
Aku mendelik tajam mendengar Ibu mertuaku meminta uang gaji bang Angga.
Apa dia tidak ingat sudah ketahuan menghabiskan gaji suamiku?
"Buat apa bu? Angga simpan sendiri aja. Kalo Ibu ada mau beli apa, tinggal bilang, Angga turutin kalo Angga mampu," Wah, manisnya.
Andai kamu juga berkata demikian padaku bang, tidak mungkin hidupku penuh keluhan seperti ini.
"Istrimu itu boros Angga, mau kamu? Uangmu habis entah kemana. Belajarlah nabung meskipun sedikit!"
"Nabung? Bahkan selama ini bang Angga sudah nabung, tapi kemana uang itu? Kenapa Ibu habiskan?" Aku geram mendengar ocehan mertuaku, dan seketika aku langsung menghampirinya.
"Kamu gak terima, uang Angga Ibu habiskan, hah? Dia itu anakku, sudah seharusnya menafkahiku juga. Enak aja, mentang kalian udah nikah, terus Ibu gak boleh pake uang kalian, gitu? Mau jadi anak durhaka, kalian hah?"
Begitulah Ibu mertuaku, egoisnya selalu ditutupi dengan gelarnya yang sebagai seorang Ibu. Demi kepentingannya sendiri, menganggap apa yang dilakukannya adalah bentuk berbaktinya anak pada orangtua.
"Tapi gak dengan cara berbohong dan menghabiskannya. Anak Ibu itu sudah punya keluarga, ada anak dan istrinya yang harus dinafkahi dan dicukupi kebutuhannya, bukan cuma Ibu," ucapku kembali melawan.
"Sudah-sudah! Abang bosen denger kamu ribut terus sama ibu, Ra,"
"Bahkan Dira lebih bosen menghadapi sikap kalian yang gak dewasa itu,"
Aku pergi meninggalkan mereka yang masih setia mengerumuni ratu kesayangannya.
Mbak Lala dan Mas Ilham sudah melihat bagaimana pinternya Ibu dalam berakting.
Apa kalian masih mau memakiku?
Lalu Tika kemana?
Anak itu entah keluyuran kemana, bahkan Tika jarang pulang kerumah saat sepulangnya dari sekolah.
Ibu mertuaku meminta Tika untuk lanjut sekolah selagi perutnya belum membesar.
***
Rupanya ada kemajuan sedikit pada bang Angga, meskipun Ibunya meminta kembali uang gajinya, tetapi kali ini bang Angga tidak memberikannya dan memilih menyimpannya sendiri.
Aku merasa lega, setidaknya tidak sesulit itu untuk meminta tambah jatah belanjaku.
"Bang, uang gajikan sekarang Abang pegang sendiri, tambahinlah bang jatah belanja! Sekarang semuanya serba mahal bang, Dira juga harus mikirin Rama yang kadang minta jajan," ucapku dengan raut wajah memelas berharap suamiku mau mengabulkannya.
Melihat tangan bang Angga merogoh kantong celananya, mataku berbinar seketika, bibirku merekah mengulas senyum saking bahagianya.
__ADS_1
"Ini! Abang tambahin 5ribu. Sisanya mau Abang tabung,"
Senyumanku mendadak berubah menjadi masam setelah melihat uang di tangan bang Angga.
"Yaelah bang, kirain mau ditambah lagi 25ribu. Ya segaknya jatah belanja Dira sehari 50ribu, ini mah apa cuma 30ribu doang," aku menyebikan bibir menatap nanar uang itu.
Memang ya, kalo sudah watak agak sulit buat dirubah.
Huh..aku hanya mampu menghela nafas sabar yang mulai menipis.
"Cukup-cukupin aja, Ra. Kita harus punya tabungan untuk masa depan anak-anak," ucapannya itu tidak salah, hanya saja perlakuannya sangat keliru. Bukan ngirit namanya, tapi kelewat pelit.
Ya mau gak mau deh, lagi-lagi aku harus dipusingkan dengan jatah belanja yang terbatas.
Pagi ini, rumah terasa seperti habis kemalingan.
Suara Ibu mertuku yang amat aduhai membahana itu memenuhi seluruh ruangan rumah.
Terdengar dari ocehannya, ia tengah menceramahi Mbak Lala.
"Apa kamu sengaja mau bunuh Ibu, hah? Ini nasi masih panas, bukannya didinginkan dulu malah nyuruh Ibu makan. Menantu macam apa kamu, kurang ajar sama orangtua! Kamu sama Dira gak ada bedanya, sama-sama gak becus!"
Wah, ternyata namaku masih dibawa-bawa dalam ceramahnya.
"Kan bisa ibu dinginkan dulu, baru dimakan," jawab Mbak Lala sependengaran telingaku.
"Alah, kamu itu ngeles terus kalo dibilangin. Bilang aja kamu sengajakan kasih Ibu makan nasi panas, iyakan? Ngaku aja, biar suami kamu itu tau gimana kamu berlaku pada Ibunya," cecar mertuaku lagi.
Mbak Lala yang sudah sangat kesal itu terlihat membanting piring di depan Ibu.
Prang...
"Eh, beraninya kamu mecahin barang milik Ibu, hah? Kurang ajar kamu, Lala. Gak tau diri kamu!"
Aku melihat Mbak Lala pergi begitu saja setelah Ibu memarahinya.
Aku tidak perduli itu, bahkan aku lebih kenyang mendapatkan perkataan yang bahkan lebih menyakitkan dari itu.
Sore harinya, terlihat bang Angga dan mas Ilham yang baru saja pulang kerja memasuki rumah.
Dan disitulah drama Ibu mertuaku kembali dimainkan.
"Ilham!"
__ADS_1
"Ya, kenapa bu?"
"Bilangin istri kamu buat jangan kurang ajar sama ibu, apa lagi ngelawan ibu! Kalo dia gak mau disebut mantu durhaka dan bakal kualat nantinya," begitulah kata-kata mertuaku saat mengadu pada anaknya tentang istri mereka.
"Nanti Ilham coba ngomong sama Lala bu,"
"Jangan cuma coba, tapi memang harus! Bila perlu tinggalin aja istri yang begitu, gak becus ngurus Ibu,"
"Gak mungkin Bu, Ilham sudah punya dua anak yang harus Ilham pikirin masa depannya. Mau gimana pun Lala, Ilham gak akan pernah meninggalkannya!" ucap Mas Ilham tegas.
Berbeda dengan bang Angga, suamiku. Dia seperti kerupuk yang kecemplung air. Melempem, loyo gak punya pendirian.
"Oh gitu, jadi kamu juga mulai berani ngelawan ibu, iy? Putuskan sekarang pilih Ibu atau istrimu!"
"Ilham gak bisa milih salah satu diantara kalian berdua. Kalian sama-sama penting dalam hidup Ilham, sama-sama Ilham butuhin. Jadi Ibu gak bisa ngasih Ilham pilihan kayak gini Bu, tolong jangan kayak anak kecil!"
"Kualat kamu Ilham, ibu bersumpah hidup kamu gak akan bahagia selama kamu terus durhaka sama Ibu. Surga kamu masih ada sama Ibu, Ilham. Ibu pastikan kamu gak akan masuk kesana selama ibu gak meridhoinya!"
"Dan Ilham juga gak akan bisa masuk sana selama istri Ilham terzdolimi, ibu. Keduanya sama-sama penting, Ilham gak bisa milih,"
Aku cukup salut dengan kakak suamiku itu, dia begitu tegas dan punya pemikiran sendiri atas keluarganya, demi keutuhan keluarga kecilnya.
***
Jam sudah menunjukan jarum pendeknya berada tepat di angka 10, aku yang merasa ingin ke kamar mandi segera beranjak dari ranjang.
Harap maklumlah, bumil memang selalu menguasai kamar mandi, dan itu hal wajar.
Saat melewati kamar Mas Ilham, aku tidak sengaja mendengar Mbak Lala yang tengah menangis.
"Lala udah gak kuat lagi ngurus ibu, Mas. Lala pengen pulang aja! Ibumu itu terlalu cerewet, wajar aja kalo Dira bilang akulah korban ibu salanjutnya, karna memang bener Ibu itu cuma bisa buat kita sakit hati aja. Pokoknya besok kita harus pulang! Kalo mas gak mau, kita cerai!!!"
Wah..
Berita yang sangat mengejutkan!
Baru juga sebulan Mbak, udah bilang gak betah aja. Gimana jadi aku yang sudah mengalaminya sampe bertahun-tahun?
***Tinggalkan jejak kalian..
Komen, like, vote yang banyak
TBC***.
__ADS_1