Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Akhir dari sebuah Drama


__ADS_3

Kondisi mantan Ibu mertuaku semakin hari semakin parah. Koreng-koreng itu kini sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Tiap hari Ibu dari mantan suamiku itu selalu meraung-raung merasa gatal dan ingin sekali menggaruk seluruh tubuhnya.


Linda sendiri semakin hari semakin tidak kuat dengan bau tubuh Ibunya. Bahkan saat ini Tika juga pergi dari rumah karena merasa tidak tahan dan jijik melihat neneknya. Dengan perbekalan alamat dari Ibunya, Tika berniat menemui Ayahnya untuk tinggal bersamanya.


Linda yakin, mantan suaminya cukup keras dalam mendidik anak-anak. Dengan begitu ia tidak lagi khawatir tentang Tika jika hidup bersama Ayahnya.


"Lin.... badan Ibu gatal Lin, gatalllll huuu gatalll Lindaaa bantu garuk, gatalll ya Allah gatall," selalu seperti itu setiap harinya bahkan setiap jam.


Linda menangis dalam kamarnya meskipun ia mendengar teriakan sang Ibu, tetapi tidak menemuinya.


"Ya Allah ya rabb, inikah yang dinamakan karma? Kenapa pedih sekali rasanya menjalani hidup seperti ini. Aku gak sanggup, hiks..."


"Lindaaaa tolong Ibu, Lin...huuuuuu gatallll ya Allah gatalll"


Bu Salma selalu berteriak merasakan gatal yang tak tertahan di sekujur tubuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, selain digaruk membuatnya semakin rusak, tidak ada yang sanggup dengan bau tubuhnya yang sudah penuh dengan koreng bernanah.


Linda sudah merasa tidak sanggup mengurus Ibunya. Sementara kakaknya, mas Ilham, ia tengah merasakan kehidupkan dingin di balik jeruji besi. Sementara bang Angga, mungkin Allah lebih sayang padanya, membebaskannya dari beban pikiran di dunia, Allah mengambil miliknya kembali.


"Linda, ya Allah gatal Lin.."


Linda akhirnya menghampiri kamar Ibunya, baju bahkan seprei sudah banyak nanah dan darah. Bau yang menyengat membuat Linda tak tahan dan akhirnya mengeluarkan isi perutnya.


Bu Salma menggaruk sejadi-jadinya tubuhnya seperti ada binatang yang tengah merayap. Gatal yang tidak bisa dijelaskan, garukan itu malah membuat kulit tubuhnya penuh luka, wajahnya bukan lagi terbentuk seperti wajah manusia. Darah dan nanah dimana-mana. Tubuhnya semakin kurus, tidak sempat memikirkan urusan perut, menahan gatal saja ia sudah tidak mampu.


"Gatal Lin, bantu Ibu Lin, gatal!!!!"


"Bu sudah bu jangan digaruk, malah semakin banyak," Linda sambil menangis mengatakan itu pada Ibunya.


"Ibu gak tahan Lin, gatal, huuu gatallll"


"Ya kenapa Lin?"


Linda menelfonku, lagi-lagi dia menangis mengadukan kondisi Ibunya yang semakin parah.


"Mbak tolong Linda Mbak, Ibu makin parah Mbak, sekujur tubuhnya sudah penuh koreng. Linda gak kuat lagi Mbak hiks.."


"Ya Allah, Mbak gak bisa bantu banyak Lin. Mbak transfer uang buat berobat Ibu ya.."


"Percuma mbak, mau dibawa kemanapun Ibu, Ibu gak bakal sembuh. Ini penyakit azab mbak, Ibu sudah banyak melakukan dosa besar di masa lalu. Bahkan Linda juga malu dilahirkan dari rahim wanita hina, Linda malu Mbak.."


"Hust gak boleh ngomong gitu, itu Ibu kamu, yang ngelahirin kamu. Mau gimanapun dia, jangan pernah membencinya!"


"Linda harus gimana Mbak?"


"Mbak kesana besok, panggilkan pak Zain!"


"Iya Mbak."


Pak Zain adalah kyai ternama disana, semoga dengan ini semuanya jauh lebih baik.


Aku pun menceritakan tentang Linda yang menelfon pada Devan. Devan menyetujui mengantarku kembali ke Jakarta setelah 3 bulan berlalu. Ah, suamiku itu memang pengertian hehehe


Pagi sekali, aku Devan dan anak-anak sudah bersiap, namun kali ini aku tidak mengajak bi Jum. Kasihan Mama kalau harus sendirian lagi di rumah.


Singkat cerita, kami sudah sampai di depan rumah yang penuh kenangan selama 5 tahun berlalu. Aku berhenti sejenak di depan rumah mengamati sekitar. Sudah hampir satu tahun aku meninggalkan rumah ini. Dan keadaannya pun masih sama, tidak ada yang berubah.


"Mbak.."


Linda keluar dan berhambur memelukku.


"Apa kabar, Lin?"


"Seperti yang Mbak lihat, ayo masuk Mbak, Mas..."


Aku dan Devan mengangguk, Rama juga mengikuti langkahku.


Tak berapa lama setelah kedatanganku, pak Zain pun datang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.."


"MasyaAllah lagi kumpul ya?"


"Iya pak, mari silahkan pak, Ibu ada di kamar," ucap Linda.

__ADS_1


Pak Zain mengikuti langkah Linda, dan aku membuntutinya dari belakang.


Tidak lupa, Linda memberikan kami masker untuk masuk ke dalam kamar Ibu.


"Assalamualaikum bu Salma"


Ibu yang tengah menangis itu menutupi wajahnya dengan kain. Ia merasa malu bertemu dengan kyai besar yang ternama itu.


"Keluarlah!" bisik Devan.


Aku mengangguk, kuajak Rama keluar dari kamar neneknya.


"Mbak Lin, siapkan satu ember air hangat! Kalau ada rebuskan daun bidara kalau tidak ada airnya kasih garam kasar sedikit," titah pak Zain.


Linda buru-buru menumpahkan air panas yang ada di dalam termos ke ember hitam yang ada di dalam kamar mandi kemudian menambahkan air dingin supaya air itu menjadi hangat dan tidak terlalu panas. Berhubung tidak ada daun bidara, Linda hanya menumpahkan sekitar 3 sendok garam kasar ke dalam ember.


Pak Zain terlihat tengah berdoa khusuk sekali, aku bisa melihatnya dari balik pintu luar kamar Ibu.


"Mohon maaf, apa tidak papa kalau mandi disini saja?"


"Tidak apa-apa pak, bisa dipel nanti," jawab Linda.


"Bu Salma, ucapkan istigfar setiap kali saya menyiram!"


"Iya pak.." jawabnya lirih.


Sebelum pak Zain menyiram rambut Ibu, Linda melepaskan dahulu kain yang menutupi wajah Ibunya.


"Bismillahirrahmanirrahim.." Pak Zain mulai mengguyurkan segayung air di atas kepala Ibu. Sementara Ibu terdengar mengucapkan istighfar setiap kali kepalanya di guyur air.


Betapa terkejutnya kami, belatung kecil-kecil berjatuhan setiap kali pak Zain mengguyur tubuh Ibu dengan air hangat yang sudah ia doakan itu.


"Astagfirullah aladzhim.."


"Akui semua kesalahan dan perbuatan Ibu Salma yang mengundang Azab Allah Bu, karna sesungguhnya karma dan Azab itu nyata. Memohon ampun kepada Allah dengan ikhlas dan tulus, maka insyaallah Allah maha penyembuh."


"Saya pernah merebut suami orang pak, saya membuatnya tergila-gila dengan melakukan hal syirik. Meracuninya dengan air kotor saya, saya hamil dan punya 3 anak tanpa menikah. Laki-laki itu sudah punya istri yang lagi hamil besar, saya merebut suaminya. Saya sudah dzholim dengan anak-anak serta menantu saja pak, saya memfitnahnya sana-sini, saya menghabiskan uangnya demi kepentingan saya. Saya kasar dengan anak menantu dan cucu pak. Astagfirullah, ampunilah dosa hambamu ini.." Ibu menangis mengakui semua kesalahannya.


Aku terkejut bukan main mendengar pengakuan mantan Ibu mertuaku. Kesalahannya tidak tanggung-tanggung. Astagfirullah, audzhubillah'himinzalik.


"Saya tidak tau keberadaan mereka pak,"


"Ibu Salma masih ingat siapa nama perempuan itu?"


"Namanya Ranti pak, dia hanya hidup dengan kakak perempuannya yang bernama Dewi, tinggal di bandung. Untuk rumahnya saya tidak tau," jawab Ibu.


"Ranti? Nama Mama, Ranti kan Dev. Dan tante Dewi, Ibunya Mala kan?"


Devan yang baru sadar mengangguki perkataanku.


"Apa ini orangnya bu?" Aku menunjukan foto Mama mertuaku dan Ibunya Mala.


"Iya, dia Ranti, istrinya Mas Wira, dan dia Dewi kakaknya."


"Coba Linda lihat Mbak."


"Linda pernah ketemu sama Ibu ini di klinik temen Mbak, dia yang ceritakan semua kebenaran Ibu Mbak. Jadi Ranti itu mertua Mbak? Ibunya suami Mbak?"


"Iya Lin, tapi Devan itu anak dari Papa Wildan. Sebelum itu, Mama Ranti punya anak perempuan, kakaknya Devan, yang artinya dia kakakmu juga."


"Mintalah Ibunya untuk datang kemari Mbak Dira. Kita ikhtiarkan dulu dengan mendatangkan orang-orang yang pernah, maaf, mungkin disakiti Bu Salma."


"Dev, please!"


"Aku gak tau harus ngomong apa Ra? Bukan cuma kamu yang hancur bathinnya karna bu Salma, tetapi Mama Ra, Mama! Astagfirullah"


"Kita damaikan semuanya, sayang. Biar Mama gak punya dendam, dan Ibu juga gak dihantui rasa bersalah. Please Dev, demi aku!"


"Demi kamu Ra, cuma kamu."


Devan merogoh ponselnya dari dalam saku, mulai menelfon sang Mama.


"Mama sama Papa harus ke Jakarta sekarang! Ini penting!'


"Ada apa Dev, mendadak gitu. Kamu di Jakarta? Ngapain?"

__ADS_1


"Nanti Devan beri tau Ma, pokoknya Mama harus ke Jakarta sekarang, ini sangat penting menyangkut hidup seseorang dan Mama sendiri. Usahakan kak Rena juga ikut. Nanti Devan share lokasinya."


"Oke oke, kamu yang tenang ya, Mama sama Papa kesana sekarang!"


Pak Zain izin pulang setelah tugasnya selesai. Sementara aku dan yang lain tengah mengobrol di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Mama Ranti dan Papa Wildan.


Ibu, sekarang dia lebih baik dan bisa tidur meskipun hanya sebentar.


Beberapa jam kemudian, suara deru mobil berhenti tepat di pelataran rumah Linda.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam, Ma, Pa, kak.." Aku menyapa mereka.


"Dev, ada apa nak? Ini rumah siapa?"


"Ikuti Devan semuanya!"


Kami beramai-ramai mendatangi Ibu Salma di kamarnya.


"Bu, bangun Bu, Mama Ranti sudah datang."


"Siapa dia Ra?" Mama Ranti yang tidak pernah melihat bagaimana wajah perempuan yang berhasil merebut suaminya dulu, tidak bisa mengenali siapa wanita yang wajahnya penuh koreng ini.


"Dia Ibunya mantan suami Dira Ma, Ibu Salma."


Deg....


Mendengar nama Salma, seketika bayangan masa lalu berputar di kepala Mama Ranti.


"Sa-salma, selingkuhannya Mas Wira?"


Aku mengangguk. Seketika itu Mama Ranti menangis.


"Perempuan macam apa kamu hah? Tega merebut suami dari perempuan yang tengah hamil besar. Dimana perasaan dan hati nurani mu sesama wanita?"


"Ma-maafkan aku Ranti, Allah sudah menurunkan Azabnya padaku. Aku sudah menerima ganjarannya sekarang. Maafkan aku yang sudah sangat menyakitimu. Mas Wira sudah meninggal, Ranti. Dia kecelakaan di tempat kerjanya."


"Ma, Dira mohon sama Mama, maafin Ibu..!"


"Kamu gak tau apa yang sudah ****** ini lakuin ke Mama Dira, dia merebut Papa Wira dari Mama disaat Mama hamil besar Rena. Dan Rena, asal kamu tau, dialah wanita yang sudah merebut Papa kamu sampai kamu tidak pernah sekalipun bertemu dengan Papa."


Linda bersimpuh dan berlutut di kaki Mama Ranti.


"Saya mohon Bu, Maafkan Ibu saya, saya anak Papa Wira juga. Ibu saya sudah cukup merasakan ganjaran atas perbuatannya bu, saya mohon! Maafkan Ibu saya!"


"Ma, please!" Tambah Devan.


"Berdiri nak. Kamu gak salah apa-apa, meskipun kamu anaknya Mas Wira dengan perempuan lain, tapi saya gak bisa nyalahin kamu yang gak tau apa-apa tentang masa lalu."


"Jadi Ibu maafin Ibu saya?"


"Kejadian itu sudah puluhan tahun lamanya, sekarang saya sudah punya kehidupan yang lebih baik. Punya anak seperti Rena dan Devan, punya suami seperti papa Wildan, dan punya menantu seperti Raka dan Dira. Itu sudah lebih dari cukup membahagiakan hidup saya. Bismillah, dengan ikhlas saya memaafkanmu Salma, segeralah sembuh! Semoga Allah juga mengampunimu."


"Terima kasih Ranti, terimakasih, kamu memang wanita baik, Ranti. Pantas saja hidupmu selalu bahagia," ucap Ibu.


"Kamu juga akan bahagia Salma, karna kita sekarang adalah keluarga. Anak-anakmu secara tidak langsung punya aliran darah yang sama dengan anakku Rena, mereka adalah saudara. Rena, apa kamu mau memaafkan Ibu Salma dan menganggap anaknya sebagai saudaramu, nak?"


"Kalau Mama ikhlas memaafkan mereka, Rena juga ikhlas Ma."


"Kamu Devan?"


"Devan ngikut aja."


Dari nada bicaranya, suamiku itu merasa tidak ikhlas memaafkan Ibu. Tapi ya sudahlah, nanti akan kuberi pengerian dia..


Sejak saat itu, Mama Ranti memberikan tempat tinggal untuk Ibu dan Linda di bandung. Sementara rumah yang di Jakarta, disewakan pada orang yang tidak punya tempat tinggal.


Mama Ranti juga membawa Ibu untuk berobat ke luar negeri, hingga usahanya membuahkan hasil. Perlahan dan berangsur-angsur koreng-koreng di tubuh Ibu mulai mengering.


Kehidupan yang penuh dengan Drama ini berakhir damai. Aku, merasa paling bahagia diantara mereka. Selain mempertemukan Ibu dan Mama yang masalalunya terjadi konflik, aku juga punya suami yang sangat-sangat mencintaiku.


Cinta hadir karena terbiasa itu nyata ya? Dan aku sudah mulai mencintai suamiku.


Bang Angga, aku tidak pernah menyesal pernah mencintai dan menjadi bagian hidupmu. Berkat hadirmu, melaluimu, aku bisa merasakan kebahagiaan yang tak ternilai ini. Semoga Allah memberikan tempat terindah untukmu di sisinya Aamiin.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2