
Pagi sekali, Linda menelfonku untuk segera ke rumah sakit.
Kulihat Devan masih nyenyak dengan tidurnya setelah semalam aku berhasil menuntaskan sesuatu yang tersimpan dalam tubuhnya. Meskipun dalam keadaan masih bernifas, bukan berarti aku tidak bisa membahagiakan suamiku.
Rama yang sudah bangun dan dimandikan bi Jum tengah menikmati sarapannya.
Rupanya suaraku telah mengusik tidur nyenyak Devan.
"Siapa?" Tanya Devan dengan suara khas bangun tidur.
"Linda, dia minta kita ke rumah sakit sekarang!"
"Bunda, ayo kita lihat Ayah bun, ayo bun ayo!"
"Iya sayang, kita tunggu papa Devan dulu ya nak."
"Papa, Rama mau lihat Ayah," suaranya bergetar hingga buliran beningnya lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Iya sayang, Papa mau mandi, setelah itu kita ke rumah sakit."
Dengan sabar Rama menunggu Devan menyelesaikan mandinya. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
"Rama.."
"Kenapa Papa lama sekali bun?"
__ADS_1
Aku terkekeh mendengarnya,"Mandi harus bersih dong, kalo gak nanti badannya gatel-gatel, kan jadi percuma. Sini duduk!"
Rama akhirnya menyerah dan duduk di tepi ranjang bersamaku. Aku mengelus pucuk rambutnya."Rama kenapa?"
"Rama pengen ketemu Ayah," lagi-lagi suaranya mulai tak biasa, Rama kembali meneteskan air matanya.
"Papa selesai.."
Aku menatap Devan tanpa berkedip. Tapi ada sesuatu yang membuatku terbahak seketika.
"Buahaha, di kamar mandi ngapain?"
"Ya mandilah sayang, ngapain lagi."
"Mainan sabun kali.."
"Rambut, tangan, sama punggung Papa banyak sabun," Rama berucap seketika, sementara aku hanya tertawa geli melihatnya.
Setengah jam kemudian, aku dan Devan sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Aku cukup penasaran juga dengan Linda yang mendadak menelfon di pagi buta.
***
"Angga bangun Angga, bangun..!" Aku yang baru saja sampai di depan ruang rawat bang Angga mendengar suara membahana mantan Ibu mertuaku. Ia meraung-raung memanggil bang Angga dan memintanya untuk bangun.
Perasaanku mulai tidak enak, aku langsung membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Dua orang wanita tengah memeluk tubuh bang Angga sambil menangis.
"Lin..!"
"Mbak.." Linda berhambur memelukku erat, menumpahkan semua tangisnya dalam dekapanku.
"Bang Angga Mbak, bang Angga.." Linda seolah tidak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tanpa Linda melanjutkan kata-katanya, aku sudah bisa mengerti apa yang ingin dikatakannya. Air mataku juga ikut menetes menjadi saksi atas kepergian mantan suamiku.
"Ayah..!" Rama berlari menghampiri bang Angga.
"Nenek, kenapa nenek menangis? Ayah pasti sembuh nek, Rama sudah minta sama Allah buat sembuhkan Ayah."
"Diamlah kamu Rama! Ini semua gara-gara kalian. Angga gak akan pergi kalau kalian gak disini. Dasar pembunuh, kalian pembunuh Angga, pembunuh. Pergi kalian, pergi..!"
Ibunya bang Angga merasa tidak terima dengan kenyataan yang mengatakan bahwa bang Angga saat ini telah tiada. Bahkan ia berprasangka kalau bang Angga tiada karena kehadiranku dan Rama.
"Cukup bu, cukup! Mau sampai kapan Ibu kayak gini. Bukan salah Mbak Dira dan Rama bu, ini sudah takdir. Bang Angga gak akan merasa sakit lagi, dia sudah bebas dan tenang tanpa harus memikirkan beban hidupnya, beban hatinya. Bang Angga sudah tenang bu. Kita harus ikhlas!"
"Ibu gak ikhlas Linda, cuma Angga yang bisa Ibu andalkan. Cuma Angga yang bisa mengerti Ibu."
"Iya, karna bang Angga terlalu mengerti Ibu sampai-sampai Abang harus ngerasain ini semua. Ibu sadar gak sih bu, ini semua salah Ibu, Ibu yang menghancurkan semuanya. Ibu menghancurkan hidup anak-anak Ibu, hidup Linda, Bang Angga, dan Mas Ilham."
Plak...
__ADS_1
"Dasar anak kurang ajar, gak ada Ibu yang menghancurkan hidup anak-anaknya. Apa yang Ibu lakuin itu adalah yang terbaik buat kalian, bukan menghancurkan, ngerti kamu!"
TBC.