
Aku tertegun mendengar kalimat menyejukan hati yang terlontar dari bibir Devan yang saat ini sudah sah menjadi suamiku. Rasanya aku sangat bersalah padanya, karena belum bisa mencintainya meskipun aku telah sah menjadi istrinya. Maafkan aku Devan, tapi hatiku tidak ingin aku paksakan untuk menerima kembali sesosok laki-laki untuk memasukinya. Biarlah waktu yang akan menunjukan jalannya sendiri.
Aku dan Devan sepakat untuk menjenguk bang Angga di rumah sakit besok pagi. Tidak ada malam spesial layaknya pengantin baru, aku dan Devan tertidur dengan pulasnya setelah seharian menjadi ratu dan raja. Ditambah lagi posisiku yang masih dalam keadaan nifas, sangat tidak mungkin Devan akan berbuat macam-macam padaku.
***
Perbekalan sudah kusiapkan, khususnya punya baby Dara yang memang semuanya harus komplit. Mama menyarankan untuk mengajak bi Jum, supaya ada yang membantu menggendong baby Dara saat di sana nanti.
"Non apa kita mau nginep?"
"Kenapa bi?"
"Ya kalo nginepkan bibi bawa baju atuh non, masa iya bibi pake baju ini terus."
"Gak usah bawa apa-apa bi, kalopun keadaannya nanti kita harus nginep, soal baju bisa dibeli. Yang penting punya baby Dara aja," jawabku.
Setelah dirasa semuanya sudah siap, kami memulai perjalanan menuju Jakarta.
Rama dengan antusiasnya terlihat tak sabar untuk bertemu dengan Ayahnya. Aku sudah ceritakan pada anak sulungku itu, bahwa Ayahnya tengah di rawat di rumah sakit karena kecelakaan.
Aku bisa melihat semburat kesedihan di wajah Rama. Bagaimanapun bang Angga, aku tidak pernah meminta Rama untuk menjauhinya apa lagi sampai membencinya. Terlebih lagi Rama sudah merasakan berulang kali pelukan dan kasih sayang seorang Ayah, meskipun sedikit. Berbeda dengan baby Dara, bahkan saat pertama kali lahir ke dunia ini, baby Dara tidak merasakan gendongan atau kasih sayang kecil dari Ayahnya.
Aku yang memang sudah tau di rumah sakit mana bang Angga di rawat, hanya memberikan petunjuk jalan pada Devan.
Singkat cerita, mobil kami mulai memasuki lobby rumah sakit Permata Hijau. Hingga sampai di parkiran yang masih kosong, Devan berhasil memarkirkan mobilnya di sana.
Kami mulai menyusuri setiap lorong rumah sakit, hingga sampailah kami di kamar 305 tempat mantan suamiku di rawat.
Linda yang sudah tau kedatanganku menyambut kehadiranku dengan hangat. Meskipun aku tau hatinya tengah tidak baik-baik saja.
"Mbak Dira.." Linda langsung berhambur memelukku erat sambil menangis.
Aku membalas pelukannya dan mengusap lembut punggungnya."Yang sabar Lin."
Hatinya pasti sangat terpukul, cobaan begitu bertubi-tubi menghampiri keluarganya. Mulai dari pernikahan yang kandas, anaknya hamil di luar nikah, kakak sulungnya di penjara, dan sekarang kakaknya yang lain harus terbaring tak sadarkan diri di brankar rumah sakit.
__ADS_1
"Bang Angga Mbak.." ucapnya lemah terbata-bata.
Aku mengangguk sambil mengusap air mata yang membanjiri pipi Linda bahkan sampai mengenai bajunya.
"Ceritakan sama Mbak, bang Angga kenapa?"
Flashback On
Sudah hampir satu minggu bang Angga tidak berkerja dengan meliburkan dirinya sendiri atas kemauannya sendiri. Ke esokan harinya, bang Angga mendapat surat teguran dari bosnya yang diantar oleh Heri, rekan kerja bang Angga.
"Lo kenapa sih Ngga, pak Herman nanyain kenapa lo seminggu gak masuk kerja," Heri datang ke rumah bang Angga untuk menyerahkan surat teguran dari pak Herman, bos mereka.
"Lagi males aja kerja, gak ada semangat."
"Soal Nadira?" Bang Angga terdiam, namun bisa dipastikan pertanyaan Heri itu adalah benar.
"Lo mau sampai kapan kayak gini terus bro, move on !! Secara gak langsung perpisahan kalian itu karna kemauan lo sendiri."
"Entahlah Her, sulit dijelaskan. Aku hanya bisa berharap dengan rasa penyesalanku bisa rujuk lagi. Tapi Nadira.. sepertinya sudah benar-benar melupakanku. Minggu depan dia nikah, Her," wajah bang Angga begitu lesu mengatakan kebenaran yang sama sekali tidak ingin ia dengar.
"Mamanya sendiri yang minta supaya dia nikah dengan laki-laki pilihannya. Aku kalah Her, aku kalah.."
Air mata bang Angga lolos melewati pipinya.
Hatinya sudah dipastikan teramat sakit kehilangan seseorang yang spesial dalam hidupnya. Terlebih lagi ia akan benar-benar harus merelakan mantan istrinya menikah dengan orang lain, sangat amat menyakitkan bukan?
Tapi bagiku, itu belum seberapa dan belum sebanding dengan apa yang sudah kualami selama 5 tahun hidup penuh luka saat bersamanya.
Aku dan Rama, jauh lebih menderita jika bisa kuceritakan semuanya dari awal tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
Hatiku tak cukup kuat harus membuka perban luka lama yang jelas luka itu masih belum sepenuhnya sembuh.
"Gue turut prihatin Ngga, tapi jangan berlebihan. Pak Herman bener-bener membutuhkan lo Ngga, ya secara lo tau kan, cuma lo yang bisa dia andelin selain gue."
Bang Angga terlihat mengangguk,"Besok aku kerja."
__ADS_1
"Siplah, jangan cengeng lo kalo mau jadi temen gue."
Keesokan harinya, bang Angga benar-benar membuktikan kata-katanya untuk kembali bekerja seperti biasa.
Di lokasi, tepatnya di lantai dua, bang Angga berjalan mengambil beberapa alat motor yang diperlukan. Tapi sangat disayangkan, ia berjalan dengan pikirannya yang tidak fokus. Tanpa sengaja bang Angga menginjak oli yang tumpah tepat di depan anak tangga lantai 2. Bang Angga terpleset, ia jatuh dari tangga lantai dua hingga membuat kepalanya terbentur sana-sini dan mengakibatkan gegar otak.
Dengan sigap, Heri dan teman lainnya membantu bang Angga dan melarikannya ke rumah sakit.
Flashback Off
Aku turut menangis mendengar cerita lengkap Linda tentang kronologi kejadian kecelakaan yang menimpa mantan suamiku.
"Ibu mana Lin?"
"Ibu, lagi cari makan Mbak."
Linda mengajakku masuk ke dalam untuk melihat bagaimana kondisi bang Angga saat ini.
Amat menyedihkan melihat bang Angga terbaring tak sadarkan diri di brankar rumah sakit. Kenangan bersamanya mendadak memutar di kepalaku.
Aku meneteskan air mata, Devan yang mengerti kondisiku, ia memelukku memberikan sebuah kenyamanan untuk meluapkan kesedihan.
Drama tangisan telah usai, Linda yang penasaran dengan laki-laki yang datang bersamaku terus saja menatapnya.
"Dia...
"Dia Devan, Lin, suami Mbak!"
"Mbak udah nikah lagi? Kapan?"
"Tepat di hari kamu telfon Mbak, Lin, saat itu kami tengah melangsungkan akad nikah."
'Suami Mbak Dira kelihatan baik, pengertian, sepertinya penyayang. Andai saja aku memilikinya, mungkin akulah yang beruntung'
TBC.
__ADS_1