Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Lagi-lagi kanjeng ratu


__ADS_3

Kenapa aku harus menerima pertanyaan tentang hati? Yang justru membuatku sedikit trauma. Mengapa tidak, pernikahan yang kubangun bersama bang Angga harus kandas di usia yang ke 5 tahun.


Bang Angga adalah cinta pertamaku. Cukup merasa sulit membuang sosok mantan suamiku beserta kenangannya dari dalam sini. Dari dalam hatiku.


Dan kini ada sosok Devan yang rupanya masih menantiku. Status baruku yang sebagai single parent, membuat Devan sepertinya semakin yakin dengan penantiannya yang akan berbuah manis. Entah kenapa? Pria satu itu tidak segera menikah setelah tau aku sudah menikah dengan pria lain.


"Dev..


"Aku gak akan paksa kamu, Ra. Jawablah sesuai hati, bukan karena rasa ketidakenakan." Devan menatapku dengan pasrah, walau sebenarnya dia sangat berharap banyak bahwa aku akan menerimanya.


"Aku belum siap, Dev. Kegagalan rumahtangga dengan mantan suamiku membuatku tidak ingin terburu-buru mengambil langkah dan keputusan apapun," ucapku dengan mantap.


Devan mengangguk sambil tersenyum,"Fine, aku mengerti!"


"Tapii, kamu bisa jadi Ayah untuk anak-anakku, baby Dara dan Rama. Meskipun gak ada pernikahan diantara kita, hal itu gak jadi masalah kan, Dev?" Aku melihat Devan mengangguk.


Aku tahu, hatinya sedikit kecewa mendengar jawaban dariku. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak ingin membuat orang sebaik Devan terluka karena merasa aku telah memberikan harapan fiktif padanya.


Setelah semalaman beristirahat pasca aku melahirkan, berjuang antara hidup dan mati, kini aku diperbolehkan untuk pulang dan kembali beristirahat di rumah.


Rama begitu antusiasnya menyambut kedatangan adiknya yang baru lahir itu. Ketika mobil Devan mulai masuk ke pelataran rumah, di sana sudah ada dua orang yang menunggu, Rama dan Bi Jum.


"Horeee, adik Rama pulang. Bunda...bunda..mana adik Rama?" Tanyanya penuh semangat.


Aku tersenyum dan mengelus rambut tipisnya,"Tuh digendong sama nenek."


Anak berumur 4 tahun itu mengitari mobil dan membukakan pintu mobil untuk neneknya yang tengah menggendong Baby Dara.

__ADS_1


"Nenek, apa itu adik Rama?"


"Iya sayang, ini adik Rama. Cantik sekali." Jawab Mamaku tersenyum.


"Horeee, Rama punya adik perempuan. Rama mau gendong Nek, apa boleh?"


"Rama belum boleh gendong ya sayang, tunggu Rama besar, baru boleh gendong."


"Apa tulang adek belum matang, nek?"


Mamaku sempat kebingungan menjawab pertanyaan Rama.


"Rama, sudah nak, ayo masuk! Kasihan adeknya kedinginan di luar."


Huh, beruntung Devan bisa mengatasi Rama, sehingga anak itu tidak lagi bertanya dan segera masuk ke dalam rumah.


Perjuangan yang luar biasa, menahan sakit, antara hidup dan mati.


Aku meneteskan air mataku saat menatap baby Dara dan yang tengah terlelap. Aku hanya bisa berharap, anak-anakku tidak akan seperti Ayahnya. Sungguh, Bang Angga sudah meluluhlantakkan bathinku. Jika saja sabarku tidak luas, sudah dipastikan aku mendadak masuk ke rumah sakit jiwa karena depresi. Tapi nyatanya, sabarku itu menipis juga.


***


"Bang, Abang bercerai sama Mbak Dira dengan posisinya yang sedang hamil, apa gak ada rasa pengen tahu gitu keadaan Mbak Dira, ya terutama Rama. Dan mungkin Mbak Dira sekarang sudah melahirkan, bang." Linda berkata pada bang Angga yang tengah menatap foto pernikahan kami dari buku album.


Bang Angga terkesiap, ia mencerna kata-kata adiknya dengan akal dan pikiran yang sehat.


'Bener apa kata Linda, apa mungkin sekarang Dira sudah melahirkan anak ke duaku?' Bathin bang Angga penasaran.

__ADS_1


"Tapi Abang gak tau dimana Dira sekarang, Lin."


"Astagfirullah, bukan karna Abang gak tau, tapi Abang gak niat cari mereka. Abang taukan rumah orangtuanya, ya samperinlah! Linda yakin bang, Mbak Dira itu pasti pupang ke rumah orangtuanya." Jawab Linda dengan yakin.


"Sudah lama sekali, Dira gak akur sama keluarganya karna nikah sama Abang. Jadi gak mungkin kalo Dira pergi kesana."


"Bang, marahnya orangtua itu gak akan bertahan lama. Apalagi 5 tahun, sudah pasti keluarga Mbak Dira menyadari kesalahannya dan bahkan bisa ajakan kalo mereka berharap anaknya pulang."


Bang Angga terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu. Tiba-tiba saja..


"Kalo Dira sudah melahirkan, harusnya dia itu menelpon kamu Angga, ya paling gak ngabarin kamulah, kan kamu Ayahnya. Itupun kalo bener kamu Ayahnya." Siapa sangka, sang kanjeng ratu menguping percakapan ke dua anaknya.


"Maksud ibu?"


"Oh iya, kamukan gak tau Lin. Biar Ibu ceritain, Ibu itu curiga kalo anak yang dikandung Dira itu bukan anak Abang kamu, Angga. Ya secarakan, Dira itu suka keluyuran kesana-sini, kerjaan rumah aja sampe gak selesai-selesai. Kemana coba kalo bukan nemuin laki-laki, iyakan?"


Duh, jongkrokin ajalah kanjeng ratu yang selendangnya nyangkut, jadi gak bisa balik kehabitatnya. Alhasil, sedikit geser hehe


Vote yang banyak


harus like


komen juga


favorit jan lupa!!


TBC.

__ADS_1


__ADS_2