
Pernyataanku rupanya berhasil membuat bang Angga menunduk lesu dengan linangan air mata. Maafkan aku bang, tapi aku tidak ingin kembali masuk ke dalam jurang yang jelas akan membuatku terluka. Dan untukmu Devan, maafkan aku. Mungkin ucapanku nanti bisa kupertanggungjawabkan, karena telah memberimu harapan tentang hati. Tapi untuk saat ini aku masih belum bisa, belum terbiasa, dan rasa traumaku ini belum mampu kukalahkan. I'm sorry..
"Gak mungkin Ra, kamu pasti bohong kan? Dia cuma temen kamu kan Ra, iyakan?"
"Apa Abang gak denger? Devan menyebutkan dirinya Papa untuk anak-anak kita. Aku rasa itu sudah cukup jelas untuk bukti kalau Devan lebih deket dengan anak-anak dari pada Ayahnya, karna gak akan lama lagi Devan juga akan jadi bagian dari hidup mereka."
"Abang bisa perbaiki semuanya seperti yang kamu mau Ra, tapi Abang mohon kembalilah hidup sama Abang. Kasihan anak-anak Ra, baby Dara membutuhkan sosok Ayah. Abang mohon Ra!"
"Bahkan dari sebelum Dara lahir bang, dia jelas membutuhkan sosok Ayah. Tapi Abang sendiri yang gak perduli, bahkan sekedar untuk mengantarku memeriksakan kandungan aja Abang selalu menolak, vitamin dan susu apa lagi, Abang rela berbohong demi bisa penuhin semua asupan kehamilan keponakan Abang. Sementara istri Abang sendiri ditelantarkan. Dara dan Rama gak butuh sosok Ayah seperti itu bang."
Nyesel-nyesel lo bang, siapa suruh jadi suami gak punya pendirian. Loyo, kayak kerupuk kecemplung air. Menghormati orangtua itu tidak salah, tapi jangan mendzolimi istri dan anak demi yang katanya sebagai baktinya sama orangtua. Berlakulah adil pada keduanya, karena selain Ibu, istri dan anak juga penting!
Bang Angga seperti sudah tidak punya muka untuk menatapku. Semua kesalahannya yang dia lakukan padaku, aku mengungkitnya kembali hingga membuat rasa penyesalannya begitu nyata.
"Maaf, aku menyela. Kamu terlalu egois untuk jadi suami Dira, bro. Di sini Dira gak kekurangan, hidupnya mewah, serba berkecukupan. Tapi dia rela hidup sederhana asalkan bersama dengan orang yang dicintainya. Tapi kamu malah membuatnya semakin tersiksa, sorry, kalau aku harus maju untuk membahagiakan Dira dan anak-anak."
Uh...aku hanya bisa menatap mahkluk Tuhan ini dengan tatapan haru.
__ADS_1
Devan benar-benar membelaku, sepertinya dia mengerti tentang perasaan yang kualami selama menikah dengan Bang Angga.
"Dira, bilang sama Abang kalau ini cuma mimpi buruk Abang, katakan Ra, katakan!"
"Tapi sayangnya, ini bukanlah mimpi seperti yang Abang kira. Ini nyata bang, aku menolak untuk rujuk dan memiliki Devan sebagai calon suami serta Ayah untuk anak-anakku. Tapi tenang bang, aku bukanlah orang yang egois sampai harus menjauhkanmu dari anak-anak. Kapanpun Abang mau menjenguk mereka aku persilahkan. Walau bagaimanapun, Abang adalah Ayah kandungnya, sampai kapanpun akan tetap begitu."
Bugh...
"Ini semua karna kau, Devan! Dira menolakku karna kehadiranmu. Aku gak bisa terima ini."
Mama dan bi Jum menghampiri kami karena mendengar keributan yang Bang Angga ciptakan. Bi Jum langsung mengambil alih baby Dara dan mengajak Rama masuk ke dalam kamar.
"Cukup bang Angga! Jangan karna aku gak mau rujuk Abang nyalahin Devan, jelas ini gak ada hubungannya sama sekali dengan hadirnya Devan, bang. Ini murni keputusanku sendiri," ucapku dengan tegas.
"Ma, Angga mohon Ma, bujuk Dira buat rujuk sama Angga, Angga mohon sama Mama!"
Alih-alih menjawabku, bang Angga malah bersimpuh di kaki Mama memohon supaya mau membantunya untuk membujukku.
__ADS_1
"Bangunlah Angga!"
Bang Angga bangun dari simpuhannya.
"Dengar Angga, saya dulu menentang pernikahan kalian. Tapi perlahan, saya mulai sadar dan merasa kehilangan putri saya. Saya sudah ikhlas untuk menerima pernikahan kalian, saya merestui kalian, dan berharap bahwa pilihan Dira itu adalah yang terbaik untuk hidupnya sendiri. Tapi setelah 5 tahun berlalu, tiba-tiba Tuhan mengirimkan keajaibannya untuk menuntun Dira kembali. Saya sakittt Angga, sebagai Ibu hati saya sakit mendengar cerita kehidupan yang puteri saya alami selama kalian bersama. Kalian seperti gak punya didikan untuk memperlakukan manusia dengan baik, apalagi ini seorang istri. Dan sekarang kamu memohon sama saya untuk membantu membujuk Dira supaya mau rujuk? Kalaupun Dira mengatakan Iya, saya akan tetap menentang keputusannya, terlebih lagi saya tau bagaimana kehidupan Dira sebelumnya, jelas saya sebagai orangtua merasa tidak terima dengan perlakuan kotor kalian."
Mama benar-benar mengungkapkan rasa kecewanya pada mantan menantunya.
"Ma..."
"Dan keputusan bercerai dari kamu adalah keputusan yang sangat tepat. Minggu depan, kami akan mengirimkan undangan ke rumah kalian."
"Maksud Mama?" Tanyaku penuh kebingungan.
"Kamu dan Devan akan menikah dua pekan dari sekarang. Ingat Dira, kali ini Mama tidak mau ada penolakan apa lagi bantahan dari kamu. Ini keputusan final Mama, kalau kamu masih menganggap Mama adalah Mama kamu, tentu kamu tau apa yang harus dilakukan, Dira."
Deg...
__ADS_1