
Ku lihat bang Angga hanya bisa menghela nafas kemudian kembali merogoh kantong celananya dan memberikan kembali beberapa lembar uang pada Ibunya.
Flashback Off
Tak bisa berkata apapun lagi, aku sangat malas untuk berdebat dengan bang Angga.
Kali ini aku mengajak Rama sekaligus menemaniku memeriksakan kandungan.
Tidak pernah bosan dan selalu mencoba mengajak suamiku untuk menemaniku saat ingin memeriksakan kehamilan. Tetapi jawaban yang selalu aku dapatkan dari dulu tetaplah sama.
"Abang malas menunggu, kamu pergi saja sendiri, lagi pula puskes gak begitu jauh dari rumah."
Selalu begitu jawabannya setiap kali aku memintanya untuk menemaniku.
"Bunda, apa adek bayi sudah bisa dengar suara Rama?" Pertanyaan itu membuatku mengulas senyum.
"Bisa sayang, tapi adek bayi belum bisa gerak-gerak."
"Wah, Rama tidak sabar ingin bertemu dengan adek bayi, bunda," celotehnya.
"Sabar ya sayang, sekarang belum waktunya. Tapi nanti pasti kita bakalan ketemu sama adek bayi."
'Jadilah panutan yang bisa menuntun keluargamu kelak anakku, jikalau Allah memberikan anak perempuan dikehamilan keduaku ini, maka Rama yang akan menjadi Ayah kedua untuknya. Tidak sudi dan jangan sampai anak-anakku mengikuti jejak Ayahnya' ucapku dalam hati.
"Usahakan jangan terlalu capek ya bu, trimester pertama harus banyak istirahat, dan lagi Ibu harus banyak makan, sedikit tapi sering! Lebih bagus kalau ibu juga minum susu hamil," Begitulah kira-kira saran dokter saat aku melakukan pemeriksaan.
'Gimana mau istirahat Dok, punya mertua yang super crewet membuatku tidak bisa bersantai ria. Apalagi minum susu hamil, huh, rasanya sangat mustahil suamiku mau mengabulkan' bathinku.
Aku hanya mengangguk dan mengiyakannya setiap saran dari Dokter yang memeriksaku.
Setelah dirasa selesai, aku dan Rama bergegas pulang.
Rumah terdengar ramai, suara gelak tawa banyak orang membuatku penasaran siapakah mereka. Aku mulai memasuki rumah, sementara Rama meminta bermain di halaman depan rumah.
Oh, ternyata teman-teman sekolah Tika. Aku berbathin dan berjalan melewati mereka.
__ADS_1
"Bude, tolong buatin minum buat temen-temenku ya?!" Tiba-tiba saja Tika menyuruhku membuatkan minum untuk teman-temannya.
"Apa kamu tidak liat bude baru pulang? Kenapa gak bikin sendiri aja sih?" Protesku pada keponakan suamiku itu.
"Aku gak boleh kecapean kata nenek, kan lagi hamil," jawab Tika begitu bangga dengan mengelus-elus perutnya yang masih rata.
"Apa salahnya buatin sebentar, tamu adalah raja yang harus dijamu dengan baik," sambung mertuaku yang tiba-tiba saja keluar dari dalam kamarnya.
"Ibukan ada, kenapa gak ibu aja yang buatin mereka minum?"
Aku begitu geram pada mereka, Ibu mertuaku selalu memanjakan cucunya, terlebih lagi saat ini dia sedang hamil, sudah pasti akan lebih diperlakukan layaknya ratu di kerajaan.
"Kamu mau nyuruh perempuan tua ini bekerja, Dira? Keterlaluan sekali kamu, menantu macam apa kamu yang tega menyuruh mertuanya bekerja," jawabnya tersulut emosi.
"Memang kenapa? Toh cuma buatin minum kan, bukan masak ataupun beberes rumah. Segitu doang mah gak capek kali bu," jawabku tanpa melihatnya.
"Menantu kurang ajar! Mulai berani ngelawan sekarang ya?" Setelah perdebatan kecil kami, Ibu mertuaku pergi entah kemana. Mungkin bergosip dengan bu RT dan yang lainnya.
"Eh, Tik bagi info dong, gimana rasanya hamil, enak gak?" Tanya salah satu teman Tika saat aku tengah menyajikan minuman untuk mereka.
"Ya enak gak enak sih, tapi aku makin disayang sama nenekku. Apapun yang aku mau, pasti diturutin," jawab Tika.
****
Keesokan harinya, mumpung masih pagi aku bergegas pergi kewarung seperti biasa.
Warung Ibu Marni begitu lengkap, semua kebutuhan yang kucari ada disana. Maka tidak heran jika warungnya selalu ramai pembeli. Seperti pagi ini, terlihat orang berdesakan di warung Bu Marni, ada yang masih memilih belanjaan, ada juga yang sedang membayar.
Aku yang baru saja datang langsung ikut berkerumun memilih dan menimbang sesuatu yang ingin aku beli.
"Kok belinya cuma sekilo Ra, apa cukup?" Tanya salah satu pembeli yang memang tetanggaku juga.
"Eh, iya bu InsyaAllah cukup," jawabku dengan tersenyum.
"Dari pada jajan di luar, mending beliin beras yang banyakan dikit, Ra. Yang penting ada nasi, lauk mah apa aja jangan pilih-pilih!" Tambahnya lagi.
__ADS_1
"Dira jarang jajan di luar bu, malah gak pernah," ucapku mencoba membela diri.
"Tapi kata Ibu mertua kamu, kamu itu boros banget, di rumah cuma dimasakin tempe tahu. Duitnya abis buat jajan di luar," jelasnya.
Lagi-lagi mertuaku bikin ulah, selalu menyebarkan gosip sana-sini. Terlebih yang digosipinnya itu tidak benar sama sekali. Dia hanya bisa memfitnahku, semua itu karena dari awal Ibu mertuaku memang tidak pernah merestui pernikahan kami.
"Menurut Ibu, orang yang gak suka sama kita, apa kita akan selalu terlihat benar di matanya?"
"Ya gak sih,"
"Nah itu ibu tau, begitu juga sama mertua Dira. Ibu paham gimana gak sukanya dia sama Dira, sampe-sampe apapun akan dia lakukan untuk memfitnah Dira," jawabku mencoba memberikan pengertian padanya.
Yang tidak tahu bagaimana kehidupanku sebenarnya, mereka menganggap bahwa aku ini benar-benar buruk seperti yang dibicarakan Ibu mertuaku.
Tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam. Sudah cukup aku diam dengan semua caci dan maki mereka. Kini saatnya aku memberontak untuk membela diri, mengalah itu tidak salah, tetapi jika selalu diinjak, mengalah bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.
Perlu kalian tahu, seseorang yang dulunya penurut, tidak pernah membantah, bahkan selalu mengalah, suatu saat nanti akan berubah menjadi singa yang lebih mengerikan jika perlakuannya sudah tidak lagi dihargai, bahkan dianggap ada pun tidak. Tragis bukan?
Tetapi begitulah faktanya, yang diatas dan merasa yang paling benar serta sempurna, tidak akan selamanya berada diposisi yang sama.
Dunia akan berbalik dan memihak pada orang yang senantiasa selalu sabar dan mengalah.
Hati-hati dengan mereka yang tak pernah sesuai antara ucapan dan tindakan.
Dan aku sangat benci orang bermuka dua. Sulit memutuskan muka mana yang harus kutampar terlebih dahulu
Mungkin sekarang Ibu mertuaku itu masih dengan bebas menghinaku sesuka hatinya.
Memfitnahku sana-sini, bahkan mencuci otak anaknya untuk selalu mengikuti dan menuruti perkataannya.
Aku tidak mengatakan hal itu salah, tetapi lihatlah dulu apa permintaan Ibunya. Jika permintaan Ibunya untuk menelantarkan bahkan masa bodo dengan anak dan istrinya, apakah harus tetap dituruti?
Apa itu tujuannya menikah?
Dulu dan kemarin mungkin aku masih mengalah dan diam. Tetapi sekarang, akan kuperankan semua sifat dan perlakuan kalian padaku.
__ADS_1
Mereka saja bisa, kenapa aku tidak?
TBC.