
Namanya anak sekolah, sudah pasti hari-harinya akan di penuhi dengan berbagai macam tugas yang di berikan oleh guru di setiap mata pelajaran. Tugas satu belum kelar, sudah muncul lagi tugas lainnya yang tidak kalah membuat kepala terasa mau pecah.
Tepat enam hari setelah kejadian final itu, kaki Desi sekarang sudah sembuh. Ia sudah bisa berjalan dengan normal. Rasa bahagia itu tidak bisa di gambarkan dengan banyaknya kata-kata.
''Alhamdulillah sudah nggak pincang lagi.'' gumam Desi sembari menekuk-nekuk kakinya di depan cermin.
Ya, sepertinya Desi sendiri pun baru menyadari kesembuhan itu.
''Ok mantap.'' gumamnya lagi.
Desi memberitahukan kepastian itu pada kedua orangtuanya. Mereka sangat senang, karena yang namanya orang tua sudah pasti akan merasa sedih jika melihat anaknya sakit.
''Alhamdulillah, yang penting untuk nanti-nanti lagi, harus lebih hati-hati. Tetap jangan menyepelekan.'' ujar bapak.
''Siap, Pak.'' jawab Desi.
''Yang penting nggak dilarang main badminton ya, Pak, Mak, hehehehehe''
Desi merayu bapak mamaknya agar olahraga favoritnya itu tidak dilarang untuknya.
"Nggaak.'' jawab mamak dan bapak secara bersamaan.
Desi langsung mengucapkan terima kasih dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
Hari kemarin masih terasa sedikit pincang, tapi, setelah shalat subuh tadi, Desi yang berjalan ke tempat gantungan mukena menyadari kalau langkahnya sudah biasa saja. Semua itu memang sudah di tentukan oleh yang maha kuasa. Desi dan kedua orangtuanya sangat mensyukuri.
Jam 07.12 WIB, Desi sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia menunggu Siska sembari menonton televisi.
Betul betul betul
Suara dari televisi itu sangat Desi sukai. Si anak kembar yang lucu dan cerdas.
Tin
Suara klakson langsung memhentikan tawa Desi yang masih menatap layar televisi. Ia langsung meletakkan remote itu ke meja, kemudian berpamitan pada mamak yang masih di belakang.
''Wiihhh, sudah sembuh, Des?'' tanya Siska ketika temannya itu berada di tengah pintu.
''Alhamdulillah, Sis ... aku juga nggak nyangka, padahal kemarin masih sedikit pincang, 'kan?'' jawab Desi.
''Iya benar.'' balas Siska yang juga memperhatikan setiap perkembangan kaki Desi.
''Tadi selesai shalat subuh, aku baru sadar kalau kakiku sudah sembuh.''
''Mukjizat tuh, Des.''
''Iya, Sis.'' balas Desi.
__ADS_1
''Ya sudah ayo berangkat sekarang.'' sambung Desi.
Siska langsung memutar arah motornya.
Desi menutup pintu rumahnya, kedua gadis itu langsung menuju ke sekolahan. Rutinitas sehari-hari anak remaja tentu saja antara rumah ke sekolahan, balik lagi, sampai seterusnya.
--
Momen masa sekolah menengah atas, konon katanya momen emas anak sekolah. Hal itu juga yang di rasakan oleh Desi. Ia sudah mulai mengetahui mana teman yang benar-benar baik, atau sebaliknya.
''Foto-foto terus.'' tegur murid kelas sebelah yang kebetulan lewat di belakang Desi yang tengah memotret.
Desi tidak tersinggung karena teguran itu di katakan dengan nada yang tengah becanda.
''Awas ya kalau sudah lulus nanti, minta foto-fotonya ke aku.'' balas Desi.
Foto dan video yang ia rekam, kelak akan menjadi bukti betapa indahnya masa sekolah ini.
Desi mengantongi ponselnya kembali ke dalam saku almamater berwarna biru dongker itu.
''Sudah?'' tanya seseorang yang berada di depan Desi, hampir saja gadis itu menabraknya karena tengah fokus melihat hasil jepretannya. Baru juga hp itu masuk ke saku, kini, sudah dibuat mainan lagi oleh pemiliknya.
''EH EHH! ASTAGHFIRULLAH.'' seru Desi.
__ADS_1
''Sorry, maaf.'' ucap orang itu.