
Segimanapun dia menghasut suamiku, tentu Devan tidak akan pernah kemakan omongannya.
Aku hanya bisa berbathin dalam hati mengenai Ibunya bang Angga. Mau sampai kapan dia terus-terusan memusuhiku?
"Mau gimana pun istri saya, itu urusan saya. Dan saya tentu lebih percaya sama Dira."
Kata-kata yang tegas..
Setelah perdebatan kecil itu, aku dan Devan memutuskan untuk mencari penginapan. Mengingat kami belum beristirahat sama sekali saat sampai di Jakarta.
Aku mengusulkan untuk tinggal di kontrakn yang pernah aku tempati dulu, tapi sayangnya Devan menolak, dan ia berkata..
"Apa yang aku punya, apa yang aku miliki, sekarang adalah milikmu juga. Selama ini aku kerja untuk masa depanku, anak-anak dan istriku. Aku bukan mantan suamimu yang akan membiarkan kalian tinggal di kontrakan kecil dan sempit seperti itu. Kita ke hotel saja!"
Itulah kata-kata Devan sebelum kami sampai di hotel.
Devan memesan dua kamar yang sudah pasti satu kamar lain untuk bi Jum.
"Makasih ya bi, udah dibantu gendong baby Dara. Sekarang bi Jum istirahat gih, pasti capek kan?"
"Heheh lumayan non, ya udah bibi permisi non, kalo butuh bantuan panggil aja," aku menganggukinya.
Menjelang sore hari, dengan cekatan Devan memandikan Rama. Hari ini, urusan Rama Devan menghendlenya. Dia selalu melarangku saat ingin mengurusi Rama, bahkan baby Dara juga hari ini bi Jum yang mengurusinya. Aku ditelantarkan mantan suamiku dan dibahagiakan oleh temanku, apa ini yang namanya buah manis kesabaran?
Hari ini aku merasa diperlakukan layaknya putri raja. Bahkan Devan memintaku untuk selalu istirahat, istirahat dan istirahat. Dia selalu bilang..
"Meskipun aku tidak pernah merasakan bagaimana melahirkan, tapi aku tau sedikit ilmunya. Maka dari itu, janganlah terlalu capek, lukamu belum sembuh. Beristirahat-lah!"
Sweetnya, kalo ginikan sudah pasti hatiku luluh hehehe
__ADS_1
Devan membaringkan tubuhnya dengan menjadikan kedua pahaku sebagai bantalnya.
"Dev.."
"Hem.."
"Thank you very much."
"Untuk apa?"
"Buat semuanya. Makasih banyak untuk semua perlakuan manismu. Aku gak ta..
"Stttttt, gak perlu dilanjutin. Itu sudah jadi tugasku sebagai suamimu Ra. Membuat istri dan anak-anak kita bahagia, itu adalah tugasku."
Aku mengulas senyum mendengar pernyataan Devan."Dan maaf juga, aku belum bisa kasih hakmu Dev. Tapi aku.."
"Tapi apa?" Devan menatapku dengan tatapan penuh arti. Aku bisa membaca tatapan cintanya untukku.
Cup...
"Itu maksudmu?"
Aku membelalakkan mata hingga tak berkedip menatap Devan yang memberikan ciuman dadakan seperti tahu goreng 500 an yang baru di goreng saat dipesan.
Lihatlah ekspresi wajahnya, Devan malah terkikik geli melihatku yang begitu polosnya atas apa yang terjadi.
"Apa? Mau lagi?"
Ih, Devan benar-benar membuatku tidak waras. Bisa-bisanya dia malah menawariku dicium dadakan untuk ke dua kalinya.
__ADS_1
Aku yang malu atas perlakuan Devan, segera menutupi seluruh tubuhku dengan badcover berwarna putih itu.
Masih terdengar dengan jelas suara tertawa kecil Devan.
Bukannya pergi entah kemana, Devan malah menarik perlahan selimut yang menutupi wajahku.
"Masih ada nyawanya kok," ucapnya dengan tangan yang ia dekatnya ke hidungku.
"Apaan sih Dev, jelaslah aku masih hidup. Aneh-aneh aja deh."
"Ya makanya, kalo pake selimut itu paling gak cuma sebatas dada aja gak mukanya juga."
"Akukan..
"Malu?" Aku mengangguk kecil saat Devan memangkas kalimatku.
"Aku suamimu, kenapa harus malu. Meskipun belum, aku juga bakal ngerasain semuanya dari kamu. Termasuk..."
Tubuh Devan semakin mendekat, tatapan penuh harap terlihat jelas di matanya. Suara nafasnya bisa kudengar, detak jantungnya yang ab normal juga meronta-ronta.
Aku memejamkan mata penuh penghayatan. Berharap semuanya akan indah dirasa dan dikenang.
Meskipun aku belum bisa memberikan hak Devan sebagai seorang suami, dan tugasku sebagai seorang istri, tetapi aku bisa memberikan hal lain yang bisa membuat suamiku bahagia.
Tapi kok lama ya...
"Cie..pengen lagi ya? Hahaha"
Anjirrr kena prank hahahha
__ADS_1
TBC