Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Pindah


__ADS_3

Pagi sekali, kulihat Mas Ilham dan Mbak Lala sudah siap dengan koper dan barang mereka. Rupanya ucapan Mbak Lala semalem, Mas Ilham menurutinya.


Sedih sih tentunya, karena sudah pasti aku lagi yang akan mengurus ratu kesayangan bang Angga.


Waktu hanya sebulan lepas dari mertuaku, rasanya belum puas jika dibandingkan disaat aku mengurusinya selama hampir 5 tahun.


Ibu mertuaku yang baru saja keluar dari sarangnya begitu terkejut melihat ada banyak barang di depan pintu kamar Mas Ilham.


"Ilham, Lala, kenapa barang kalian semua disini?"


"Ilham mau pulang bu," jawab Mas Ilham.


"Kenapa pulang? Ibu ikut ya Ham, pokoknya Ibu harus ikut kalian, Ibu males kalo harus diurus lagi sama perempuan gak tau diri itu," lirikan matanya tertuju padaku yang tengah menyapu.


"Ibu mau ikut kami pulang, yakin?" tanya Ilham.


Ibu mertuaku mengangguk,"Yakin sekali!"


"Ya udah, Ibu mau siap-siap dulu," lanjutnya lagi.


Mas Ilham terlihat menghela nafasnya dengan berat dan kemudian mengangguk.


Mbak Lala yang sedari menahan emosi tentu saja makin geram dengan suaminya yang men-iyakan permintaan Ibunya.


Brak..


Mbak Lala membanting pintu kamar dengan kasar. Tujuannya pulang adalah supaya terlepas dari mertuanya, tapi sekarang Ibu malah memutuskan untuk ikut dengan mereka.


Aku tersenyum puas dalam hati, itu artinya aku masih bisa bebas dan terlepas dari mertuaku yang super wah itu.


Mas Ilham yang mengerti kenapa istrinya, seketika ia menghampirinya.


"La..!"


"Stop Mas! Mas tau aku pengen pulang karena apa? Kenapa malah mengiyakan buat Ibu juga ikut kita, Mas. Mau jadi apa hidupku nanti? Mas sama Angga ternyata sama aja!" gerutu Mbak Lala.


"Mas gak bisa nolak Ibu, La. Mau gimana dia, Ibu adalah Ibunya Mas, ibu kamu juga."


"Ibu aku? Bahkan orang seperti ibumu itu kurasa tidak pantas disebut sebagai Ibu. Ibu macam apa yang nyiksa anaknya, gak mau menghargai perasaan anaknya, tau berterimakasihpun gak,"


"Cukup La, jangan lagi bicara buruk tentang ibuku!"


"Belain aja terus Mas, tentu mas tau apa yang akan aku lakuin kalo sabarku sudah kelewat batas!" Ancam Mbak Lala.


Aku juga ingin sepertimu Mbak Lala, tetapi saat ini bukan saat yang tepat. Perlahan tapi pasti, aku juga akan menuntut suamiku dengan dua pilihan, hanya dua pilihan!


Biar bang Angga juga sadar dengan puing-puing kesalahannya selama ini.


"Abang berangkat, Ra,"

__ADS_1


"Iya bang, hati-hati!"


Bang Angga memutuskan untuk berangkat bekerja setelah pulangnya Mas Ilham.


Aku merasa bebas, benar-benar bebas kali ini.


Hanya saja, aku masih belum terbebas dari jatah belanja yang diberikan bang Angga padaku.


Setelah perginya bang Angga, aku membuka lemari dan mencari sesuatu disana.


"Alhamdulillah, masih rapi," gumamku melihat amplop berwarna coklat itu.


Aku membukanya, terlihat kartu debit milikku dan black card serta buku tabungan masih tersimpan rapi di dalam amplop.


Jangan mengira aku datang kerumah mertuaku hanya membawa badan, meskipun tidak terlihat, aku memiliki tabungan yang cukup untuk masa depan Rama.


Apa bang Angga tau? Tentu tidak.


Bang Angga tidak tau sama sekali kalau aku punya tabungan. Kalau sampai dia tau, aku yakin, tabunganku juga pasti habis demi Ibunya.


Selama bertahun-tahun aku menyimpannya, dan karena kesabaranku yang selalu berharap dan menunggu bang Angga bisa berubah. Namun nyatanya, harapan itu tak kunjung datang. Yang ada suamiku itu makin parah, dan ini saatnya aku menggunakan tabunganku untuk Rama.


Aku mengajak Rama berbelanja membelikan semua apa yang selama ini ia mau namun belum terpenuhi. Mulai dari makan enak, beli baju, beli mainan dan semuanya yang Rama inginkan.


"Apa Rama seneng hari ini?"


Anak kecil itu terlihat mengangguk,"Rama seneng bunda, akhirnya Rama bisa makan ayam. Gak seperti di rumah, Rama cuma bisa makan tahu, tempe, bayam kadang kanggung. Bunda, kita sering-sering makan ayam ya?!"


Ya Tuhan...


Apa bang Angga tidak melihat bagaimana terlantarnya Rama? Miris sekali nasib anak ini, harus punya ayah sepertimu bang.


Tapi mulai sekarang tidak lagi, akan aku tunjukkan siapa aku sebenarnya. Dan untukmu, Rama, bunda janji akan penuhin semua keinginan Rama yang selama ini Rama tahan-tahan.


Bunda sekarang bisa belikan Rama permen yang banyak, bukan hanya dengan uang seribu.


Meskipun aku dan Rama sudah kenyang dengan membeli makanan di luar, saat pulang kerumah aku tetap masak untuk makan suamiku saat pulang nanti.


Jangan harap aku akan membungkuskan untuk bang Angga. Bukannya aku pelit, tetapi melihat bagaimana suamiku selama ini, aku ingin mencoba melakonkan perannya.


Seperti biasa, bang Angga akan pulang saat jam makan siangnya.


"Ra...!"


"Hmmm," jawabku tanpa melihat bang Angga.


"Dapet uang dari mana kamu beli mainan Rama?" Tanya bang Angga.


Oh, mungkin suamiku itu tahu saat Rama tengah bermain di halaman rumah dengan mainan barunya.

__ADS_1


"Simpenan," jawabku malas.


"Kok Abang gak pernah tau kamu punya simpenan?"


"Emang harus?" Tanyaku.


"Menurut Abang harus, karena kita suami-istri,"


Prok..prok..prok..


Aku bertepuk tangan sebagai apresiasiku untuk suami tercinta.


"Oh ya? Lalu gimana sama Abang selama ini? Apa abang ada jujur masalah uang sama Dira? Gak bang! Abang banyak bohongnya, dan itu karena Ibumu. Abang menelantarkan kami, anak dan istrimu itu juga karena Ibu. Lalu kenapa aku harus jujur dengan tabunganku, gak ada urusannya sama sekali juga sama Abang," ucapku.


"Abang lakuin semua itu karna Abang gak mau dicap sebagai anak durhaka Ra,"


"Dan Abang sudah tercap sebagai suami dan ayah yang zdolim! Dan ya, mungkin Abang mampu mendapat gelar sebagai anak terbaik, tapi untuk suami dan ayah, Abang tidak termasuk nominasi," aku mencecar suamiku. Biar dia tau, kalau seorang Nadira tidak lemah begitu saja.


"Maafin Abang Ra, Abang janji! Abang janji kali ini akan berubah, percaya sama Abang kali ini Ra!"


"Apa Abang yakin?"


Aku mengamati betul-betul manik mata suamiku. Sebetulnya aku masih ragu dengan bang Angga. Dari kejadian yang sudah-sudah, bq


bang Angga juga mengatakan hal yang sama. Namun pada kenyataannya, ya beginilah, semua perubahannya itu hanya terucap tapi tidak dibukti.


"Abang akan ikutin semua apa yang kamu mau Ra," ucapnya lagi.


"Oke, mulai sekarang, Abang tidak boleh memandang Dira hanya sebelah mata, apa lagi soal Ibu. Uang gaji, harus Dira yang pegang, dan mulai sekarang Abang gak boleh ngatur soal uang belanja Dira setiap harinya, gimana?"


Bang Angga tampak terdiam seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Sudahlah bang, Abang itu gak mungkin percaya gitu aja sama Dira apa lagi soal uang, iyakan?"


"Baiklah, Abang ikuti apa kemauan kamu,"


"Satu lagi bang, Dira gak mau tinggal di rumah terkutuk ini, apa lagi serumah lagi dengan Ibumu. Dira mau kita pindah!"


"Tapi Ra, kita harus tinggal dimana?"


"Abang masih punya uang, dan dengan uang itu kita bisa ngontrak,"


"Tapi itu tabungan Ra, masa mau dipake lagi,"


"Kontrakan paling mahal berapa sih bang? Nyari yang di bawah satu juta juga banyak bang. Gimana dengan Ibumu yang udah ngabisin duit puluhan bahkan mungkin ratusan juta dengan sia-sia?"


Kira-kira kedepannya Angga bakalan berubah gak ya...?


Staycun terus di DP ya..

__ADS_1


berikan komen, like, vote kalian yang banyak


TBC.


__ADS_2