Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Hidup Angga dan Nadira


__ADS_3

Aku sudah berada di halaman rumah yang sudah kutinggalkan sejak 5 tahun lalu. Tidak banyak yang berubah dari keadaan rumah orangtuaku. Dengan segala doa yang sudah ku ucapkan dalam hati, dan penuh dengan rasa yakin, aku menggandeng tangan Rama untuk melangkah sampai di depan pintu.


Aku memencet bel rumah yang masih sama seperti dulu.


"Ya sebentar," suara seseorang perempuan dari dalam rumah.


"Cari siapa ya Mbak?" Asisten rumah tangga yang aku tau bukanlah dia, yang membukakan aku pintu.


"Mama ada?" Tanyaku.


"Mama? Maksudnya Ibu Mety?" Dan aku menganggukinya. Wajar saja jika dia tidak mengenalku, karena sudah sekian lama aku tidak pernah datang kerumah ini. Bahkan mungkin saja fotoku sudah di buang oleh Mama.


"Ibu Mety lagi pergi Mbak, Mbak siapa ya?"


"Aku Nadira Bi, anak Mama Mety,"jawabku.


"MasyaAllah non Dira ya? Ya Allah masuk non, masuk!" Bibi tampak bersemangat menyambut kedatanganku. Sementara Mama yang tengah pergi entah bagaimana reaksinya kalau tau aku kembali kerumah ini.


"Bibi bawain barang-barang non ke kamar ya?!" tawarnya.


"Eh, gak usah bi, nanti aja. Sambil nunggu Mama pulang, Mama pasti ke gereja kan Bi?"


"Iya non, ibu ke gereja," jawab Bibi dengan ramah.


"Nama bibi siapa? Apa sudah lama bekerja disini?" Tanyaku berbasa-basi.


"Nama bibi Jumiati non, panggil aja bi Jum. Bibi udah tiga tahunan kerja disini semenjak bi Nani pulang kampung," aku mengangguk mengerti.


Bi Nani adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mama sedari aku masih sekolah SMA. Bi Jum menceritakan berhentinya Bi Nani karena harus mengurus suaminya yang sering sakit-sakitan.


"Ibu Mety banyak cerita tentang non Dira sama bibi. Kasihan Ibu non, ibu sering nangis karna sangat merindukan non Dira,"


"Apa bener begitu bi?" Melihat bi Jum mengangguk aku merasa terharu.


"Alhamdulillah," gumamku membuat bi Jum tersenyum.


Mama sudah banyak cerita tentang aku pada Bi Jum yang menikah dengan bang Angga yang beda keyakinan dan aku mengikuti keyakinan suamiku.


"Bunda, Rama lapar,"


"Eh, anak ganteng lapar ya, ayo ikut bibi ke meja makan!" Ajak bi Jum pada Rama. Rama mengangguk dan mengikuti langkah Bi Jum dan akupun menyusulnya.


Tak selang berapa lama saat aku dan Rama tengah menikmati makanan kami, bel rumah kembali berbunyi.


Aku semakin deg-degan mendengar itu, karena sudah pasti itu adalah Mama yang baru saja pulang dari ibadahnya.


Bi Jum tampak buru-buru membukakan pintu.


"Lama sekali Bi?"

__ADS_1


"Eh, maaf bu lagi di dapur tadi," Mama mengangguk dan ia melangkah masuk kedalam rumah.


"Barang-barang siapa ini bi?" Tanya Mama saat melihat semua barangku masih di sofa ruang tamu.


"Eh itu bu, barang milik..


"Mama..!" Aku memanggil Mamaku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Mama menatapku, seperti orang yang baru pertama kali bertemu, Mama memandangku dari atas hingga bawah.


"Gak mungkin Nadira pulang kan bi, mungkin cuma bayangan saya aja," ucap Mama pada bi Jum.


"Itu non Dira Bu, anak ibu sudah kembali," ucap Bi Jum membuat Mama menatapku lagi dan mengucek beberapa kali matanya.


Mama berjalan mendekatiku, memastikan apakah aku benar-benar pulang?


Mata Mama berkaca-kaca melihatku yang benar-benar nyata di depannya.


"Na-Nadira, ini beneran kamu?"


Aku mengangguk,"Iya Ma, ini aku Dira, anak Mama."


Grep...


Mama memelukku, tangisnya pecah. Akupun membalas pelukan hangat seorang ibu yang sudah lama aku rindukan.


"Mama sudah lupakan itu sejak lama Dira, tapi kamu begitu marah sama Mama sampai-sampai gak pernah mengunjungi Mama. Mama kesepian nak, semenjak Papamu meninggal,"


"Papa meninggal Ma?" Aku semakin sedih dengan rasa penyesalan amat dalam. Setelah 5 tahun berlalu kami tidak pernah bertemu dan sekarang aku mendapati kenyataan pahit atas meninggalnya Papaku.


"Bunda..!" Rama menghampiriku.


"Apa itu anakmu, Ra?" Tanya Mama.


"Iya Ma, ini Rama anak Dira. Rama, ayo cium tangan nenek!" Rama menurut, ia mencium tangan neneknya.


"Manisnya. Bi Jum, barang-barang tadi milik Dira kan? Bawakan segera ke kamarnya ya!"


"Baik bu," Bi Jum dengan cepat membereskan barang-barangku dan membawanya ke dalam kamar.


"Menantu Mama gak ikut?" Tanya Mama tiba-tiba yang tak melihat keberadaan bang Angga.


Aku terdiam, entah mulai dari mana aku menjelaskan semua permasalahan yang selama ini aku hadapi. Tetapi Mama begitu paham arti diamku, hingga ia bertanya,"Ada yang terjadi Dira?"


Dengan helaan nafas berat, aku mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhirnya aku memutuskan untuk bercerai dari bang Angga. Mama menitikan air mata mendengarkan dengan seksama semua keluh kesahku yang selama ini kuhadapi dengan Rama.


"Percayalah, Tuhan akan membalas semua perbuatan mereka," ucap Mama.


5Tahun tak bertemu, Mama banyak berubah. Dulu Mama yang sering marah-marah, egois namun sekarang tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Kita akan menyadari betapa pentingnya menjaga perasaan saat kita kehilangan. Dan itu adalah fakta.


Aku dan Mama bercerita panjang lebar, mengobati rasa rindu kami yang sudah lama tak bersua. Sementara Rama, kubiarkan ia bermain dengan Bi Jum.


***


Lalu gimana kehidupan mantan suamiku?


Saat ini bahkan seterusnya, bang Angga hidup dengan rasa penyesalan yang sangat dalam karena telah menyia-nyiakan istri dan anaknya.


Tiga bulan berlalu, aku dan Rama merasa bahagia saat ini hidup di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayangi kami.


Mungkin ini adalah buah manis atas kesabaranku selama ini hidup dengan penuh derita. Dan aku juga tidak sabar menanti kelahiran anak keduaku yang tak akan lama lagi.


Sementara berbeda dengan keluarga bang Angga. Ibunya sudah sering sakit-sakitan, hingga membuat bang Angga dan Linda kualahan mengurusinya. Kenapa kualahan? Baru sadar kalo ibumu itu cerewet?


Rasa sakit masih membekas dan basah dalam hatiku jika mengingat semua kenangan hidupku bersama bang Angga dan juga ibunya.


"Bang, Linda bener-bener gak tahan buat ngurus ibu. Apa kita cari suster aja ya bang," usul Linda pada kakaknya.


"Gaji Abang gak sebesar itu harus membayar asisten buat ngurus Ibu, Lin,"


"Tikaaaaa, Lindaaaa, Anggaaaa, ambilin ibu air," teriaknya dari dalam kamar.


Tika yang melewati kamar neneknya itu seketika menghampiri.


"Tika, ambilin nenek air, nenek haus!"


"Nenek nyuruh Tika? Ck males banget. Ambil aja sendiri,"


"Nenek susah buat jalan Tika, bantu Nenek!"


"Makanya sama menantu itu jangan terlalu kejam nek. Ini karma nenek karna udah jahat sama bude Dira. Mau minum ambil aja sendiri, Tika males, capek pengen istirahat," Perutnya yang membesar membuat ia selalu mengeluh lelah.


"Angga...."


"Ada apa bu, Angga lelah!"


"Ibu haus Angga," bang Angga langsung mengambilkan air minum untuk ibunya.


"Bu. Angga, Linda sama Mas Ilham sepakat mempekerjakan suster buat ngurus ibu," ucap bang Angga.


"Kenapa harus suster yang ngurus ibu? Sayang uang kalian kalo harus bayar suster. Kenapa gak minta Dira aja buat ngurus Ibu? Gratis!"


Hadeh, gedek nulisnya geh..


Vote, like, komennya ya..


TBC.

__ADS_1


__ADS_2