
Posisi dengan masa nifas kurang lebih 2 mingguan, aku harus dihadapkan dengan pernikahan untuk ke dua kalinya.
Antara siap dan tidak, benar-benar tanpa ekspresi aku menanggapi pernikahanku dengan Devan yang akan berlangsung besok pagi.
Entah kenapa, baby Dara sudah dua hari ini selalu rewel. Aku sampai kualahan menenangkannya, beruntung ada Mama dan bi Jum yang selalu membantu secara bergantian menenangkan baby Dara.
Puncaknya pagi ini, semua orang tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahanku. Meskipun ijab kabul tidak berlangsung di rumah ini, tapi setidaknya harus ada dekorasi di halaman serta dalam rumah.
Devan memutuskan menjadi mualaf sama sepertiku semenjak setahun yang lalu. Aku menghargai Mama sebagai rasa toleransi, maka dari itu aku mengusulkan untuk menikah di gedung balai. Sederhana saja, aku tidak ingin terlalu muluk-muluk menghabiskan banyak dana hanya untuk menjadi ratu sehari.
Mama bener-bener welcome dengan keputusan yang kubuat, bahkan Devan juga setuju dengan pendapatku.
"Rewel lagi Ra?" Mama menghampiriku yang masih berusaha menenangkan baby Dara.
"Iya Ma," jawabku singkat dan tidak terlalu fokus dengan kehadiran Mama di kamarku.
"Atu..tu..tu..sini sayang sama nenek. Cup-cup Baby Dara kenapa? Kok rewel sekali sih, hem? "
Mama mengambil alih baby Dara dari tanganku. Aku merebahkan tubuhku di ranjang dengan posisi setengah duduk. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan ngantuk akibat bergadang semalaman.
Tiba-tiba saja aku teringat kata-kata bi Jum semalam.
"Kalo bayi rewel terus biasanya ada yang dirasa non, entah itu badannya ada yang sakit atau karna demam juga. Tapi kalo itu gak terjadi, salah satunya ada konflik bathin antara anak sama orangtuanya non. Dan biasanya, kalo anak perempuan lebih ngehnya ke Ayah. Coba non Dira hubungin Ayahnya baby Dara!"
Begitulah kata-kata bi Jum semalam yang ikut bergadang menemaniku.
Aku mencerna berulang kali kata-kata itu.
__ADS_1
Aku begitu malas bahkan tidak ada niat untuk menghubungi bang Angga. Tapi karena anak, apa aku harus seegois itu?
Baby Dara berhasil menghentikan tangisannya setelah ditenangkan neneknya. Aku bernafas lega, melihat baby Dara tertidur.
Mungkin lain kali aku akan hubungi bang Angga, pikirku.
"Istirahatlah, persiapkan dirimu untuk besok Ra," ucap Mama setelah menidurkan baby Dara di box tidurnya.
Aku mengangguk, kemudian membenahkan posisiku untuk berbaring.
****
Pagi ini, kepalaku cukup merasa pusing dan mata begitu berat. Rasa kantuk tidak bisa kutahan lagi, padahal pagi ini aku harus bersiap untuk melangsungkan pernikahanku dengan Devan.
Lagi-lagi aku harus menenangkan baby Dara yang rewel dan enggan tidur itu.
"Kenapa pagi sekali Mbak, ini masih gelap loh," gerutuku pada Mbak perias yang bernama Vera.
"Mbak Dira ini kayak baru pengalaman aja, kan sebelumnya udah nikah, pasti tau dong jadwal waktunya dirias," jawabnya sambil tersenyum.
Lagi-lagi ingatanku memutar di waktu 5 tahun lalu saat aku mau menikah dengan bang Angga. Sangat sederhana, hanya bermodalkan kebaya putih dengan rok batik yang aku dan bang Angga beli di pasar. Dan bang Angga sendiri hanya mengenakan kemeja panjang putih dan celana dasar berwarna hitam. Aku ingat betul waktu itu kami berhasil membelinya karena tawar menawar dengan harga 500 ribu menjadi 450 ribu. Tidak ada MUA, dekor ataupun perias. Benar-benar murni, aku merias diriku apa adanya berbekal dengan mec up yang kupunya.
Aku menanggapi Mbak Vera dengan senyum, aku meminta padanya untuk tetap di kamarku selama aku mandi.
Beruntung Baby Dara masih tidur setelah semalaman melek dengan tangisnya.
Melihat pantulan diriku di cermin, aku merasa seperti bidadari yang ada di film-film. Sempurna!!!
__ADS_1
Aku sendiri sampai pangling melihat perubahan diriku sebelum dan sesudah di mec up.
"Ada yang mau ditambah gak Mbak?" Tanya Mbak Vera.
"Gak ada Mbak, ini aja sudah cukup, sangat sempurna," jawabku dengan senyuman.
Aku sudah siap dengan pakaian dan riasanku, sementara baby Dara, kali ini kubiarkan Mama untuk mengurusinya.
Tepat di pukul 8:00, aku serta rombongan sudah tiba di gedung balai pernikahan yang tempatnya tak begitu jauh dari rumah.
Terlihat Devan dengan pakaiannya yang elegan tengah duduk menghadap orangtua berkacamata.
Devan menatapku tak berkedip, aku menjadi artis dadakan yang mana sebagai tokoh utamanya. Menjadi pusat perhatian semua orang, aku begitu malu dan menundukkan pandanganku.
Aku duduk di sebelah Devan, keringat dingin mulai keluar dari dalam tubuhku. Yang jelas aku cukup merasakan grogi luar biasa karena pernikahanku kali ini disaksikan banyak orang. Berbeda dengan pernikahan sebelumnya, bang Angga hanya menghadirkan 5 orang tetangga, satu kakaknya dan satu adiknya, serta anak-anak mereka. Ibunya tidak hadir, begitupun dengan orangtuaku, mereka saling tidak merestui pernikahan kami.
"Apa sudah siap?" Tanya orangtua berkacamata yang duduk berhadapan dengan Devan yang hanya terhalang meja.
Devan mengangguk. Tangannya mulai berjabatan dengan tangan pak penghulu.
Tiba-tiba saja bi Jum menghampiri dan memberikan ponsel yang ternyata milikku.
Aku melihat layar ponsel dengan panggilan yang sudah tersambung.
"Ada berita buruk Mbak..
Kira-kira kenapa ya ?
__ADS_1
TBC.