
3 bus pariwisata sudah terparkir di lapangan seberang sekolahan. Para murid sudah mulai berdatangan ketika ba'da shalat isya. Kebanyakan dari mereka datang dengan diantarkan oleh anggota keluarganya, ada juga yang datang membawa motor sendiri. Tapi, lebih banyak yang diantar, mengingat motor akan ditinggal di sekolahan.
Semua nama sudah di daftar agar tidak saling berebut. Nomor diurutkan berdasarkan urutan pembayaran. Untung saja Desi memiliki tabungan yang memudahkan ia untuk membayar lebih cepat, meskipun tidak mendapatkan bangku paling depan, setidaknya bukan paling belakang.
''Mak, Pak, aku ke sana dulu.'' pamit Desi pada kedua orangtuanya itu.
''Iya, kita tunggu disini.'' jawab bapak.
Desi mengangguk. Orangtuanya belum akan kembali ke rumah kalau mobil rombongan itu belum berangkat.
Sebelum berangkat meninggalkan sekolahan, para murid dan semua rombongan diminta untuk berkumpul di gedung sekolah. Di sana akan dilakukan do'a bersama agar perjalanan lancar tanpa ada kendala apapun.
''Untuk anak-anak, tolong jangan ada yang berpisah dari rombongan. Tempat duduk sudah diatur, jadi Bapak mohon tidak ada yang saling berebut. Jangan buang sampah sembarangan, baik di perjalanan maupun saat kita sampai di tempat tujuan. Di mobil disediakan tempat sampah, dan ketika sudah turun, cari tempat sampah yang sudah disediakan juga. Jaga kebersihan mulai dari diri kita sendiri.'' tegas kepala sekolah.
__ADS_1
BAIK PAAAAK..
''Bismillahirrahmanirrahiim, semoga perjalanan kita diberikan kelancaran tanpa kendala apapun. Kita berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Esa. Kita berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.''
Semua langsung mengangkat tangan, mereka berdo'a dengan cara yang berbeda-beda. Memang mayoritas diisi oleh umat Islam. Yang pasti, mereka menjunjung tinggi toleransi.
...
Bus pariwisata mulai meninggalkan lapangan. Lampu di dalam mobil masih dinyalakan karena para anak-anak masih saling melambaikan tangan pada keluarganya yang mengantar.
Lampu dimatikan ketika bus sudah berada di jalan raya. Suara-suara di dalam bus masih terdengar semangat. Belum ada yang terlihat mengantuk meskipun ini waktu memasuki jam istirahat malam.
Sebagai anak zaman sekarang, tentu banyak yang langsung update di story sosial media masing-masing.
__ADS_1
Sebuah kebetulan, bangku yang di acak itu, Desi bisa duduk bersama dengan Yulia. Sementara Siska malah dua bangku di belakangnya. Sementara Pras ada di belakang Desi pas.
Desi teringat, saat membayar memang bersamaan dengan Yulia. Mungkin itu yang membuat keduanya duduk bersebelahan.
''Mau tukar duduk sama Pras kah?'' tanya Desi.
''Ah, enggak ah, biar aja Pras sama si Dharma.'' jawab Yulia.
Desi yang berpikiran dan membuat kesimpulan bahwa Yulia dan Pras berpacaran tentu sempat terpikir keduanya ingin duduk berdampingan. Tapi, ternyata Yulia menolaknya dan tetap sesuai dengan nomor yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah. Tak apa, yang penting sudah menawarkan diri, daripada nanti Yulia atau Pras yang lebih dulu mengusirnya, kan jadi lebih sakit, hehe.
Perjalanan malam baru di mulai, jarak tempuh sekitar 4 jam dari desa tersebut untuk sampai di lokasi tujuan pertama, yaitu museum.
Suara berisik, dari saling mengobrol, ada yang menyanyi, satu persatu mulai sunyi, Desi sendiri sudah terlelap dalam tidur. Ia duduk di bangku pinggir kaca. Ia pun menyandarkan bantal lehernya itu disana dan mengangkat kakinya karena dingin. Mobil yang full AC dan perjalanan malam membuat suhu semakin dingin, padahal Desi sudah mengenakan cardigan rajut dan juga kaos kaki.
__ADS_1