Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Selembar Cek


__ADS_3

Shock besty..


Mamaku main ambil keputusan sendiri. Tapi, kalau dipikir lebih jauh lagi, mengikuti kata-kata Mama memang sudah seharusnya dari dulu kulakukan.


Aku membelalakkan mata mendengar pernyataan Mama. Bagaimana bisa aku harus menikah lagi secepat ini?


"Ma.."


"Keputusan Mama sudah final Ra, minggu depan kamu dan Devan harus menikah!"


Aku melirik sekilas ke arah bang Angga. Semburat kesedihan teramat mendalam sangat jelas terlihat di wajahnya. Pria yang terlihat lusuh penampilannya itu terduduk lemas. Aku tidak tega melihat bang Angga terpuruk seperti itu, tapi..posisiku saat ini begitu serba salah.


"Bang, bangunlah bang!" Dengan sisa tenagaku yang lemah, aku membantu bang Angga untuk berdiri.


"Ra.." Suara bang Angga begitu lirih memanggilku. Tak kuasa aku menahan tangis melihat kondisi bang Angga. Cintaku masih terikat dengannya, tapi rasa sakitku juga masih melekat dan basah. Entah sampai kapan aku bisa mengikhlaskan semua kejadian masa lalu dengan lapang dada. Melihat bang Angga, antara sakit dan cinta menjadi satu. Aku harus pilih yang mana?


"Dira, aku tidak akan memaksamu untuk menyetujui apa kata Tante Mety. Dan Tante, tolong jangan paksa Dira kalau dia memang tidak bisa. Aku tidak ingin menjalani hidup pernikahan dengan rasa terpaksa, pasti Dira ataupun aku tidak akan nyaman berada di posisi itu," Devan berkata-kata dengan bijak.


Lelaki itu sangat luar biasa. Jika saja dulu aku tidak mengenal bang Angga, mungkin saat ini aku adalah nyonya dari Devan Pratama. Ah, sudahlah.. kenapa aku jadi serakah seperti ini? Sulit lepas dari mantan suami tapi juga kasih harapan ke Devan. Apa aku terlalu egois dalam hal ini?


"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Devan. Tante yakin, saat kalian sudah hidup bersama, perlahan tapi pasti, Dira akan menerimamu."


"Dan untuk kamu, Angga, saya harap ini yang terakhir kalinya kamu bersikap seperti ini dalam bertamu. Saya tidak akan melarang kapanpun kamu mau menjenguk anak-anak, tapi tolong jaga adab dan sikap dalam bertamu ke rumah orang," jelas Mama yang sepertinya sudah sangat muak dengan mantan menantunya.

__ADS_1


Bang Angga hanya mengangguk kecil, pria bertubuh kurus itu tak lagi bisa berkata-kata. Mungkin saat ini yang tengah ada dipikirannya hanyalah penyesalan.


***


"Ya Allah bang, Abang kenapa?" Linda panik melihat kakaknya yang begitu lemas berjalan memasuki rumah.


Rambut acak-acakan, baju lusuh, mata sembab, bang Angga berjalan lunglai setelah berhasil memarkirkan mobil temannya yang ia pinjam untuk menemuiku.


Bang Angga terjatuh, air matanya berderai membasahi pipi dan bajunya. Ia menangis sejadi-jadinya di sana.


"Abang kenapa? Semuanya baik-baik kan? Mbak Dira dan Rama baik-baik aja kan bang?" Serentet pertanyaan Linda berikan pada kakaknya.


Bang Angga menggeleng, tangannya memukul pelan dadanya. Seperti ada yang menghantam bagian sana hingga sangat terasa sakit.


Terlihat jelas bang Angga masih mencintaiku, bahkan Linda juga tau itu. Tapi rasa egoisnya tidak bisa ditoleransi, ia lebih takut akan jadi anak durhaka meskipun yang dilakukannya adalah dzolim. Dan pada akhirnya, ia harus merasakan kehilangan istri dan anaknya.


Maafkan aku bang Angga, jika saja dulu kamu bisa berubah tanpa harus banyak kata maaf yang tanpa bukti, mungkin aku akan mempertimbangkan sekali lagi keputusan untuk bercerai darimu.


Tapi sayangnya, aku selalu mendapatkan kekecewaan disetiap kata maafmu itu, bang. Aku tidak lagi bisa menahan rasa sabarku untuk tetap bertahan dengan pernikahan kita.


Mungkin takdir menjodohkan kita cukup dengan waktu yang hanya 5 tahun. Selebihnya, takdir telah mempersiapkan kehidupan baru untuk kita masing-masing, kamu dan aku.


"Yang sabar bang, Abang harus kuat dan ikhlas. Linda tidak ingin menyalahkan Mbak Dira yang bercerai dari Abang, karna menurut Linda keputusan itu sangat tepat bang. Coba abang pikirin, kalo Mbak Dira gak cerai dari Abang, harus berapa banyak lagi Mbak Dira merasakan sakit hidup di rumah ini? Apa abang gak kasihan Rama? Dia anak laki-laki yang harus punya masa depan bang, karna suatu saat dia bawa anak orang. Abang harus pikirin itu!"

__ADS_1


"Abang akan berubah Lin, asal Dira mau kembali hidup sama Abang."


"Gak bang, Abang gak akan bisa berubah selama masih hidup serumah sama ibu. Linda tau gimana bang Angga, Linda bisa jamin itu, dan ucapan Mbak Dira itu bener."


"Gak apa-apa kalau Dira gak mau diajak rujuk, Angga. Yang penting Ibu sudah berhasil mendapatkan ganti ruginya," sahut Ibu yang tiba-tiba muncul dengan pakaiannya yang rapi.


"Maksud Ibu ganti rugi?" Linda bertanya sangat penasaran.


"Ya, Ibu sudah mendapatkan cek dari Mamanya Dira, 500juta."


Linda dan bang Angga terbelalak melihat selembar cek di tangan Ibunya.


"Jangan bilang ibu bohong sama Linda?"


"Bohong? Ibu bohong apa Lin?" Tanya bang Angga.


"Ya, waktu abang pergi, ibu juga pergi. Dia bilang mau jenguk anak-anak mas Ilham ke rumah orangtua Mbak Lala. Tapi kayaknya ibu gak ke tumah Mbak Lala deh, jangan bilang ibu diem-diem nyusulin bang Angga ke rumah Mbak Dira."


Mantan Ibu mertuaku mengipas-ngipas wajahnya dengan selembar cek itu."Mangnya kenapa?"


Wah kudu dibejek nih..


TBC.

__ADS_1


__ADS_2