Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Kesalahan yang sama


__ADS_3

Yang mau ngobrol bareng Othor yuk masuk grup chat Bulan. Grup GC Bulan ada di profil!!


Uwow..


Bukannya Ibu mertuaku menyuruhku untuk pergi? Lalu apa ini, kenapa dia dengan gamlangnya menyuruhku kembali dan mengurusinya?


Bang Angga sampai memohon dan bertekuk lutut supaya aku mau kembali tinggal satu atap dan mengurusi Ibunya.


Tidak ada pilihan lain. Bukankah memang sudah seharusnya istri mengikuti suami?


Untuk kali ini oke, aku memberi bang Angga kesempatan kedua.


Bang Angga bisa berubah saat jauh dari Ibunya, lalu saat mereka deket, apakah suamiku akan lagi terpengaruh hasutan-hasutan Ibunya?


Entahlah, aku hanya bisa berharap untuk itu.


Aku kembali lagi kerumah mertuaku, dan kembali lagi mengurusinya.


Di rumah itu ada Tika dan Ibunya tinggal disana.


"Abang belum kasih uang gaji ke Dira, kebetulan jatah belanja udah habis bang," ucapku pada bang Angga.


Karena memang bulan ini suamiku belum memberikan gajinya padaku, padahal tanggal gajiannya udah seminggu yang lalu.


"Segini dulu Ra, Abang mau beli sesuatu," bang Angga mengeluarkan uang 30ribu dari dalam kantong celananya.


Aku menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Bang Angga kembali memberi jatah belanja yang terbatas.


"Apa-apaan ini Bang, segini mana cukuplah," ucapku menatap nanar uang pemberian bang Angga.


"Kenapa Mbak?" Linda tiba-tiba saja menghampiri kami yang tengah berdebat kecil.


"Abangmu ini, masa cuma kasih jatah belanja 30ribu. Jaman sekarang cukup apa dengan uang segitu?" ucapku memprotesnya.


"Bukannya dulu kamu juga Abang kasih jatah belanja minim? 25ribu malahan. Tapi kamu bisa mengaturnya, Ra. Ini sementara Ra, Abang ada mau beli sesuatu, jadi uang gaji, Abang simpen sendiri," ucapnya.


"Ya Allah bang, jadi selama ini Abang cuma kasih Mbak jatah belanja 25ribu? Cukup apa bang jaman sekarang dengan 25ribu? Ini Mbak, Linda tambahin. Itung-itung bantu belanja di dapur, Linda sama Tika kan juga ikut makan," Linda menyodorkan uang 50ribuan padaku.


"Enak aja mau bantu buat belanja. Kamu itu gak wajib buat ngatur belanjaan di dapur Lin, yang wajib itu anak laki-laki, Angga sama Ilham. Krna Ilham gak tinggal disini, jadi ya Angga yang harus mengurus semuanya," Tiba-tiba saja Ibu mertuaku menyahut uang dari tangan Linda yang ingin diberikan padaku.


Aku mengepalkan tangganku merasa geram dengan wanita tua ini. Ingin rasanya kutendang dia sampai nyuksruk.


Dia pikir cuma anak laki-lakinya yang wajib mengurusi semuanya? Tidak wahai kanjeng ratu.

__ADS_1


Siapapun itu, jika masih hidup satu rumah, semuanya masih tanggung jawab bersama, apa lagi urusan makan. Toh Linda dan anaknya juga ikut makan, mana cukup dengan uang 30ribu untuk 6 orang.


"Ibu gak boleh gitu Bu, kasian Mbak Dira. Gimana dia harus mengatur uang 30ribu buat belanja, apa lagi Tika dan Linda juga ikut makan Bu, sudah seharusnya Linda juga ikut bantu. Dan Tika juga tanggung jawab Linda Bu, bukan kalian!" Linda memberikan Ibunya pengertian. Tapi percuma Lin, Ibumu itu kanjeng ratu yang gak pernah salah, dan gak pernah mau ngaku salah. Dialah maha benar dan sempurna. Orang lain tersiksa, bodo amat, yang penting dia gak. Ya begitulah kira-kira pemikirannya.


"Gak, pokoknya uang ini biar Ibu simpan. Jatah belanja dari Angga, segitu mah lebih dari cukup buat belanja. Toh Dira setiap hari cuma bisa masak tempe tahu, gak ada yang lain," jawab mertuaku.


"Paling juga nanti dihabiskan lagi," ucapku lirih namun masih terdengar di telinganya.


"Mantu kurang ajar kamu! Ngomong apa kamu barusan, hah? Gak dididik kamu gimana cara sopan sama orangtua?"


"Ibu, sudah bu. Dira, Abang mohon, untuk sementara!"


Aku tidak menjawabnya dan langsung pergi begitu saja membelanjakan uang yang katanya harus cukup untuk makan 6 orang itu.


Maafin Abang Ra!


Aku cukup penasaran, mau beli apa bang Angga sampai tidak memberikan lagi uang gajinya?


'Awas aja ya bang, kalo sampe aku tau uang itu Abang kasih lagi ke ibu, liat aja apa yang akan aku lakuin. Ini kesempatan keduamu sekaligus terakhir, setelah itu gak ada lagi kata maaf apa lagi kesempatan. Dan semuanya akan aku putuskan sendiri jalan terbaik untuk kita'


"Eh, Nadira, mau belanja?" Tanya Bude Ratna, tetanggaku.


"Iya bude,"


"Ayo bareng aja, ke warung Mbak Marni kan?"


"Oh iya Ra, beberapa hari lalu bude liat mertua kamu di warung Mbak Sulis loh,"


"Ngapain di warung Bu Sulis, bude?"


"Ngebakso mungkin," jawab bude Ratna.


Ya, warung Ibu Sulis yang tak jauh dari rumah kami adalah warung makan. Mulai dari Nasi bungkus, bakso, gado-gado, soto dan lain-lain.


Yang jadi pertanyaanku, dapet uang dari mana? Kalo Ibu jajan di warung Bu Sulis.


Apa jangan-jangan..?


Sejujurnya aku menaruh curiga dengan suamiku soal uang gaji yang diberikan padaku.


"Dira!"


"Eh, bu Sulis, beli apa bu?" Tanyaku padanya yang juga tengah berbelanja di warung Bu Marni.

__ADS_1


"Beli bihun Ra, biasa buat bakso," jawabnya dan aku hanya mengangguk tersenyum.


"Oh iya, Ibu mertuamu kemarin beli bakso loh di tempat Ibu, dua mangkok sekaligus,"


"Biarlah bu, mungkin pengen makan enak. Selagi punya uang sih gak papa, terserah dia," jawabku.


"Iya pastinya. Kan ada Angga, suami kamu yang selalu kasih uang ke ibunya," jawab Bu Sulis.


Apa itu artinya uang gaji Bang Angga diberikan sama Ibu? Aku cukup penasaran dengan ucapan Bu Sulis.


Tetanggaku yang rata-rata hobi bergosip itu pastinya akan menceritakan semua apa yang Ibu mertuaku lakukan. Saat aku tidak di depannya, mereka juga pasti membicarakanku. Hal biasa!!!!


Aku bergegas pulang setelah mendapatkan apa yang aku cari.


Bukannya langsung masuk dapur, aku menemui suamiku yang beruntungnya tengah libur bekerja. Aku hanya ingin memastikan, bahwa suamiku itu tidak mengulang kesalahan yang sama.


"Bang!"


"Hmm, ada apa?"


"Dira mau nanya sesuatu, dan Abang harus jawab jujur!"


"Iya ada apa Ra?"


"Kemana sebenernya gaji Abang? Apa Abang kasih lagi ke Ibu?"


Angga terdiam sejenak seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Jawab Bang! Kemana uang itu, apa Abang kasih lagi ke Ibu?" Tanyaku lagi setelah Bang Angga tak kunjung menjawab.


"Ra.."


"Memangnya kenapa kalo Angga kasih uang ke Ibu? Kamu gak terima? Aku adalah Ibunya, wajarlah seorang anak harus buat Ibunya seneng," sahut mertuaku tiba-tiba yang entah habis dari mana.


"Jadi bener bang, uang itu Abang kasih lagi ke ibu?"


"Maafin Abang Ra! Ibu bener, Abang gak mau jadi anak durhaka karna menelantarkan orangtua. Abang harap kamu mau ngerti," ucap bang Angga.


"Kita ceraiii bang!!"


Duar....


Hayoloh Angga, mau gimana?

__ADS_1


Like,kome, vote yang banyak


TBC.


__ADS_2