
Setelah drama Ibu mertuaku usai, opss sekarang adalah mantan mertua. Aku bergegas pergi meninggalkan rumah itu. Aku memesan dua ojek untukku dan juga Rama.
Bang Angga menatap kepergian kami, tatapan penuh arti bahkan aku sendiri tidak mengerti akan tatapannya itu. Dibilang penyesalan, tapi nyatanya itu hanya bertahan sesaat. Entahlah, hanya dirinya dan Tuhan yang tau.
Aku kembali ke kontrakan yang pernah aku tempati bersama Bang Angga. Beruntung pemilik kontrakan masih mau menerimaku.
"Bunda, Rama lapar!" Bibir mungil itu bersuara.
"Ayo, kita pergi beli, Rama mau makan apa?" Tanyaku.
"Apa bunda punya uang?"
"Kenapa Rama bertanya seperti itu?"
"Rama gak mau nyusahin bunda. Kalo bunda gak punya uang, Rama mau kok makan mie hehe," ucapnya sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya.
Aku berjongkok dan memegang tangan mungilnya,"Mulai sekarang, Rama gak perlu lagi takut gak bisa makan enak. Bilang aja sama bunda apa yang Rama mau, Insyaallah bunda bisa penuhi keinginan Rama,"
"Beneran bunda, berarti sekarang kita bisa makan ayam?!"
Aku mengangguk.
"Alhamdulillah, yey horeee Rama makan ayam. Ayo bunda kita pergi beli, Rama gak sabar lagi," ucapnya sambil menarik-narik tanganku.
Keinginan Rama begitu sederhana, bisa makan dengan lauk ayam ataupun ikan saja sudah bisa membuatnya bahagia.
Ya Tuhan...
Tidak dipungkiri perasaan seorang Ibu begitu amat sedih melihat anaknya yang tidak bisa mengutarakan banyak keinginan karena kondisi orangtuanya.
Rama begitu mengerti aku, paham bagaimana keadaanku, sehingga ia selalu menahan apapun yang diinginkannya.
Pernah aku melihat Rama sedang menatap teman sebayanya memakan jajan dan Rama hanya bisa melihat iri mereka dengan menelan salivanya sendiri.
Sungguh miris bukan?
Bagaimana perasaan seorang Ibu akan baik-baik saja setelah melihat anaknya yang menginginkan sesuatu yang sama seperti teman-temannya.
Aku dan Rama membeli nasi bungkus di warung yang tak begitu jauh dari kontrakan. Selain makan di tempat, aku juga membungkus nasi untuk kami makan sore nanti.
***
Sementara di rumah Bang Angga, mantan Ibu mertuaku tengah memberikan beberapa petuah pada anaknya.
"Pokoknya ibu gak mau kalo sampe kamu bawa lagi perempuan gak tau diri itu kerumah ini. Bila perlu kamu nikah lagi cari perempuan yang lebih kaya dan panasin tuh mantan istri kamu, biar dia tau rasa," ucap Ibu.
Bang Angga tidak begitu memperdulikan ocehan Ibunya. Pikirannya saat ini dipenuhi dengan aku dan Rama.
"Kamu denger ibu kan Angga! Angga..." teriak Ibunya membuat Bang Angga terkejut.
"Iya kenapa bu?"
__ADS_1
"Kamu dengerkan apa yang barusan ibu bilang?"
"Iya bu," jawab bang Angga dengan lemah.
"Bagus, dan ingatlah selalu kata-kata ibu!" Ucapnya lagi lalu pergi meninggalkan bang Angga.
Bayangan kehadiranku dan Rama memutar di pikiran bang Angga dan juga penglihatannya.
Ia tersenyum melihat bayangan itu.
"Ra..!" Bayangan itu menghilang begitu saja dari pandangannya.
Selamat tinggal Bang, selamat menikmati penyesalanmu dan bayangan kami.
Lagi dan lagi air mata bang Angga lolos tanpa permisi. Ia menangis setelah semuanya terjadi.
'Maafin Abang Ra, Abang sangat menyesal sekarang. Maafin Ayah, Rama, ayah belum bisa jadi suami dan ayah yang baik buat kalian. Ya Allah, masih adakah kesempatan ketiga untukku bisa kembali dengan istri dan anakku?' Bang Angga bertanya dalam hatinya.
Tiba-tiba pikirannya teringat akan sesuatu.
"Kontrakan! Ya, pasti Dira kekontrakan itu," gumam Bang Angga langsung beranjak dan menyambar kunci motornya.
Motor Angga terparkir di depan kontrakan yang pernah menjadi tempat tinggalnya bersama Nadira.
"Ra, Dira, buka pintunya Ra!" Bang Angga menggedor-gedor pintu.
"Eh, Angga, cari Dira ya?" Ibu pemilik kontrakan itu menghampiri Angga.
"Tadi siang sih dia kesini sama Rama, tapi udah satu jam yang lalu Dira pamit pergi," jawab Ibu pemilik kontrakan.
"Apa Ibu tau Dira pergi kemana?"
"Ibu gak tau Angga, coba telfon saja!"
Bang Angga baru teringat sesuatu, selama ini ia melarangku untuk bermain ponsel. Dan pada akhirnya ponsel milikku ia jual. Aku pun tau itu, tapi tidak pernah mempermasalahkan apa lagi mengungkitnya.
Dan sekarang disaat bang Angga kehilangan jejakku, ia merasa kebingungan harus mencari kami dimana.
'Kamu dimana Ra?' bathin Bang Angga bertanya.
Mukanya yang lusuh dan penampilan yang acak-acakan bang Angga mencoba mencari keberadaanku dan juga Rama.
***
Lalu kemana aku pergi? Setelah bercerai dengan bang Angga, aku tidak lagi punya tujuan untuk hidup di sini. Aku memutuskan untuk kembali ketempat dimana aku dilahirkan.
Dengan ini aku hanya bisa berharap, keluargaku termasuk orangtuaku mau menerimaku dan juga Rama sebagai cucu mereka.
"Kita punya segalanya Nadira, apa yang kamu cari dengan bekerja di tempat lain?"
"Dira mau berusaha sendiri tanpa harus dibantu Ma. Tolong mengertilah!"
__ADS_1
"Dira mau bilang kalo Dira akan menikah dengan pilihan Dira sendiri, maafin Dira Ma!" lanjutku lagi.
"Pria bernama Angga itu?" Tanya Mamaku dan aku menganggukinya.
"Gak!! Mama gak setuju Nadira. Lebih baik kamu menikah dengan Reno, dia pria yang mapan, baik, dan yang terpenting satu keyakinan dengan kita,"
"Tapi Dira gak cinta sama Reno Ma, Dira cinta sama Bang Angga!"
Plak....
"Sadarlah Nadira! Dia beda keyakinan sama kita, dia pria biasa Ra, dan Mama sangat yakin, kamu gak akan pernah bisa bahagia hidup bersamanya,"
"Dira gak perduli itu Ma,"
"Kurang ajar kamu!"
Plak...
"Jangan harap Mama mau merestui kalian. Mulai sekarang, kamu bukanlah anakku lagi! Jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini. Karna anakku Nadira telah tiada!"
Begitulah kata-kata terakhir Mamaku 5 tahun lalu. Menikah dengan bang Angga yang beda keyakinan membuat Mamaku murka. Bahkan tidak mau menganggapku sebagai anaknya lagi.
Lalu sekarang, apakah Mamaku masih sama? Membenciku sama seperti 5 tahun lalu.
Dalam doa aku hanya bisa berharap hatinya akan luluh setelah kejadian berlalu begitu lama.
"Bunda, apa Rama punya nenek lagi?"
"Iya sayang, Rama punya nenek lagi, ibunya bunda," jawabku sambil tersenyum mengelus pucuk rambutnya.
Aku terkejut melihat Rama tiba-tiba menangis.
"Rama kenapa sayang? Kenapa Rama menangis?"
"Rama gak akan dipukul lagi kan bunda sama nenek bunda?"
"Apa Rama sering dipukul sama Nenek Ayah?" Tanyaku cukup penasaran. Karena yang aku tau, Rama sering dimarahi saat kutinggalkan dengan mantan Ibu mertuaku.
Rama mengangguk sambil sesenggukan.
Tanganku mengepal geram mengingat mantan Ibu mertuaku yang kejam itu.
Bukan hanya sifatnya yang buruk, tapi perlakuannya juga sama. Aku tidak akan pernah melarang siapapun memberi Rama peringatan, tetapi hanya ketika anakku bersalah.
"Aku bersumpah, hidup kalian gak akan pernah tenang!"
Kata orang, doa orang terzdolimi itu manjur hehe.
Like, komen, votenya yang banyak ya..
TBC.
__ADS_1