Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Calon Suami?


__ADS_3

"Maafkan Ayah, Rama!"


Air mata ketulusan pada akhirnya jatuh juga dari mata mantan suamiku.


Ya, kali ini maafnya aku bisa katakan itu adalah ketulusan dari dalam hatinya. Semoga gak lagi meleset.


Bang Angga menangis di hadapanku dan juga Rama. Meskipun aku mengatakan itu adalah ketulusan, tapi hatiku seolah tertutup untuk lagi perduli dengannya.


Semua yang kulakukan dengan sisa-sisa rasa sabarku selama hidup bersama bang Angga, kupikir semua itu juga tidak ada harganya di mata suami, terlebih lagi Ibu kesayangannya.


Lalu sekarang untuk apa aku perduli? Bukan balas dendam, hanya saja manusia seperti mereka tidak perlu dikasihani. Cukup diberi maaf, tapi tidak untuk terjun kembali ke jurang yang curam.


"Ra.."


Tatapan bang Angga beralih padaku yang tengah menggendong baby Dara.


Tanpa menjawab, aku menaikkan sedikit alisku.


"Maafkan Abang!"


"Harus berapa kali lagi abang bilang maaf, apa abang gak bosen? Aku aja bosen dengernya bang. Lagi pula apa yang perlu dimaafin? Kisah kita sudah berakhir bang, dan aku sudah nyaman bahkan bahagia hidup tanpa kamu. Hanya cukup aku dan anak-anak."


"Abang nyesel Ra, sangat nyesel. Abang mau kita rujuk lagi, kamu mau kan Ra, jadi istri abang untuk kedua kalinya?"


"Lalu aku akan menderita lagi karna ulahmu, difitnah sana-sini sama Ibumu, dan lagi harus muter otak dengan uang belanja 25ribu. Apa itu maksud Abang?"


"Abang janji! Gak akan kayak gitu lagi Ra. Benar-benar janji, kali ini Abang bisa kamu percaya Ra, karna abang sangat yakin, bisa berubah seperti yang kamu mau."


"Dulu juga kata-kata itu sering abang ucapin. Tapi buktinya mana? Abang berubah cuma sesaat, saat jauh dari Ibu, lalu tinggal serumah lagi dan abang balik lagi jadi orang jahanam yang gak punya hati, bahkan abang tega mendzolimi istri dan anak hanya karna apa katanya, bakti sama orangtua. Bener gitu kan? Basiiii bang!"

__ADS_1


Bang Angga kalah telak, ia terdiam setelah mendengar kata-kataku yang seolah itu adalah ingatan atas perlakuannya dulu. Memang benar, biar aku ingatkan lagi semua yang sudah dia perbuat, bisa saja kan karena baktinya sama sang kanjeng ratu sampai dia lupa kesalahannya pada istri dan anak. Bila perlu jedotin aja kepalanya ke tembok, biar gak pura-pura amnesia. Lama-lama gregetan juga.


"Apa secepat itu kamu lupain Abang, Ra?"


"Lupa? Ya jelas gaklah bang, gak akan aku lupa. Apa lagi rasa sakit yang selama ini kalian berikan untukku dan juga Rama, mana mungkin aku lupa."


"Kesalahan Abang sangat fatal ya, Ra? Sampe kamu kayaknya benci banget sama Abang."


Yaelah, pake nanya lagi..


Duh Bang Angga, otaknya geser apa gimana sih? Jelas-jelas salahnya itu fatal, masih gak sadar juga? Ck, ck..


Mimpi apa, Tuhan..


punya mantan suami gini amat..


"Menurut Abang? Selama 5 tahun aku hidup bernegosiasi dengan rasa sabar yang makin hari makin menipis. Tapi pada akhirnya negosiasiku ditolak, dan inilah yang terjadi."


Namun tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Bi Jum, dengan sedikit berlari membukakan pintu pagar dan melihat siapa yang datang bertamu.


"Siapa Bi?"


"Aku Ra," Suara seorang pria datang menghampiriku.


"Hallo cantik, gak kangen sama Papa? Papa punya hadiah buat Baby Dara. Yuk gendong sama Papa!" Devan mengambil alih Baby Dara dari tanganku.


Ternyata yang datang bertamu selain mantan suamiku, ada Devan, pria yang dengan kesabarannya menungguku. Tapi aku..?


Ah, entahlah..

__ADS_1


Bang Angga kulihat tatapannya memperhatikan Devan yang dengan akrab menggendong baby Dara, dan mengajaknya mengobrol kecil. Terlihat kecemburuan di mata bang Angga melihat pemandangan di depannya. Bagaimana bisa? Dia Ayahnya, tapi anaknya lebih dekat dengan orang lain. Itu karena...


Ah, kalian bisa menilainya sendiri


"Apa kamu sudah menikah lagi Ra?"


Sontak suara yang keluar dari bibir bang Angga membuatku dan Devan menatapnya.


Devan mengeryitkan dahinya melihat bang Angga.


"Siapa Ra?" Tanya Devan, yang mungkin lupa-lupa ingat dengan sosok bang Angga yang pernah menjadi saingannya dulu.


"Aku su..


"Mantan suamiku, Bang Angga," pangkasku dengan cepat.


Aku tahu apa yang akan bang Angga katakan pada Devan. Dia akan mengatakan kalau dirinya adalah suamiku.


Ck, hellow..akta cerai aku punya, jadi jangan coba-coba untuk mengakui apa lagi ngaku-ngaku.


Devan mengangguk-angguk mendengar jawabanku.


"Kenalin, Devan te..


"Calon suamiku!" Pangkasku lagi.


Nah lo..


Komen, Like, Vote yang banyak ya..

__ADS_1


biar Othor makin semangat upnya


TBC.


__ADS_2