Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Rahasia Masa lalu


__ADS_3

Ada rahasia tabir di masa lalu kehidupan mantan Ibu mertuaku, yang mana Ibu Dewi sudah mengatakannya kalau Ibu Salma adalah wanita perebut.


Jelas Linda akan bertanya-tanya tentang pernyataan Ibu Dewi, karena tidak ada satupun yang tau bagaimana kebenarannya.


"Jelaskan sama saya! Maksud Ibu apa? Kenapa Ibu bilang kalau Ibu saya sudah merebut suami adik Ibu?"


Mantan Ibu mertuaku sudah mulai gelisah, duduknya sudah tak lagi nyaman. Jika saja ia bisa berteriak, sudah dipastikan suara membahananya akan memenuhi gedung klinik. Sayangnya, koreng-koreng yang menyebar di wajahnya membuat ia sedikit sulit membuka mulut. Akan terasa sakit dan kaku jika dipaksa.


"Wow Salma, hebat juga rupanya kamu bisa menyimpan rapat-rapat kebusukanmu pada anak-anak hasil kumpul kebo ini selama puluhan tahun. Ck, ck..aku bener-bener salut Salma."


"Stop Bu, tolong jangan hina Ibu saya. Dari tadi saya nanya kenapa Ibu bisa bilang kalo Ibu saya perebut dan anak hasil kumpul kebo, maksudnya apa?"


Kurang lebih 36 tahun yang lalu..


Flashback ON


"Mbak, kok Mas Wira susah dihubungi ya? Terakhir Mas Wira telfon seminggu lagi dia pulang. Ngabarin gak pulang juga gak," perempuan yang tengah hamil besar itu mengeluh kepada kakaknya.


"Ranti, suami kamu itu lagi cari bekel buat persiapan lahiran kamu, mungkin pekerjaannya diperpanjang. Tapi Alhamdulillah dong, buat tambah-tambah," jawab kakaknya yang bernama Dewi itu.


"Iya sih Mbak, tapi gak biasanya loh Mas Wira gak ngabarin aku, dan gak biasanya juga nomornya susah dihubungi kayak gini."


"Mbak tau kamu pasti khawatir kan? Tapi Mbak yakin kok, suami kamu itu pasti baik-baik aja Ran. Jangan terlalu dipikirin, kasian dedek bayinya nanti ikutan setres."


"Ah, Mbak nakut-nakutin aja."


Satu minggu setelah Ranti mengeluhkan suaminya kepada sang kakak, kini ia semakin dibuat khawatir dengan ketidakpulangan suaminya sampai di minggu ke dua.


Ranti kembali mengeluhkan kekhawatirannya pada Dewi, namun kali ini Dewi tidak lagi memaklumi, justru ia sendiri menaruh curiga pada adik iparnya yang tak kunjung pulang itu.


"Biar Mbak susul suamimu, kamu baik-baiklah di rumah!"


"Iya Mbak, Mbak hati-hati."


Dengan bekal alamat yang sudah diberikan Ranti, Dewi memutuskan untuk ke Jakarta menyusul adik iparnya.


Ia akan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.


Singkat cerita, Dewi sampai di tempat Wira bekerja. Matanya melirik kesana-kemari mencari-cari keberadaan Wira. Dan pada akhirnya ada bapak-bapak yang mengaku sebagai mandor menghampiri Dewi.


"Cari siapa Mbak?"


"Eh, apa betul disini ada karyawan bernama Wira pak?"


"Wira yang orangnya kurus bukan?"

__ADS_1


"Sebentar pak, saya ada fotonya," Dewi merogoh tasnya dan mengambil foto pernikahan Ranti.


"Wira ini pak yang saya cari," ucapnya sambil menunjukan foto di tangannya.


"Iya Mbak, pak Wira memang bekerja disini. Tapi sudah sekitar dua minggu yang lalu dia izin pulang, katanya istrinya mau melahirkan."


"Tapi dia tidak pulang ke rumah Pak, bahkan istrinya yang tengah hamil besar menunggunya. Ponselnya susah dihubungi."


"Waduh, saya kurang tau kalo itu Mbak. Coba Mbak tanya sama pak Mail, beliau temen deket pak Wira selama disini."


"Yang mana orangnya pak?"


"Itu yang lagi makan dekat pilar."


"Terimakasih pak, saya kesana dulu."


"Silahkan bu, silahkan!"


Dewi berjalan menghampiri dua orang yang tengah makan di dekat pilar. Entah yang mana pemilik nama Mail, tapi yang jelas orangnya ada disana.


"Permisi pak.."


"Iya."


"Saya cari pak Mail," ucap Dewi sesopan mungkin.


"Saya Dewi pak, kakaknya Wira, tujuan saya kesini mencari keberadaan Wira. Kata pak mandornya, pak Mail yang selalu deket sama adik saya, apa bapak tau dimana Wira?"


"Lah, bukannya dua minggu yang lalu sudah pulang? Bahkan istrinya sampai menyusul kesini Mbak, lagi hamil besar kan?"


"Istri?"


"Iya Mbak, Mail pulang karna dijemput sama istrinya."


"Istrinya itu adik kandung saya pak, memang dia hamil besar sekarang, tapi gak pernah adik saya menyusul Wira kesini."


"Lah, terus perempuan hamil besar waktu itu siapa? Kata Mail sih istrinya."


"Dia bukan istrinya pak, mungkin selingkuhannya."


"Ah masa iya sih Wira selingkuh, orang kalo kerja tiap minggu dia pulang Mbak," ucap Mail seolah tak percaya dari apa yang selama ini ia lihat.


"Hah, pulang? Sudah 3 bulanan Wira gak pernah pulang pak. Bapak yang bener aja."


"Betul Mbak, semua teman-teman disini juga tau, kalau setiap sabtu sore Wira itu selalu pulang. Balik lagi ke tempat kerja minggu sore Mbak."

__ADS_1


"Rumah kami jauh loh pak, kami di bandung. Mana mungkin Wira tiap minggu pulang."


"Maaf Mbak, tapi yang dibilang sama pak Mail memang benar. Pak Wira selalu pulang setiap minggu. Kalau kemana sih kami gak tau Mbak," jawab teman Mail.


"Ya sudah pak, terimakasih atas waktunya. Kalau gitu saya permisi."


"Iya Mbak."


Dewi cukup lemas mendengar kenyataan pahit ini. Yang paling membuatnya khawatir adalah Ranti, adiknya. Bagaimana ia akan menjelaskan ini kepada Ranti? Ranti tidak akan percaya dengan apa yang akan dikatakannya.


Dewi mampir di warung yang tak begitu jauh dari tempat Wira biasa bekerja.


Ia duduk di bangku teras warung dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


Mendadak muncul Ibu paruh baya pemilik warung.


"Dari mana Neng?"


"Eh, maaf bu, numpang berteduh sebentar."


"Gak papa, gak papa, iya cuacanya lagi panas-panasnya. Dari mana emang neng?"


"Dari tempat kerja bangunan dalem situ bu, nyari adik saya."


"Siapa neng? Ibu mah hapal semua sama orang-orang bangunan dalem. Soalnya mereka makan terus belanja apa kan kesini."


"Wira bu, Ibu kenal?"


"Oh Wira, ya kenal atuh neng. Tapi bukannya Wira udah pulang ya neng, sama Salma kan? Lagi hamil besar istrinya."


"Salma? Salma siapa bu?"


"Istrinya Wira kan? Namanya Salma."


"Adik saya itu Ranti bu, bukan Salma."


"Ah yang bener neng, Salma selalu cerita ke Ibu kok. Dia kesini mau nyusul Wira, katanya sih perutnya udah sakit-sakitan, mungkin mau melahirkan."


"Inilah masalahnya bu. Adik saya, istrinya Wira memang lagi hamil besar. Tapi gak pernah adik saya nyusul suaminya ke sini. Dan kata pak Mail, Wira selalu pulang tiap minggu, sedangkan sudah tiga bulan Wira belum pulang bu. Sudah dua minggu ini nomornya susah dihubungi."


"Astagfirullah, jadi Salma itu bukan istrinya Wira?"


"Saya gak tau siapa Salma bu, adik saya itu Ranti, istrinya Wira. Sekarang saya gak tau harus cari Wira kemana," Ucap Dewi dengan lesu.


"Ibu tau neng dimana tinggalnya Salma. Salma pernah bilang sama Ibu, kalo dia tinggal di kontrakan gak terlalu jauh dari sini. Emmm, kalo gak salah nama kontrakannya Kontrakan Anggrek neng, adanya di jalan Manowari. Coba aja neng kesana!"

__ADS_1


Jeng-jeng-jeng...


TBC.


__ADS_2