Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Disiram


__ADS_3

Kulihat bang Angga tertunduk diam saat aku mengungkapkan kebenaran yang dia sembunyikan.


Sedangkan mertuaku..


Plak..


Aku terhuyung ke belakang setelah ditampar Ibu mertuaku.


"Dasar perempuan gak tau diri, mantu kurang ajar! Kamu bosen hidup dengan anakku hah? Istri gak tau diuntung, masih mending Angga mau menafkahimu yang berasal dari keluarga gak jelas. Atau jangan-jangan kamu itu anak haram hasil zina ya, makanya jadi begini nih, dikasih hati malah minta jantung," cerocos mertuaku.


Aku mengepalkan tanganku merasa geram dengan mulutnya yang ingin rasanya ku robek saat itu juga.


"Kenapa bu? Apa Ibu takut gaji bang Angga diberikan sama istrinya dan Ibu gak bisa lagi berpoya-poya dengan gaji suamiku? Harusnya Ibu itu malu, anak laki-lakinya sudah berkeluarga, tapi Ibu gak rela anaknya ngasih kebahagiaan untuk anak dan istrinya. Harusnya ibu dukung, bukan malah morotin anaknya," balasku mencoba melawan.


"Dira cukup! Dia itu Ibuku, Abang gak pernah ngomong kasar seperti itu pada Ibu. Jangan kurang ajar sama orang tua. Orang tua Abang orang tua kamu juga,"


"Wajarlah Abang gak pernah ngomong kasar. Abang jadi manusia gak punya pendirian yang tegas, udah punya istri dan anak tapi masih mau disetir orang tua. Dira gak bilang Abang berbakti sama ibu itu salah, tapi lihat situasi bang. Apa Abang disini sudah mencukupi kebutuhan anak dan istri yang jadi tanggung jawab Abang sendiri. Mikir bang, kita sama-sama udah tua, anak udah mau dua. Mau sampe kapan Abang gini terus?"


"Halah, palingan juga itu bukan anaknya Angga. Secara kamu itu pinter bersilat lidah. Siapa yang tau kan?" Makin menjadi-jadi Ibu mertuaku menghinaku.


"Ibu jangan sok tau, lebih baik Ibu pikirin gimana nasib Tika kalo semua tetangga tau dia hamil tanpa suami," aku pergi begitu saja dari hadapan mereka.


Jika saja aku tidak sedang hamil, akan kulayani sampai mana dia akan menghinaku.


Mungkin selama ini aku terlalu diam dan menerima semua makian dari Ibunya bang Angga.


Tetapi kali ini sabarku sudah berada di ambang batas, yang tidak bisa kutahan lagi saking menumpuknya.


***


Aku dan Ibu tidak saling bicara setelah kejadian beberapa hari lalu. Sungguh malas rasanya berurusan dengan orang yang selalu menganggap dirinya selalu benar tanpa mau menerima kritikan orang lain.


"Bude, Tika pengen makan yang seger-seger, bisa tolong buatin Tika rujakan?!"


"Tinggal beli aja sih, tuh di gang depan selalu mangkal Abang tukang rujak," ucapku.

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu Bude yang beliin!"


"Jangan manja, kandunganmu gak akan kenapa-kenapa kalo cuma jalan dari rumah sampe gang depan,"


"Tika malas jalan bude, jadi bude aja yang beli ya!"


"Pergi aja sendiri, bude juga malas jalan," ucapku berlalu pergi begitu saja.


Tak selang berapa lama dari itu..


"Dira....!"


Perang dunia ke tiga akan berlanjut. Biar kutebak, ratu kesayangannya bang Angga itu pasti akan memakiku lagi dengan suaranya yang super wah itu, karena aku menolak membelikan cucu kesayangannya rujakan.


"Ada apa bu?"


"Kamu jadi bude gimana sih, hah? Keponakannya lagi ngidam malah gak mau nurutin, kalo anaknya sampe ileran gimana? Jangan males kamu, hamil jangan dijadikan alesan buat males-malesan," mertuaku yang songong itu berkata dengan bijak, tetapi ia tidak tau cara menerapkan setiap kata-katanya.


"Tuh ibu tau, hamil jangan dijadikan buat males-malesan. Itu artinya, cucu Ibu itu males. Masa jalan sini sampe ke gang doang males. Udah numpang, ngerepotin lagi,"


"Jaga mulut kotor kamu ya Dira, dia itu keponakan Angga, keponakan kamu juga. Ini rumahku, kamu yang numpang disini, yang tau diri dong! Sudah salah, ngelawan lagi. Dasar gak tau diuntung,"ucap Ibu tentu menjadi pelindung cucu kesayangannya.


'Kurang ajar, bisa-bisanya anak baru gede ini ngomong gitu sama aku. Hamil tanpa suami aja bangga'


Segimanapun aku melawan mereka, pada kenyataannya memang benar, aku disini hanya numpang. Jika bukan karena anakku, Rama, sudah pasti kutinggalkan bang Angga yang selalu membuat hatiku sakit.


Dengan terpaksa aku membelikan Tika rujakan seperti yang dia minta.


"Ra, mau kemana?" Sapa bu RT saat aku melewati depan rumahnya.


"Kedepan gang Bu, mau cari rujakan," jawabku.


"Lagi ngidam ya, tapi gak papa itu wajar,"


"Hehe iya bu, Dira lanjut lagi bu, mari!"

__ADS_1


Jika saja bu RT tau buat siapa rujakan itu, aku sangat yakin, ia tidak akan membiarkanku pergi sebelum bergosip lebih dulu.


Tetapi aku bukanlah tipe penyebar gosip, apa lagi aib keluarga yang memang harus kita tutupi dari khalayak umum.


Aku lebih memilih bicara seperlunya mengingat kesibukanku setiap hari di rumah.


Biarlah orang berkata aku ini kuper, gak pernah main, ataupun berkumpul dengan para tetangga. Bukan karena aku malas ataupun tidak ingin, hanya saja pekerjaan ku bukan hanya sekedar bergosip dari pagi sampai sore.


Aku punya suami dan anak yang harus aku urusi, dan mertuaku juga tidak mungkin membiarkanku untuk bersantai, apa lagi bergosip dengan para tetangga.


Sepulang membeli rujak, aku memberikan rujak itu pada Tika.


"Buatin Tika es teh juga ya Bude, cuaca lagi panas banget, minum es teh kayaknya enak,"


"Enaklah tinggal nyuruh, bude capek ah, kali ini kami buat sendiri. Mau ngadu ke nenekmu lagi? Silahkan!" Aku membantah Tika dan tak menuruti permintaan. Kepalaku juga terasa sedikit pusing.


Tika tidak protes ataupun mengadu pada neneknya. Ah, aku tidak perduli itu...


Ingin rasanya aku memejamkan mata walaupun sebentar untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerangku.


Mumpung Ibu mertuaku yang super cerewet itu pergi entah kemana.


Tidak ingin kusia-siakan kesempatan emasku untuk beristirahat mengingat aku tidak pernah bisa tidur siang selain disaat tengah sakit.


Aku juga mengajak anakku, Rama untuk tidur siang. Beruntung anakku itu begitu penurut hingga aku tidak perlu berteriak-teriak memanggil Rama.


Aku masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhku di kasur. Istirahat sejenak mungkin tidak papa, pikirku.


Aku sangat tidak tahan dengan rasa pusing yang menyerangku saat ini, memutuskan tidur sejenak dengan harapan rasa pusingnya menghilang.


Byurrr....


Aku terkejut saat seseorang menyiram air ke wajahku saat aku tidur. Beruntung air itu tidak mengenai Rama.


"Enak banget kamu ya, tidur nyenyak tanpa beban walaupun hidup masih numpang. Piring kotor di dapur numpuk, teras rumah kotor, tapi kamu malah enak-enakan tidur. Ayo bangun dan cepet bersihkan!"

__ADS_1


"Sakit bu!" Ibu menarik tanganku keluar dari kamar dan sedikit mendorongku hingga aku jatuh terduduk.


Andai saja anaknya itu menyaksikan bagaimana perlakuan ratu kesayangannya pada istrinya.


__ADS_2