
''Ya, nanti kita nyusul!'' seru Siska menjawab ajakan teman-temannya yang hendak ke kantin.
Kelas sudah mulai sepi, ada yang ke masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur, dan ada yang ke kantin juga.
''Kamu nggak ke masjid, Des?'' tanya Siska.
Pertanyaan yang bukan pertama kalinya ia lontarkan. Siska dan Desi memiliki iman yang berbeda. Tapi, keduanya saling menghormati keyakinan masing-masing.
''Nggak Sis, nanti di rumah aja, seperti biasa.'' jawab Desi. Ia merasa kurang nyaman dengan pakaian sekolahnya yang tidak bersih untuk di pakai saat shalat karena Desi tadi duduk di lantai, tentu saja lantai itu banyak debu dan menempel diroknya. Jam pulang sekolah masih jam dua siang, sampai di rumah masih ada waktu. Tapi, selain itu, ia selalu melaksanakan shalat tepat waktu saat berada di rumah.
''Ya sudah, ke kantin aja yuk, aku lapar.'' ajak Siska sembari memegangi perutnya.
Desi yang masih tetap duduk di bangkunya, mengambil tas yang ia masukkan ke dalam laci. Lalu mengambil sesuatu dari dalam tas tersebut.
''Hehehe, sebenarnya aku bawa bekal, Sis. Karena aku pasti bakal kelamaan kalau harus jalan ke kantin, pake muter-muter juga.'' jelas Desi.
Siska mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti alasan Desi. Ia yang sudah lapar pun tidak mungkin akan menahan diri demi menemani Desi. Apalagi meminta bekal Desi yang pas dengan porsi satu kali makan.
__ADS_1
''Kamu ke kantin aja nggak papa, Desi 'kan pemberani, xixixi.'' ujar Desi.
''Maaf ya Des, tak tinggal.'' ucap Siska yang merasa tidak enak karena meninggalkan Desi sendirian di kelas.
''Amaann, bukan lagi di hutan ini.'' jawab Desi.
''Terima kasih, matur nuwun, thank you!'' seru Siska yang langsung bergegas menuju kantin dengan langkah cepat karena sudah ditinggal oleh teman-temannya sejak lima menit yang lalu.
Desi menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. Kemudian Desi membuka wadah bekalnya, nasi putih secukupnya dan sambal telur dadar.
Setelah beberapa detik wadah bekalnya ia buka, Desi menutupnya lagi. Ia ingin makan siang di bawah pohon yang ada di sudut kelasnya. Di bawah pohon itu ada tempat duduk dan meja dari kayu. Tempat yang menjadi rebutan para murid-murid sekolahan tersebut untuk bersantai dan berkumpul di kala jam istirahat atau saat tidak ada pelajaran.
Gadis itu kembali meletakkan tasnya ke dalam laci setelah mengeluarkan bekal. Dengan langkahnya yang hati-hati, ia menuju tempat duduk disana. Kebetulan masih kosong juga. Sebentar lagi yang shalat di masjid sudah selesai.
''Naahh, begini baru enak ... angin sepoi-sepoi, asiiikk.'' gumam Desi.
''Makan, Kak.'' ujar Desi menawari pada kakak kelasnya yang lewat.
__ADS_1
Kakak kelasnya itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Waktu istirahat, waktunya diperbolehkan untuk membuka ponsel. Desi pun langsung mencari siaran langsung turnamen bulutangkis yang sedang berlangsung.
''Kebetulan banget sih pas Indonesia yang main.'' gumam Desi.
Desi menyandarkan ponselnya agar ia nyaman untuk menonton. Terlihat masjid mulai ramai karena sudah selesai shalat. Desi memang belum pernah ikut shalat jama'ah di masjid saat jam istirahat seperti ini.
Desi mulai menyendok makanannya, tatapannya fokus ke layar ponsel. Permainan itu sangat seru, sudah di set kedua.
Saat terjadi rally panjang, Desi sampai menghentikan sendok yang masih ia gigit. Bahkan berkedip pun rasanya sayang.
''Aarrghh, sayang banget malah out, padahal lagi nyerang.'' gerutu Desi. Ia pun melepaskan gigitannya itu dan lanjut mengunyah.
Di tengah seriusnya makan sambil nonton siaran badminton, ada tangan yang meletakkan air mineral kemasan di meja, sehingga membuat Desi menoleh.
''Eh, Pras? ngapain?'' pekik Desi lalu celingukan ke berbagai arah. Ia khawatir ada Yulia, karena dibenaknya sudah meyakini bahwa Pras dan Yulia memiliki kedekatan yang lebih dari sekedar teman biasa
__ADS_1
''Seru banget? siapa yang lagi main?'' tanya Pras.
''E, iya, ini, e ... yang main Daddies.'' jawab Desi dengan suara yang gugup.