
Entah nasibku sedang mujur atau memang akan berubah mulai dari perginya aku dari rumah terkutuk itu. Bang Angga, suamiku akhirnya menyetujui untuk pindah dan mencari kontrakan murah yang akan menjadi tempat tinggal baru kami.
Sudah dua minggu aku tidak lagi tinggal di rumah mertuaku. Hanya saja setiap tiga hari sekali, aku selalu mendatangi rumah mertuaku sekedar untuk membersihkannya.
Hidupku terasa lebih bebas seolah aku baru saja merasakan udara yang sejuk di tempat asri nan tenang.
Bang Angga juga sudah tidak lagi menyulitkanku untuk jatah belanja atau uang gajinya.
Tapi tiba-tiba saja..
"Abang harus kerumah Ibu, Ra?"
"Ngapain? Kan Abang harus kerja," ucapku.
"Mas Ilham tiba-tiba aja nganterin Ibu pulang," jawab Bang Angga yang membuatku cukup penasaran.
"Kamu ikut ya!?" Pinta bang Angga dan aku mengangguk.
Setidaknya aku tidak terlalu durhaka sebagai menantu kan? Toh hanya main, bagiku tidak masalah.
Aku dan Bang Angga sudah sampai di rumah Ibu, namun terlihat Mas Ilham yang duduk di teras seolah tengah menunggu kedatangan Bang Angga sambil melamun dengan raut wajah yang kusut sekali.
"Assalamualaikum," ucapku dan bang Angga menghampiri Mas Ilham.
"Waalaikumsalam," jawabnya dengan lesu.
"Ibu mana Mas?" Tanya bang Angga. Mungkin dia rindu ratu kesayangannya setelah dua pekan tak bertemu.
"Di kamar," jawabnya Mas Ilham dengan tak bersemangat.
"Mbak Lala mana Mas?" Kali ini aku bertanya, karena memang aku tidak melihat Mbak Lala disana.
"Ngapain kamu datang kerumahku, hah? Puas kamu sudah merebut Angga dari Ibu? Dasar perempuan gak tau diri, perempuan kurang ajar kamu, Dira. Pergi sana! Ibu gak mau lagi liat muka kamu," tiba-tiba saja ibu mertuaku keluar dengan marah setelah melihat kedatanganku kerumahnya.
Saat keputusanku sudah final ingin pergi dari rumah ini dan mengontrak, Bang Angga sempat menelfon Mas Ilham dan memberitahunya. Mungkin Mas Ilham ceritakan itu ke Ibu, pikirku.
"Sudah cukup bu, cukup! Mau sampai kapan ibu terus-terusan mencampuri rumahtangga anaknya Bu. Apa Ibu gak lihat, Ilham cerai sama Lala gara-gara Ibu, keegoisan ibu sebagai mertua dan bodohnya aku sebagai suami," ucap Mas Ilham namun kalimat terakhirnya terucap melemah.
Aku membelalakkan mata dan menutup mulutku merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Mas Ilham katakan.
__ADS_1
Mas Ilham dan Mbak Lala bercerai? Kok bisa?
Sudah jelas, pokok masalahnya adalah Ibu. Dia sosok yang merasa paling benar dan sempurna, mudah menghina namun tak mau dihina, tidak mau menghargai namun ingin dihargai.
Dan aku tau bagaimana Mbak Lala, jika dirinya sudah memutuskan sesuatu, sangat sulit untuk melunturkan lagi niatnya, terlebih lagi jika itu sudah membuat hatinya terluka.
"Mas sama Mbak cerai? Kok bisa Mas?" Bang Angga juga sangat penasaran dengan cerita kakaknya.
"Iya, dan itu berawal dari Ibu, karena Ibu!" ucap Mas Ilham dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
"Kenapa jadi salah Ibu? Istri kamu aja yang berlebihan. Tapi lebih bagus kalo kalian pisah, Lala itu sama kurang ajarnya seperti Nadira, punya mantu kok gak ada yang bener," ucap Ibu mertuaku kemudian berlalu masuk kedalam rumah.
Bang Angga sangat penasaran dengan kakaknya yang bisa bercerai dengan istrinya. Apa yang Ibu mertuaku perbuat sampai-sampai rumahtangga anaknya hancur?
"Mas dengan bodohnya ngikutin apa kata Ibu, sampe Mas gak tau, kalo yang mas lakuin itu membuat Mbak kalian terluka. Mas kira Lala sama seperti kamu, Dira, yang selalu maklum dengan semua yang suaminya lakukan," cerita Mas Ilham.
"Sebetulnya Dira bukan harap maklum Mas, Dira hanya mikirin masa depan Rama. Jika bukan karna Rama, Dira sudah lama pergi ninggalin Bang Angga,"
"Apa kamu ada berniat buat ninggalinAbang, Ra?"
"Selama Abang belum bisa berubah, apa boleh buat Bang, Dira juga manusia punya rasa capek. Sabar Dira juga terbatas, gak bisa setiap hari dan terus-terusan sabar dengan sikap Abang dan juga Ibu, Dira punya hati Bang, yang bisa kapan saja terluka tanpa kalian sadari," jelasku pada Bang Angga. Biar tingkat kepekaannya itu tidak minim, itupun kalo suamiku itu mengerti.
Setiap kali kata maaf itu terucap, setiap kali bang Angga selalu melanggarnya. Seolah ia lupa akan kata maaf yang sudah diucapkan bibirnya sendiri.
"Dira bosen denger kata maaf dari Abang, Dira perlu bukti bang, bukti!"
Bang Angga tak mampu berkata-kata, ia hanya mengangguki perkataanku.
***
Satu bulan berlalu, pasca perceraiannya dengan sang istri, Mas Ilham selalu kualahan mengurus semuanya sendirian.
Tepat dihari ini, Linda pulang dari merantaunya.
Linda adalah anak bungsu mertuaku, adik dari suamiku dan juga Mas Ilham, sekaligus Ibunya Tika.
Kami semua tengah berkumpul di rumah Ibu menyambut kedatangan Linda.
Perut Tika sudah terlihat buncit di kehamilannya yang sudah 5 bulan, hanya berbeda satu bulan denganku.
__ADS_1
Linda akan tinggal di rumah Ibu, tetapi kenapa bang Angga menyuruhku untuk kembali kerumah ibu?
Ya, perlu kalian tau, beberapa waktu lalu..
Flashback On
Bang Angga terlihat sangat lelah seharian bekerja ditambah lagi setiap hari ia harus bolak-balik kerumah Ibunya.
"Ra, apa gak sebaiknya kita balik lagi kerumah Ibu? Kasihan Ibu gak ada yang ngurus, sudah sering sakit-sakitan, Tika lagi hamil, belum tentu bisa ngurus Ibu juga," ucap Bang Angga tiba-tiba setelah kepulangannya dari rumah Ibu.
"Bukan gak bisa bang, tapi gak mau! Kenapa harus balik lagi ke rumah terkutuk itu? Abang sudah janji mau menuruti semua permintaan Dira, dan Dira gak mau lagi tinggal satu atap dengan Ibu Bang. Lagi pula bukannya Linda mau pulang? Kenapa gak dia aja yang mengurus ibu, dia kan anaknya,"
"Linda punya Tika, Ra, sudah pasti dia akan mengurusi anaknya terlebih lagi Tika itu lagi hamil dan akan melahirkan. Jelas saja nanti yang mengurus bayinya adalah Linda,"
Tetapi aku tidak yakin dengan ucapan bang Angga. Aku tau gimana sayangnya Ibu mertuaku sama cucunya, Tika. Saking sayangnya, cucunya itu sampai hamil di luar nikah.
"Saat Linda pulang, kita akan pindah lagi kerumah Ibu!"
Aku tidak mengiyakan juga menolak permintaan bang Angga. Kupikir, ini masih bisa dibicarakan dilain waktu.
Flashback Off
"Lin, Abang percayakan Ibu sama kamu, bantu urus Ibu ya?!"
"Kenapa harus Linda, kasian dia pasti capek. Biar Nadira aja yang mengurus Ibu!"
Aku membelalakkan mata mendengar apa yang baru saja terucap dari mulut ratu kesayangan suamiku.
Apakah ini yang dinamakan menjilat ludah sendiri?
***
Yuk ngobrol bareng Othor Di GC bulan!
Klik profil, terus geser sedikit kekiri..
Jangan lupa untuk selalu kasih suport dan dukungan
Komen, like, dan Vote yang banyak.
__ADS_1
TBC.