
Dua bulan pasca kepergian bang Angga, aku mendapatkan kabar dari Linda bahwa Ibunya saat ini tengah sakit yang cukup parah. Tangan, kaki dan wajahnya penuh koreng. Berulang kali Linda membawanya ke rumah sakit, dan berbagai macam obat-obatan yang sudah dibelinya, namun tak ada satupun obat yang mampu menyembuhkan penyakit kulit yang tengah di derita Ibunya.
Semakin lama koreng-koreng itu mengeluarkan banyak nanah dan menimbulkan aroma amis. Linda mengeluh kepadaku tentang apa yang tengah ia hadapi saat ini, tangisnya tercurahkan. Aku menyarankan untuk membawanya ke dokter spesialis kulit, namun karena keterbatasan biaya, Linda hanya mampu membawanya berobat jalan dengan dokter umum.
Aku sempat meminta izin kepadaku suamiku untuk membantunya, namun dengan tegas Devan melarangku. Dia pasti sudah sangat teramat sakit hati hingga berbuat seperti ini, karena Devan yang aku kenal begitu sangat murah hati.
"Maafkan aku sayang, tapi kali ini aku nolak permintaanmu. Sakitnya hanya di badan, bukan di hati. Lalu gimana dengan lukamu selama ini, Ra..? Aku sebagai suamimu harus memperhitungkan semuanya supaya hidup istriku dan anak-anak kita terlepas dari trauma masalalu."
Begitulah jawaban Devan saat aku meminta izin padanya untuk membantu Linda.
Rasa sakitku memang tidak akan hilang begitu saja, atau bahkan tidak akan sama sekali. Tapi aku juga manusia, masih memiliki hati nurani untuk bersimpati.
Jika sudah seperti ini, ya sudahlah. Aku hanya bisa menuruti kata-kata suamiku. Aku hanya bisa membantu Linda dengan menawarkan dokter terbaik yang kebetulan adalah temanku.
****
"Tika, bisa bantu Ibu nak? Kita harus bawa nenek ke klinik. Budemu menyarankan Ibu buat bawa nenek ke temennya."
"Aduh bu, Tika capek ah. Lagian jijik kali bu, ogah ah...kalo Ibu mau ya Ibu aja jangan ajak-ajak Tika. Atau anggep aja itu karmanya nenek karna udah jahat kesemua orang."
"Astagfirullah Tika, mau gimana pun dia itu nenekmu Tik, Ibunya Ibu."
"Tapi karna nenek Tika gak punya masa depan Bu, secara gak langsung nenek udah ngehancurin hidup Tika. Ibu bisa bayangin, gimana Tika ngadepin pertanyaan orang-orang, temen-temen Tika kalau Tika hamil anaknya pakde Ilham, kakak kandung Ibu. Tika malu bu, dan sekarang apa? Tika akhirnya keluar sekolah dan hidup Tika udah gak ada tujuan, padahal sebenarnya kehidupan Tika masih panjang."
__ADS_1
Gadis remaja yang tengah duduk di kelas 1 SMA itu terpaksa harus memutuskan pendidikannya karena tragedi yang menimpanya.
Sangat memilukan..
Linda akhirnya berjuang sendiri membawa Ibunya ke klinik yang aku tawarkan. Linda memakaikan jilbab, masker, sarung tangan dan kaos kaki pada tubuh Ibunya yang tak berdaya itu, supaya tidak terlalu diketahui banyak orang.
Sesampainya di klinik, Anggun, yang kerap lagi disapa Dokter Anggun menelfonku memberitahu kalau pasien rujukan dariku telah datang.
"Lo harus tangani semaksimal munggin Nggun, gue percaya sama lo."
"Hati lo terbuat dari apa sih Ra? Gue heran aja, Lo cerita ke gue kalo lo sudah diperlakukan gak baik sama mantan Ibu mertua lo itu. Tapi lo masih welcome mau ngebantu dia, kalo gue yang jadi lo, Ra, gue mikir seribu kali."
"Sudahlah, itu cuma demi rasa kemanusiaan. Lakuin yang terbaik ya Nggun, gue tutup dulu."
Anggun memakai sarung tangan serta masker untuk membuka penutup koreng pasien.
"Kurang lebih hampir dua bulan dok."
Anggun mengangguk-angguk, dia tidak akan banyak bertanya karena semuanya sudah aku ceritakan dengan rinci sesuai dengan apa yang Linda ceritakan padaku.
"Apa Ibu saya bisa sembuh dok?"
"Saya hanya bisa melakukan yang terbaik yang saya mampu, selebihnya itu sudah takdir maha kuasa. Tolong diperhatikan jangan sampai digaruk, itu malah akan membuat lukanya semakin parah dan melebar."
__ADS_1
"Baik dok.."
Setelah menerima obat dari Anggun, Linda membawa Ibunya pulang.
Di depan klinik, ada wanita paruh baya dengan intens memperhatikan Linda dan Ibunya.
"Permisi, maaf apa kamu Linda?"
"Iya saya Linda, Ibu siapa? Kenapa bisa tau nama saya?"
"Kamu Linda anaknya Salma?"
"Iya. Apa Ibu kenal Ibu saya?"
"Lalu dia..?" Matanya melirik ke arah mantan Ibu mertuaku yang terduduk di kursi roda.
"Dia Ibu saya."
"Salma sakit? Huh, kok bau amis ya.."
"Maaf Bu, Ibu ini siapa?" Tanya Linda lagi.
"Saya Dewi, kakak dari perempuan yang sudah direbut suaminya oleh Ibumu."
__ADS_1
"Suami? Rebut? Maksud Ibu apa?"
Jeng-jeng-jeng...