
Mendadak aku gemetar mendengar kata kabar buruk yang Linda ucapkan di sebrang telfon. Apa yang sebenarnya terjadi?
Semua orang menatapku, lagi-lagi aku menjadi pusat perhatian mereka. Namun kali ini bukan karena pakaian dan riasanku yang sebagai mempelai wanita. Melainkan ekspresi keterkejutanku yang membuat benak semua orang yang ada di sana bertanya-tanya.
"Kabar buruk apa Lin? Apa terjadi sesuatu?"
"Iya Mbak. Abang kecelakaan dan sekarang kondisinya sangat kritis," aku mendengar suara isak tangis Linda yang mengatakan bagaimana kondisi bang Angga.
Aku cukup terkejut dengan berita itu, tapi untuk saat ini bukanlah saat yang tepat untuk menjenguk Ayahnya Rama. Linda yang tidak mengetahui kalau pagi ini aku akan melangsungkan pernikahanku untuk ke dua kalinya, tentu dengan pria yang berbeda.
Kudengar Linda menangis sejadi-jadinya, seolah ia sangat membutuhkan kehadiranku untuk menenangkannya.
"Aku turut prihatin Lin, tapi untuk saat ini, aku belum bisa menjenguknya," kataku to the point.
"Segeralah kesini Mbak, Linda bener-bener butuh Mbak. Siapa tau dengan hadirnya Mbak Dira, Abang segera sadar."
"InsyaAllah. Maaf, aku lagi di tempat ramai, kututup dulu telfonnya. Assalamualaikum."
Mendengar kabar buruk yang menimpa mantan suamiku, membuat hatiku cukup teriris. Cinta pertamaku tengah terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Sementara aku? Aku malah menikah secepat ini.
Rasa itu masih ada, tapi bukan berarti aku mau menerima bang Angga kembali setelah apa yang dia perbuat padaku.
Hanya saja, hatiku merasa cukup terenyuh mendengar kabar tak terduga ini.
"Ra. Ayo duduk lagi!" Mama menuntunku untuk kembali duduk bersama Devan dan mengambil ponsel dari tanganku.
__ADS_1
Pak penghulu kembali berjabat tangan dengan Devan, setelah acara kami sempat tertunda karena panggilan telfon.
"Apa anda sudah siap saudara Devan?"
Devan mengangguk tegas dan begitu yakin.
Pak penghulu mulai merapalkan kalimat ijab kabul yang kemudian diucapkan ulang oleh Devan yang hanya hitungan detik saja akan sah menjadi suamiku.
"Sah....!!"
Suara riuh banyak orang yang mengatakan sah atas kesaksian akad nikah kami.
Aku harus mengatakan apa? Posisi yang sedikit dipaksakan untuk kembali berstatus sebagai seorang istri, membuatku bingung harus berekspresi sedih atau bahagia.
Keputusan untuk menikah dengan Devan hanya karena aku menghargai permintaan Mama. Tapi bukan berarti aku ingin mempermainkan perasaan seseorang. Aku cukup percaya kalau cinta bisa datang dan hadir karena terbiasa, hanya masalah waktu untuk membuktikan istilah itu. Dan tidak menutup kemungkinan suatu saat aku akan mencintai Devan sepenuhnya.
Cukup melelahkan untuk acara hari ini, aku bergegas membersihkan diri sebelum mengambil alih baby Dara yang kubiarkan bersama bi Jum sejak tadi pagi.
"Mandilah! Jangan pakai air dingin, ini udah malem, gak baik buat kesehatan," aku berucap pada Devan yang saat ini statusnya telah sah sebagai suami, setelah mengeringkan rambutku menggunakan hair dryer.
Devan kulihat hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara aku yang sudah siap dengan pakaian tidurku, segera mengambil alih baby Dara.
"Makasih ya bi, udah bantu jagain Baby Dara," ucapku.
"Sama-sama non, kan sudah jadi tugas bibi."
__ADS_1
"Ya sudah, bi Jum sekarang mandi. Oh ya bi, jangan pake air dingin!"
"Siap non," jawabnya dengan hormat dan aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bi Jum yang memang sudah kuanggap sebagai keluarga.
Malam ini Rama diminta neneknya untuk menemaninya tidur. Dan itu artinya, di dalam kamarku hanya ada aku, baby Dara dan Devan.
Cukup canggung harus berbagi ranjang dengan seseorang yang dulu selalu kuanggap sebagai teman dekat, bahkan aku sudah menganggap Devan seperti kakakku sendiri.
Saat aku kembali masuk ke dalam kamar dengan menggendong baby Dara, kulihat Devan juga sudah bersiap dengan pakaian kasualnya, yang saat ini posisinya tengah bersender di kepala ranjang.
Seperti bukan Devan, aku cukup pangling dan terkejut dengan penampilan Devan yang benar-benar berbeda dari biasanya yang pernah kulihat.
Aku membaringkan baby Dara di box tidurnya, kemudian ikut bersandar seperti yang Devan lakukan di sampingnya.
"Apa terjadi sesuatu sama mantan suamimu?"
"He'em, katanya sih kecelakaan dan kondisinya kritis."
"Mau jenguk?"
Aku menoleh ke arah pria yang ada di sampingku hingga posisi saat ini kami saling berhadapan.
"Aku izinkan kalau mau jenguk, temukanlah baby Dara dan Rama pada Ayahnya. Siapa tau dengan itu kondisinya lebih baik."
Aku merasa kata-katanya itu sangat adem untuk didengar. Devan sangat mengerti apa yang harus dilakukan dengan posisinya saat ini.
__ADS_1
"Tapi, izinkan aku juga ikut. Gak mau aja istriku yang cantik ini berpaling. Kamu tau kan Ra, betapa aku sudah lama menunggu momen ini, status ini, dan sekarang sudah kudapatkan. Mana mungkin aku sia-siakan," lanjut Devan lagi yang cukup membuatku merasa bersalah.
TBC.