Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Uang Gaji


__ADS_3

Apa mereka kira aku tidak tau semuanya? Ya, selama ini setiap kali bang Angga menerima gajinya, uang itu selalu diberikan pada ratu kesayangannya. Lalu aku? Aku istrinya, tetapi tidak pernah sekalipun aku melihat uang gaji suamiku.


Yang kutahu, setiap harinya bang Angga selalu kasih uang 25ribu sebagai jatah belanja.


Ekspresi wajah mereka begitu terkejut, seperti maling yang sudah tertangkap basah.


"Kenapa? Kaget kalo Dira tau lagi kebenarannya? Sudah Dira bilang, semakin banyak Abang sembunyi, semakin banyak pula yang Dira tau," aku berkata sambil tersenyum kecut.


"Terus sekarang kemana uang itu, tentunya masih adakan bu? Iyakan?" Aku bertanya pada mertuaku.


"Oh, jadi sekarang kalian mulai perhitungan sama Ibu, iya? Mau kualat kamu Angga, Ibu yang sudah melahirkan kamu, merawat kamu, lalu apa ini balasannya? Dasar anak kurang ajar, durhaka kamu sama Ibu. Cuma gara-gara uang kamu ngelawan Ibu,"


Wah, ternyata mertuaku ini wajib dijuluki ratu drama. Menghabiskan uang anaknya dengan berkedok sebagai baktinya pada orangtua, sebagai balasan karena telah melahirkan dan membesarkan anaknya.


Ck,ck,ck...


Bener-bener perlu diapresiasi.


Aku tidak lagi terkejut jika uang gaji suamiku yang selama ini selalu diberikan pada Ibunya habis sia-sia bahkan tak bersisa.


Aku selalu melihat Ibu sering membeli baju bahkan jajan di luar. Jika semua itu bukan uang bang Angga yang Ibu gunakan, lalu uang dari mana?


"Dengerkan Bang sekarang. Bilang sama Dira gimana caranya Dira nabung dengan uang gaji bang Angga yang selalu diberikan sama Ibu dan jatahku hanya 25ribu setiap harinya. Ayo bilang! Kasih tau solusinya, biar Dira bisa ikuti jejak Ibu yang katanya suka nabung itu," aku menantang anak dan Ibunya dengan yakin.


Kenapa aku berani menantangnya?


Karena aku sangat yakin, mereka tidak akan bisa menjawab pertanyaanku.


Karena siapapun itu, tidak akan bisa menyisihkan uang yang hanya bertotalkan 25ribu dan mengharap sisa dari belanja.


"Ibu bilang uang itu selalu ibu simpan, uangnya masih adakan bu?" Kali ini bang Angga yang bertanya.


Ibu mertuaku merasa terpojok dengan pertanyaanku dan bang Angga. Ia beranjak pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan kami.


"Bu, bu, tunggu dulu bu, jawab pertanyaan Angga! Uang yang selama ini Angga kasih masih ada kan?"


"Kalo sudah habis memangnya kenapa? Kamu mau marahin Ibu, hah? Mau minta Ibu balikin uang kamu? Mau jadi anak durhaka kamu, Angga. Ibu yang melahirkan dan merawatmu sampe besar gini, cuma karna uang kok perhitungan," jawab Mertuaku seolah dirinya adalah ratu maha benar.


"Ya Allah, habis ibu beli apa? Itu uang buat masa depan anak-anak Angga bu, Angga percayakan sama Ibu buat pegang gaji Angga. Ibu mau apa tinggal bilang dulu, pasti Angga turuti, tapi kenapa menghabiskan tabungan Angga,"


Aku, menonton drama baru antara ibu dan anaknya.

__ADS_1


Selamat datang dikebenaran Ibumu Bang..


Setelah ini, apakah suamiku akan kapok?


Tentu saja tidak!!


Apapun yang Ibunya lakukan, suamiku hanya menganggap semua itu dengan kemaklumannya. Sudah kubilang, bohong dan buruk Ibunya selalu dianggap benar, apalagi jujur dan baiknya.


"Dasar anak kurang ajar kamu Angga, kamu sudah durhaka sama Ibu. Kamu berubah gara-gara menikah sama perempuan gak tau diri itu. Ini semua gara-gara kamu Nadira, anakku jadi ngelawan. Istri keparat gak tau diuntung," Ibu berkata itu sambil menangis dan masuk kedalam kamarnya.


Aku sangat yakin, Ibu mertuaku menangis bukan karena ia menyesal, tetapi karena kebohongannya telah terungkap. Ini fix no debat!!


"Itu, ibu yang selalu Abang puja-puji?" Tanyaku sangat penasaran bagaimana suamiku setelah ini.


"Maafin Abang Ra! Tapi, ibu ada benarnya juga. Kita gak boleh perhitungan sama orangtua apa lagi cuma karna uang. Uang masih bisa dicari, dan Abang akan nabung lagi untuk masa depan anak-anak kita,"


Astaga..


Jika saja di dekatku ada sapu, sudah kulemparkan kewajah suamiku itu.


"Maklum banget ya bang? Berapa tahun bang, Abang kasih uang gaji ke ibu? Sudah berapa puluh bahkan ratusan juta uang Abang yang dihabiskan ibu sia-sia. Dan selama itu pula Abang mikirin kami gak? Dira, okelah kalo Dira gak Abang perdulikan, tapi Rama? Dia darah daging Abang sendiri, tapi tega Abang terlantarkan," ocehku kembali mengingatkan setiap puing-puing kesalahan Bang Angga yang selalu membuat hatiku sakit.


Aku istrinya, dan Rama adalah anaknya. Seharusnya kami-lah yang lebih berhak atas gaji dan uang Bang Angga.


Apapun urusannya dan apapun masalahnya, tetap ratu kesayangannya yang selalu benar.


***


Setelah kejadian itu berlalu, aku sempat meminta bang Angga untuk menyimpan sendiri saat menerima gajinya nanti.


Tetapi entahlah, aku merasa tidak yakin dengan kata IYA yang suamiku ucapkan.


Besok adalah tanggal Bang Angga menerima uang gajinya.


Aku tidak berharap suamiku akan memberikan dan mempercayakanku untuk mengelola hasil kerjanya, setidaknya uang itu ia simpen sendiri tanpa harus mempercayakan lagi pada Ibunya yang aduhai itu.


Saat bang Angga sudah berangkat kerja, seperti biasa aku melakukan kegiatan hari-hari sebagai ibu rumahtangga.


Apa kabar mbak Lala yang masih mengurusi Ibu?


Mbak Lala terlihat mulai mengeluh, namun ia tidak menunjukkan kesiapapun termasuk aku, mungkin gengsi kali.

__ADS_1


Sekarang aku cukup menonton drama mereka dengan santai. Biarkan mereka yang hanya pandai berbicara juga ikut merasakan apa yang sudah aku rasakan selama hampir 5 tahun ini.


"Ini masakanmu terlalu asin, Lala. Ibu gak suka, masakin yang lain!"


Aku mendengar mertuaku memprotes masakan Mbak Lala.


Hihihi nikmatilah Mbak, kamu adalah korban ibu selanjutnya.


"Ini gak asin Bu, masih kayak biasa Lala masak kok,"


"Ibu ini lebih tau mana yang asin mana yang gak, jadi gak usah ngelawan kalo dikasih tau,"


"Ada apa sih bu, ribut-ribut," Mas Ilham rupanya menghampiri mereka, entah dari mana.


"Ilham, istri kamu ini gak becus masak ya? Masa iya mau kasih ibu makanan asin begini, mana enaklah, liatnya aja ibu gak selera,"


"Apa gak dirasa-rasa dulu La?" Mas Ilham bertanya pada istrinya.


"Ya sudah Mas, dan itu menurutku gak asin. Rasanya kayak biasa aku masak,"


"Alah, ngeles aja kamu itu kalo dikasih tau. Ibu gak mau tau, ganti makanannya. Atau gak Ibu minta belikan Angga aja,"


"Kenapa bu?" Suamiku yang baru pulang ternyata langsung mendengar panggilan dari Ibu kesayangannya.


"Ibu minta uang, atau belikan aja ibu nasi bungkus. Bosen Ibu makan masakan Lala,"


Tuh, kan?


Mertuaku itu pinter bersilat lidah, sebetulnya dia bosan makan masakan mbak Lala, bukan karena keasinan.


"Kebetulan Angga beli nasi 2 bungkus, ini satu buat ibu," bang Angga mengeluarkan satu bungkus nasi yang ia beli di perjalanan.


"Kamu abis gajian ya Ngga?"


"Iya bu,"


"Mana uangnya!"


Uhhhhh, gemessssnya....


Yang udah baca, harus tinggalin jejak ya..

__ADS_1


Selalu kasih Komen, Like, dan Vote yang banyak


__ADS_2