
"Angga, ngga..!" Suara seseorang berteriak memanggil Bang Angga.
"Kenapa Mas, bang Angga gak di rumah, lagi kerja," ucapku menghampiri Mas Ilham.
Mas Ilham adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Dia kakak dari bang Angga, tiba-tiba datang kerumah dengan teriakannya yang membuatku cukup panik.
"Mas mau bicara sama kamu Ra,"
"Bicara apa Mas?"
"Kamu itu jangan kurang ajar sama Ibu, Ibu nangis-nangis dateng kerumah Mas katanya kemarin kamu itu udah kurang ajar, gak ada sopan-sopannya sama orang tua. Inget Ra, mau gimana pun Ibuku, dia Ibumu juga, Ibu dari suamimu. Mengertilah sedikit jangan terlalu keras sama Ibu," ucap Mas Ilham menceramahi ku.
"Kenapa semua orang harus minta Dira yang ngertiin Ibu? Sementara mereka gak mau ngertiin Dira sama sekali. Mas Ilham gak tau gimana kerasnya Ibu, ngurusin dia itu serba salah Mas. Diem aja makin jadi, giliran ngelawan dibilang kurang ajar. Dira juga manusia Mas, punya rasa capek punya rasa sakit," ucapku membela diri.
"Tapi segaknya gak perlu ngomong dengan nada tinggi gitu Ra, gak sopan namanya. Ibu itu orang tua loh, wajib dihormati!"
"Nada tinggi?"
Melihat Mas Ilham mengangguk, aku mengepalkan tangan merasa jengkel dengan tingkah mertuaku itu.
Lagi-lagi dia mengatakan hal yang sama sekali tidak kulakukan.
Dengan datangnya Mas Ilham kerumah ini, sudah dipastikan kejadian kemarin Ibu mengadukannya pada Mas Ilham. Wajar saja jika Mas Ilham memarahiku.
"Mas dan Mbakmu akan tinggal disini sementara waktu buat bantu ngurusin Ibu. Mas udah gak percaya lagi sama kamu yang gak becus jadi mantu," ucap Mas Ilham setelah itu pergi begitu saja.
'Baguslah, setidaknya kerjaanku akan berkurang. Biar mereka tau gimana kerasnya Ibu dengan mulutnya yang super wah itu. Aku pengen tau, seberapa lama keluarga Mas Ilham betah ngurusin Ibunya' gumamku.
***
Benar saja, ucapan Mas Ilham kemarin benar-benar dilakukannya. Mereka sekeluarga boyong kerumah.
Mbak Lala, istri Mas Ilham menatapku begitu sinis saat ia baru saja memasuki rumah.
Sementara dua anak mereka begitu antusiasnya bertemu dengan Rama dan segera mengajaknya bermain.
__ADS_1
Tentu aku menyabut mereka dengan sangat sopan dan jamuan seadanya mengingat suamiku hanya memberiku jatah belanja yang sangat minim.
Saat dua keluarga tengah berkumpul, tiba-tiba saja..
"Mulai sekarang, kamu gak boleh pake barang-barang Ibu! Mulai dari kompor, piring dan sebagainya. Terserah kamu mau masak dimana, yang penting tidak menyentuh barang Ibu satupun!" ucapan mertuaku itu membuatku mengelus dada.
"Kalian disini semua jadi saksi, sekarang Dira gak akan lagi menyentuh barang milik Ibu. Tapi, Dira juga gak akan masak atau nyiapin makan buat Ibu. Semua tanggung jawab itu, Dira alihkan sama Mbak Lala!"
Sangat menjengkelkan bukan? Hidup satu rumah, tapi dapur masing-masing. Beginilah keluarga terlalu bahagia. Saking bahagianya sampai aku tidak diperbolehkan masuk kewilayah yang sudah menjadi perbatasan. Seolah itu adalah daerah kekuasaannya.
Tapi aku cukup seneng, akhirnya aku terlepas dari beban mertuaku yang super cerewet itu. Sekarang saatnya aku berleha-leha dan bersantai ria menyaksikan Mbak Lala yang akan jadi korban fitnahan Ibu selanjutnya.
Dan itu pasti, aku sangat yakin! Hanya saja aku tidak terlalu ingin menasehati, cukup menonton tanpa ikut campur lagi.
Hampir 5 tahun aku hidup serumah dengan mertuaku. Selama itu pula semua rasa kehidupan sudah aku alami hingga saat ini. Termasuk pahitnya hidup sebagai seorang istri, bukan hanya menantu.
***
Hari makin hari, aku selalu menghabiskan waktuku dengan bersantai ria bersama Rama.
Sepertinya Mbak Lala juga mulai merasakan sesuatu hihihi...
Biarkan saja, nikmatilah hidupmu..
Jika kalian mampu bicara untuk menceramahi ku memarahiku karena tidak becus mengurus Ibu kalian, maka sekarang buktikan keahlian dan kesempurnaan kalian dalam mengurus orangtua.
"Gimana mbak?" Tanya cukup penasaran dengan Mbak Lala.
"Gimana apanya?"
"Ngurusin Ibu,"
"Biasa aja kok, malah ibu gak pernah aneh-aneh. Kami juga sering ngobrol sambil bercanda, ya pokoknya gak seperti yang kamu bilang itu," jawab Mbak Lala?
"Kamu aja yang gak becus ngurus Ibu, jadi mantu gak ada pengertiannya sama sekali, wajarlah kalo Ibu selalu marah sama kamu," lanjut Mbak Lala lagi.
__ADS_1
Aku tersenyum kecut,"Oh, ya? Ya udah selamanya aja mbak tinggal disini, biar aku dan Bang Angga cari kontrakan"
Ucapanku ternyata membuat Mbak Lala terdiam. Kenapa Mbak? Gak perlu berdrama dengan banyak alesan buat nutupin keburukan mertua kita. Pada kenyataannya, semua yang aku alami, semua yang aku katakan itu adalah benar!
Aku meninggalkan Mbak Lala dengan senyum puas melihat bagaimana ekspresi wajahnya.
"Ra, apa gak sebaiknya kamu aja yang ngurus Ibu?" ucap Bang Angga tiba-tiba saat aku tengah duduk bermain dengan Rama.
"Kenapa harus Dira bang? Bukannya Dira gak becus ngurus Ibu kalian, Dira selalu membentaknya, terus kenapa menyuruhku lagi? Toh Dira malah lebih seneng kayak gini, hidupku rasanya tenang dan damai," ucapku dengan bangga.
"Kamu gak mau lagi ngurus Ibu?"
"Ada mbak Lala," jawabku.
"Kasihan Mbak Lala Ra, dia harus ngurus dua anak, ditambah lagi ngurus Ibu, dia pasti lelah. Kamu saja ya yang ngurusin Ibu!" Pinta bang Angga padaku.
"Wow, Abang perlu dibawa kerumah sakit deh bang, biar dokter bisa bedah isi kepala Abang itu. Sadar gak, Abang dengan begitu pedulinya sama Mbak Lala, kasian capeklah, ngurus anaklah, Abang gak mikirin Dira selama hampir 5 tahun ini? Masih punya hati gak bang? Dira yang selama ini lebih capek bang, ngurusin Rama ditambah lagi Ibu kesayanganmu itu. Tau terimakasih sih mending, yang ada malah menghina," ucapku mencoba menyadarkan pemikiran suamiku yang amat sangat keliru.
"Dulu kan Ibu masih agak muda Ra, sekarang dia udah tua, jadi harap maklum saja dengan semua perlakuannya,"
"Hahahha harap maklum, okelah Ibu sekarang udah tua, lalu Abang? Apa abang juga sudah tua, sampe-sampe gak pernah mau ngalah? Anakmu aja kalah dengan Ibu Bang, Ibumu bak ratu yang permintaannya harus dituruti, sedang anakmu, selalu diminta pengertian saat menginginkan sesuatu. Ayah macam apa ?"
Bang Angga terdiam, mungkin ia sedikit menyadari dengan apa yang sudah kukatakan. Tapi aku sangat yakin, sadarnya itu hanya bertahan dalam hitungan jam saja.
Aku mengenal bagaimana sikap-sikapnya. Demi Allah, jika bukan karena Rama dan anak yang sedang kukandung saat ini, dengan sangat bersemangat aku meninggalkan dua orang kejam itu.
"Maaf Ra, Abang belum bisa jadi Ayah dan suami yang baik untuk kamu dan juga anak kita,"
"Dan Abang gak akan pernah bisa jadi yang terbaik apalagi superhero, selama Abang gak berubah. Setidaknya punyalah pendirian dan ketegasan sedikit sebagai kepala rumah tangga Bang. Inget ya bang, keluarga kecil kita hanya Istri, suami dan anak. Sementara Ibu, tidak ikut termasuk!"
Gemesss, geram, tentu saja selalu kurasakan saat berbicara dengan Bang Angga.
Aku seperti sedang dihukum oleh Tuhan, memiliki suami seperti bang Angga.
TBC.
__ADS_1