juga masih di kantor.'' jawab Yulia.


Desi tersenyum tipis.


''Aku ke masjid dulu.'' pamit Desi.

__ADS_1


Yulia mengacungkan jempolnya. Ia juga langsung ke gedung yang akan digunakan untuk latihan nanti.


__ADS_2