Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Tika Melahirkan


__ADS_3

"Apa ibu lupa? Ibu yang suruh bang Angga tandatangan surat cerai. Mikir gak sih bu, ibu itu udah salah bahkan banyak dosa sama Mbak Dira," sahut Linda menghampiri mereka.


Sumpah ya, mantan Ibu mertuaku ini entah masih waras atau gak. Tapi yang aku tau, semenjak aku masuk kedalam keluarganya, ni manusia agak gak beres.


"Ini juga salah Abang, bodoh banget sih jadi laki bang. Punya keputusan yang tegas dong, akhirnya sekarang apa, nyeselkan? Ibu juga gak ada yang bantu ngurusin. Kalian gak liat Linda? Harusnya jadiin pelajaran pernikahan Linda yang bubar karna Ibu, bukan malah ngikutin semua," ucap Linda merasa kesal dengan Ibu dan juga kakaknya.


Linda cukup kenyang dengan rasa penyesalannya yang dahulu selalu mengikuti kata-kata Ibunya. Namun pada akhirnya, hal itu membuat malapetaka dalam pernikahannya. Ditambah lagi dengan kabar kalau Tika hamil di luar nikah, membuat Linda semakin merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri karena tidak becus menjadi seorang Ibu.


"Kalian kenapa nyalahin ibu, suami istri kalian aja yang gak pada becus jadi mantu,"


Ibunya bang Angga itu memang sangat wah kalau berakhting. Patut diberi penghargaan Mertua tak tertandingi.


"Sudahlah, kenapa kalian ribut terus. Angga akan coba cari keberadaan Dira bu. Angga sangat menyesal menceraikannya," Bang Angga tertunduk lesu.


"Jangan memintanya untuk rujuk Angga! Tapi ambilah Rama. Dengan gitu, mau gak mau Dira pasti ikut dan bisa mengurus ibu,"


Wow, sangat memalukan! Enak saja mau menyuruhku mengurusnya lagi. Ck, bahkan menginjakkan kaki di rumahnya lagi akupun tidak sudi.


"Gak bisa gitulah bu, ibu gak bisa terus-menerus bertindak sesuka hati dan setiap apa yang ibu mau harus terpenuhi. Ibu egois namanya," Lagi-lagi anak perempuan mantan Ibu mertuaku membantah ucapan Ibunya.


Lalu bang Angga? Ck, mantan suamiku itu sangat mustahil akan membantah seperti adiknya. Ia akan tetap mengagungkan kanjeng ratunya apapun yang terjadi.


Kehilangan anak dan istrinya tidak membuat Bang Angga berubah 💯. Pada kenyataannya, ia masih sama seperti dulu saat aku masih hidup bersamanya.


Tiba-tiba saja, suara teriakan terdengar dari kamar Tika.


"Mama..! Awww sakittt,"

__ADS_1


"Ya Allah Tika," Linda dan Bang Angga terkejut melihat Tika yang mengeluarkan banyak darah.


"Bang kita harus ke rumah sakit sekarang!"


Mereka pergi ke rumah sakit dengan taksi. Begitu sampai disana, Tika langsung mendapat penanganan khusus Dokter ahli.


Sementara bang Angga dan Linda menunggu dengan khawatir di ruang tunggu.


Satu jam kemudian, Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Gimana anak saya dok? Dan gimana kandungannya?" tanya Linda yang langsung menghampiri sang Dokter.


"Alhamdulillah, bayinya berhasil dilahirkan. Tapi..."


"Tapi kenapa dok? Semuanya baik-baik aja kan?"


"Allah berkehendak lain, bayinya meninggal dan kondisi ibunya sangat kritis karena mengalami pendarahan hebat,"


Bang Angga berusaha menenangkan adiknya.


Mungkin ini adalah karma keluarga mereka. Aku yang sempat disumpah serapahi Ibunya bang Angga sangat sakit hati kala itu. Dengan teganya dia menyumpahiku meninggal saat melahirkan nanti. Tetapi sekarang, sumpah serapah itu terjadi pada cucunya sendiri, Tika.


"Bang, aku bersumpah akan mengejar laki-laki yang menghamili, Tika!"


"Abang setuju sama kamu, Lin, tapi untuk itu kita harus menunggu sampai Tika sembuh,"


***

__ADS_1


Mereka yang tengah mengalami musibah, berbeda dengan diriku. Aku, Mama dan juga Rama pergi berbelanja, kami akan membeli perlengkapan bayi mengingat tidak akan lama lagi aku melahirkan anak keduaku.


"Bunda, pasti dulu juga Rama dibelikan baju-baju lucu kayak gini kan?"


Aku tertegun mendengar pertanyaan Rama. Mengingat dulu saat aku melahirkan Rama, tidak satu bajupun yang aku beli. Semuanya baju sisa dari anak-anak mas Ilham. Sangat miris jika aku mengingat masa lalu yang amat menyedihkan meskipun hanya sekedar bercerita.


"Rama tidak dibelikan ya bunda?" Wajahnya lesu, ia menatap iri melihat beragam baju bayi yang tergantung dengan rapi.


"Rama, sekarangkan Rama sudah besar, sebentar lagi Rama akan dipanggil kakak. Kalo Rama mau beli baju baru, ayo kita beli!"


Aku mengalihkan perhatiannya dengan membelikan Rama baju baru. Bahkan Mamaku juga membelikan Rama mainan yang sebelumnya Rama tidak pernah punya.


Hidupku sekarang berbanding terbalik dari saat aku masih menjadi istri bang Angga. Penuh dengan rasa bersyukur, aku tidak lagi merasakan kelaparan atau bahkan sekedar jatah belanja.


Aku juga menceritakan pada Mama tabungan yang selama ini selalu aku simpan. Namun Mama selalu menyarankan untuk tetap menyimpannya untuk masa depan Rama kelak. Selama aku dan Rama berada di rumah Mama, Mama bilang aku tidak perlu khawatir dan memikirkan apapun. Semua kebutuhanku dan Rama termasuk juga bayi yang masih aku kandung, Mama yang menanggung semua itu.


Persepsiku tentang Mama yang masih marah dan membenciku ternyata salah besar. Beliau justru sangat mengharapkan kepulanganku ke rumahnya.


Setelah dirasa semua keperluan sudah dibeli, kami memutuskan untuk segera pulang.


Rama yang begitu senangnya mendapat mainan baru, ia langsung memainkannya saat sampai di rumah.


Aku yang cukup merasa lelah, memilih berbaring di kamar. Namun aku tidak benar-benar berbaring, hanya menyenderkan setengah badanku di kepala ranjang. Tiba-tiba saja ingatan tentang bang Angga memutar di pikiranku. Tidak dipungkiri, bang Angga adalah cinta pertamaku. Tidak mudah begitu saja aku melupakannya meskipun setelah apa yang dia lakukan. Aku hanya bisa berdoa dari kejauhan untuk mantan suamiku itu, semoga dia segera tersadar dari kesalahannya dan tidak lagi mengulang kesalahan yang sama. Terlebih jika nanti ia telah menemukan penggantiku. Yang pastinya akan jauh lebih baik dariku, dan yang dipandang berlian oleh Ibunya. Tidak seperti aku yang selalu dipandang sampah tak berguna.


"Bunda, di depan ada orang nyari bunda," Rama tiba-tiba saja masuk ke kamar dan mengagetkanku.


Orang? Siapa?

__ADS_1


Vote, like, komen, favorit, jangan lupa!!


TBC.


__ADS_2