
"Terimakasih nenek, udah nemenin Tika ke Dokter makasih juga susunya. Dedek juga pasti seneng kan?" Aku tidak sengaja melihat Tika tengah mengobrol dengan Ibu mertuaku. Mendengar dari obrolannya, sepertinya mereka baru saja pulang dari rumah sakit memeriksakan kandungan Tika. Melihat kantong kresek yang Tika bawa membuatku menatap iri dan seketika mengelus perutku yang masih rata.
"Sama-sama sayang, ayok masuk Kamu pasti capek, harus istirahat!"
Waw, mulut mertuaku terasa manis saat ia berbicara dengan cucu kesayangannya. Sedangkan saat berhadapan denganku, ia seolah tengah memerangi musuhnya.
Aku buru-buru pergi sebelum mereka tahu kalau aku mendengarkan obrolan mereka.
"Ra...!"
Sepertinya mertuaku itu tidak akan membiarkan aku untuk berleha-leha atau hanya sekedar untuk duduk bersantai. Suaranya yang aduhai itu membuatku malas mendengarnya.
"Ada apa bu?" Tanyaku saat menghampirinya.
"Satu jam lagi waktunya Tika makan, kamu bantu siapin ya! Kasihan Tika, gak boleh terlalu capek kada Dokter, masih hamil muda harus banyak istirahat," perintah Ibu mertuaku.
Ingin rasanya aku memaki wanita tak punya hati ini. Enak saja menyuruhku sesuka hatinya, emangnya aku ini babu?
"Lalu gimana sama Dira Bu? Dira juga lagi hamil muda sama kayak Tika, apa Ibu tega nyuruh Dira buat ngurusin Tika juga?"
"Halah, kamu itu gak usah manja. Lagian kamu sudah pernah hamil, sudah pengalaman, kalo Tika kan belum. Jadi wajar kalo dia harus lebih diperhatikan," ucap mertuaku merasa dirinya paling benar.
"Dira capek Bu, Ibu kan gak ada pekerjaan, mending Ibu aja yang siapin makan buat Tika," aku meninggalkannya begitu saja.
"Dasar mantu kurang ajar! Berani ngelawan orangtua kamu ya. Perempuan gak tau diri!"
Aku tidak perduli lagi dengan makian mertuaku. Sakit? Pastinya, tapi aku sudah tidak lagi terkejut dengan semua hina dan makian mertuaku saat bang Angga tidak di rumah. Sudah menjadi makananku setiap hari, dan lebih mirisnya, meskipun suamiku tahu itu tetapi ia memilih diam bahkan tidak ada sedikitpun membela aku sebagai istrinya. Yang ada dia terus saja memintaku untuk tidak melawan dan selalu mengalah dengan Ibunya yang tak punya hati itu.
***
__ADS_1
"Bilangin istri kamu Angga, apa salahnya bantu Tika, Tika itu bukan orang lain, keponakan kamu sendiri. Jangan perhitungan begitulah," begitulah mertuaku saat mengadu pada anaknya.
Setelah itu apa yang suamiku lakukan? Apa dia akan membelaku?
Ck, aku hanya bisa berharap untuk itu. Tapi sayangnya harapanku itu tidak akan pernah terjadi selama suamiku tidak merubah sikapnya yang tak punya pendirian sama sekali.
"Nanti Angga yang ngomong sama Dira Bu, buat bantu Tika,"
Bang Angga menghampiriku yang baru saja membereskan meja makan.
"Abang mau ngomong Ra!"
"Ngomong aja!"
Aku sudah bisa menebaknya apa yang ingin Bang Angga bicarakan. Begitulah suamiku, hanya bicara seperlunya, jatah belanja dan ratu kesayangannya. Selain itu bang Angga jarang mengajakku mengobrol atau hanya sekedar berbasa-basi. Sangat mustahil!
"Abang minta sekali-kali bantu urusin Tika ya, dia kan keponakan kita, bukan orang lain. Kalo bukan kita yang ngurus siapa lagi," ucap suamiku yang membuat tanganku gatal ingin menamparnya, jika saja aku tidak takut dosa, sudah pasti akan kulakukan.
"Hanya sebentar Ra, dan gak terlalu berat kok. Abang yakin kamu mampu!"
"Kenapa gak Ibu kesayangan Abang aja yang ngurusin Tika, toh Tika kan cucu kesayangannya,"
"Jangan kurang aja kamu Ra! Ibu sudah tua, sudah waktunya dia banyak istirahat," kali ini bang Angga merasa kesal saat aku meminta Ibunya untuk mengurusi cucu kesayangannya itu.
"Kesehatan Ibumu kamu perhatikan bang, sementara aku istrimu, Abang terlantarkan. Apa Abang tau apa kata Dokter saat memeriksa kehamilanku? Aku juga gak boleh terlalu capek bang, harus minum vitamin bila perlu susu hamil juga, karna itu sangat penting untuk pertumbuhan anak kita Bang,"
"Abang belum punya uang untuk beli vitamin dan juga susu buat kamu Ra," ucap Bang Angga menyembunyikan sesuatu.
'Abang kira aku gak tau? Aku tau semuanya bang, semuanya!'
__ADS_1
Semestinya uang dapur harus diserahkan sepenuhnya kepada istri. Tugas suami mempercayakan urusan dapur. Karena memang begitulah seharusnya. Namun tidak bagi bang Angga yang sangat rumit dengan masalah uang belanja. Eits, soal uang bang Angga memang sulit.
Cara bang Angga memberi nafkah sangat kupertanyakan. Kalau tak diminta nggak bakal dikasih. Pas sudah dikasih jumlahnya terbatas dan harus jelas rinciannya. Memang betul, supaya tak disalahgunakan. Namun terlalu kelewatan. “Memangnya perusahaan semua harus ada nota, sama istri kok nggak percaya,” kataku.
Terlalu miris hidupku memiliki suami seperti bang Angga dan mertua seperti ibunya.
Semua gaji Suamiku diberikan pada Ibunya. Lalu aku? Aku hanya dijatah 25ribu setiap harinya.
"Sampai kapan? Abang selalu bilang gak punya uang buat beli vitamin sama susu hamilku. Dari hamil Rama lo bang, 4 tahun yang lalu, sampai hamil ke dua ini jawaban Abang selalu sama. Apa Abang gak bosen bohong terus?"
Aku menyudutkan bang Angga biar dia tau, apapun yang disembunyikan dari istrinya, lambat laun pasti akan kebongkar juga.
"Eh, kamu itu sama suami jangan bicara kurang ajar, dia itu suami kamu. Angga, Ibu gak habis pikir dengan istri kamu ini, coba saja dulu kamu nurut sama Ibu buat nikah sama Ajeng, gak mungkin Ibu punya mantu gak tau diri kayak istri kamu ini!" Ucap mertuaku yang tiba-tiba saja keluar dari semedinya.
Ajeng itu mantan pacar Bang Angga yang begitu dibanggakan mertuaku karena dia anak orang kaya.
Tetapi sayangnya, orangtua Ajeng tidak merestui hubungan mereka karena sudah hafal bagaimana Ibunya bang Angga. Mereka satu kampung, hanya beda RT saja.
"Sudahlah bu, gak perlu bahas masalalu,"
"Ibu nyesel punya mantu kayak dia," tunjuknya padaku. Geram sekali, ingin rasanya aku plintir jarinya yang berani menunjuk ke arahku hingga patah.
"Bukan cuma Ibu, tapi Dira juga nyesel hidup di tengah-tengah orang gak punya hati kayak kalian!"
"Cukup Nadira, Cukup!!" Bang Angga membentakku.
"Apa? Abang mau ngomong apa lagi, mau nampar aku, mau bohong apa lagi, hah? Abang pikir aku gak tau Ibu selalu minta uang saat susu dan vitamin Tika habis, iyakan? Dan selalu Abang kasih tanpa punya banyak alasan. Aku hamil anak kamu Bang, anak yang seharusnya kamu perhatiin perkembangannya, aku gak ngelarang Abang buat bantu Tika, tapi tolong jangan pilih kasih. Penuhi dulu kebutuhan anak dan istri baru orang lain. Aku tau semuanya bang, jadi gak usah beralasan gak punya uang saat aku minta Abang membelikan susu atau vitamin untukku,"
Duar...
__ADS_1
Selamat datang dikebenaran..
TBC.