
Keluarga mantan suamiku, kehidupannya saat ini seperti terguncang badai besar.
Mulai dari rumah tangga anaknya yang berantakan, salah satu cucunya hamil tanpa suami, bahkan salah satu anaknya adalah pelaku yang sudah menghamili cucunya itu.
Apa itu yang dinamakan karma?
Tapi yang pasti, hidup mereka tidak akan ada ketenangan.
Apa yang Tika ucapkan rupanya bukanlah hal main-main. Bang Angga dan Linda juga setuju dengan keputusan Tika yang ingin menjebloskan Mas Ilham ke penjara.
Hanya sang kanjeng ratu yang merasa keberatan karena hal itu. Dia merasa tidak siap menjadi bahan gunjingan para tetangga dan orang-orang yang mengetahuinya.
Benar saja, satu-persatu para tetangganya mulai mengetahui kalau Mas Ilham masuk penjara, hanya saja mereka belum tau masalahnya yang justru semakin membuat mereka sangat amat penasaran. Kondisi kanjeng ratu yang sudah membaik itu, tidak akan tinggal diam tentunya.
"Bu, Imah, si Ilham ada masalah apa sih, ada salah apa sampai di penjara gitu?" Tanya Bu RT pada mantan Ibu mertuaku yang bernama Rohimah itu.
"Biasalah bu, Ilhamkan di tempat kerjanya orangnya rajin, terus juga jujur, karna itu dia itu jadi orang kepercayaan bosnya. Tapi ya bu, semakin tinggi pohon tumbuh semakin kenceng juga angin yang meniupnya, Ilham itu di fitnah bu, dituduh yang gak-gak sama teman sesama kerjanya. Jadinya ya begini deh."
"Ya Allah, turut prihatin ya bu, Imah. Semoga ada jalan yang terbaik."
"Aamiin, bu RT."
__ADS_1
***
Brak...
"Tika..Tika..!"
"Ada apa sih Nek, jangan teriak-teriak dong, Tika belum budeg kali."
"Ini semua gara-gara kamu, Tika! Kalo kamu gak masukin Ilham ke penjara, nenek gak akan selalu di tanya tentang masalah ini sama semua orang. Nenek malu Tika, malu!"
"Nenek cuma menanggung malu, tapi Tika? Tika lebih dari itu nek, bukan hanya sekedar malu yang Tika rasain, tapi hidup Tika sudah hancur nek, Tika gak punya masa depan lagi. Dan semua itu terjadi karna ulah pakde Ilham!"
"Halah, kamu itu kalo dikasih tau malah ngelawan."
***
Semakin bertambah waktu, semakin sering dan kuat rasa mules yang kualami. Hingga pada akhirnya aku cukup tidak tahan lagi dan meminta Mama segera mengantarku ke rumah sakit.
"Ma..sakittt!"
"Yang sabar Ra, tarik nafas dan atur senetral mungkin. Mama yakin kamu kuat Ra, kamu bisa, ini bukan pertama kalinya kamu melahirkan, jadi Mama yakin kamu mampu Ra. Semangat sayang, demi si kecil."
__ADS_1
Mamaku terus memberikan semangat dan membantu mengelus-elus pinggangku dengan sesekali tangannya mengelap keringat yang sudah membanjiri dahiku.
"Ma, Dira udah gak kuat!"
"Sttt, gak boleh ngomong gitu, pasti kuat, Mama yakin Ra!"
Satu jam kemudian, Dokter dan dua perawatnya membantu persalinanku.
Alhamdulillah, Allah memberikan bidadari mungil yang kini ada di pangkuanku.
Sungguh perjuangan yang luar biasa bisa melahirkan sang buah hati ke dunia ini. Tugas yang tidak akan pernah ada habisnya adalah Ibu.
Aku menitikan air mataku, disaat Devan tengah mengadzani baby mungil yang kuberi nama Dara. Aku bahkan baru tau, kalau Devan ternyata sudah mualaf seperti diriku.
Sungguh miris rasanya mengingat Ayah dari bayi yang baru saja kulahirkan.
Adakah dalam hati bang Angga memikirkan anak-anak?
Bukan karena tak ada dampingan sang suami, tapi aku lebih memikirkan bagaimana bisa me jawab pertanyaan anakku nanti yang pasti akan bertanya tentang Ayahnya.
"Makasih Om Devan," aku berucap dengan suara yang kubuat layaknya anak kecil, sambil mengambil alih Baby Dara dari tangannya.
__ADS_1
Kulihat Devan hanya mesem,"Ra, apa kamu mau menerimaku sebagai Ayah sambung untuk Dara dan juga Rama?"
Deg..