Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Ingin Bercerai


__ADS_3

Bang Angga terlihat lemas saat aku meminta cerai darinya. jika kesempatan kedua dariku masih saja dipermainkan, maafkan atas keputusanku ini.


Aku sudah cukup terlalu lelah untuk merasakan lagi hal yang sama, dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama pula.


Ini keputusanku, dan tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan keputusan ini, termasuk bang Angga sekalipun.


"Ra, jangan main-main dengan kata itu. Gak usah kelewatan kalo becanda," ucap Bang Angga yang nampak tidak menyukai kata-kataku.


"Siapa yang main-main bang, Dira serius. Dira mau kita cerai! Dira gak sanggup lagi kalo harus merasakan hal yang selalu kalian lakukan. Ini adalah keputusan akhir!" ucapku dengan mutlak dan tegas.


Aku melihat bang Angga meneteskan air matanya. Aku tau, posisinya itu sangat serba salah. Disatu sisi Ibunya, dan disisi lain aku, istrinya. Aku sendiri tidak pernah meminta suamiku untuk memilih satu diantara kami, karena aku sadar keduanya sangatlah penting. Andai bang, andai, kamu bisa bersikap adil dan tidak membedakan antara Ibu, anak dan istrimu, aku tidak akan pernah melakukan ini.


"Abang mohon Ra, jangan tinggalin Abang!"


"Mau sampai kapan dan berapa kali lagi Abang bilang itu dan selama itu pula selalu saja ada yang Abang sembunyiin dari Dira, Dira lelah bang, sangat lelah!" keluhku.


Tidak dipungkiri memang, aku merasakan lelah yang luar biasa setelah menghadapi mereka selama bertahun-tahun dengan kesabaranku.


Tetapi kini tidak lagi, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya sampai disini.


"Pisah lebih bagus, Angga. Kamu jangan tahan-tahan dia buat tetap disini. Perempuan yang jauh lebih baik banyak, setidaknya yang becus ngurus ibu dan gak pelit kayak istrimu ini. Perempuan gak tau diri ini memang gak pantas buat kamu. Dasar gak tau diuntung!" Ibu mertuaku pergi begitu saja setelah melontarkan kata-kata pedas untukku.


Bang Angga terlihat tidak memperdulikannya, ia begitu emosional saat aku meminta cerai darinya.


"Ra, Abang mohon! Setidaknya pikirin Rama, gimana nasibnya nanti,"

__ADS_1


"Kenapa dengan Rama? Tentu anakku itu akan baik-baik aja Bang. Dan aku rasa nasibnya akan lebih baik saat jauh dari Ayahnya. Karna percuma Bang, Rama dekat dengan Ayah dan Ibunya, tetapi hidupnya seperti sebatang kara. Jika mengingat bagaimana keluhan Rama, ingin rasanya Dira menangis bang. Abang gak pernah tau dan gak pernah mau tau apa yang anak kita inginkan, bahkan hanya sekedar ingin makan permen sangat sulit baginya untuk mendapatkan itu. Lalu nasib yang bagaimana yang Abang sayangkan tentang Rama? Aku dan Rama sudah cukup menderita selama hampir lima tahun karna sikap keegoisan Abang yang secara berlebihan memuja Ibu. Terlalu sakit untuk mengingatnya bang, sakittt!" Aku meneteskan air mata pada akhirnya.


Bagaimanapun sikap suami dan Ibu mertua padaku, tidak sekalipun aku meneteskan air mata. Aku tidak ingin terlihat rapuh di depan Rama. Aku adalah superheronya, yang selalu kuat menghadapi apapun tanpa menangis.


Namun kali ini, seolah tak mampu lagi aku membendungnya, air mataku lolos begitu saja membasahi pipi.


"Bunda, bunda kenapa menangis?" Tanya Rama tiba-tiba saat ia menghampiriku dan Ayahnya.


Melihat Rama, aku semakin tidak tahan ingin merengkuh tubuh mungil itu. Aku menangis tersedu dipelukan Rama. Kamu adalah penguat Bunda selama ini nak, kamu adalah alasan bunda untuk bertahan melawan betapa sakitnya bathin bunda karena Ayah dan juga nenekmu. Tetap jadi penyemangat hidup bunda, Rama, karena cuma kamu satu-satunya alasan bunda mempunyai tujuan hidup.


"Bunda gak boleh nangis, Rama janji, Rama tidak akan minta beli permen atau apapun lagi. Rama tau, bunda gak punya uangkan? Rama pengen cepet besar, biar Rama bisa cari uang yang banyak buat Bunda. Rama sayang sama bunda!"


Ya Tuhan...


Satu kalimat yang akan selalu dan terus aku ucapkan untukmu, I Love u my boy.


Hati bang Angga semakin sakit saat mendengar penuturan anaknya. Bagaimana bisa selama ini ia tidak menyadari sikapnya yang sangat berpengaruh untuk Rama?


"Ayah, Rama cuma mau bilang jangan buat bunda menangis. Kata bunda, laki-laki harus sayang sama perempuan, gak boleh dibuat sedih,"


"Maafin Ayah, Rama. Ayah janji, gak akan buat bundamu menangis lagi. Mulai sekarang kita akan hidup bahagia bertiga, apa Rama setuju?"


"Se..


"Gak!" Aku menolak tegas ucapan bang Angga.

__ADS_1


"Ra.." Tatapan bang Angga seolah tengah memohon supaya aku menarik kata-kataku.


Aku sudah memberikannya kesempatan kedua, bahkan memaafkan kesalahannya ribuan kali, tetapi tetap sama yang kudapatkan. Bang Angga selalu lemah dengan kata-kata Ibunya, hingga ia tidak perduli lagi tentang anak dan istrinya.


"Rama, sayang, pergilah main di luar ya nak! Ayah dan Bunda mau bicara, dan anak kecil gak boleh denger," ucapku meminta Rama untuk pergi bermain. Aku tidak ingin perdebatan antara aku dan bang Angga menjadi trauma untuk Rama. Lagipula hal yang tidak bagus jika harus berdebat di depan anak.


"Gak, bang! Ini keputusan finalku. Aku ingin kita bercerai!" Ucapku tetap pada pendirian.


"Apa tidak ada sedikitpun rasa kasihan untuk Abang, Ra?"


"Lalu Abang sendiri apa? Apa Abang punya rasa kasihan buat Dira dan Rama? Hidup kami sudah lama menderita bang, dan itu karna ulah Abang sendiri,"


"Mbak, apa gak sebaiknya dibicarakan baik-baik dulu. Jangan ambil keputusan saat Mbak marah," Ucap Linda menghampiriku dan mengelus punggungku.


"Kamu gak tau gimana hidup Mbak dan Rama selama ini Lin. Kami sangat menderita karena ulah Abangmu, lalu harus sabar yang gimana lagi Mbak lakuin? Mbak terlalu lelah dengan semua ini. Bang Angga gak bisa berlaku adil, selalu Ibu yang selalu dia sempurnakan, sedangkan Mbak, istrinya merasa seperti orang asing yang tidak dipedulikan," jawabku pada Linda.


"Linda paham sama apa yang Mbak Rasain, karena Linda juga merasakannya Mbak. Linda tidak bisa memaksa Mbak buat terus hidup dengan bang Angga. Karna Mbak dan Rama berhak untuk bahagia, meskipun rasanya sakit, tetapi mungkin itu lebih baik," ucap Linda yang juga menitikan air matanya. Mungkin ia teringat masa-masa dulu saat suaminya meminta bercerai.


Selama bertahun-tahun, setelah Linda bercerai dari suaminya, Linda tidak pernah pulang. Kekecewaannya terhadap Ibu membuatnya memilih jalannya sendiri. Jika saja bukan karena Tika yang tiba-tiba hamil, Linda tidak akan mau pulang menemui Ibu.


Ya, perlu kalian tau, Linda juga bercerai dengan suaminya karena ulah Ibu. Aku sampai tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Semua menantu ia anggap musuh, seolah tidak rela jika anaknya membahagiakan menantunya. Lalu kenapa meminta anaknya menikah? Jika akhirnya menganggap pasangan anak-anaknya adalah musuh.


Like, Komen, Votenya yang banyak ya..


TBC.

__ADS_1


__ADS_2