Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Mandor VS Direktur


__ADS_3

Aku memperhatikan bang Angga dengan tatapan intens. Matanya terpejam, ia tak bisa melihat kehadiranku.


Aku melangkah untuk lebih dekat dengan brankar dan posisi bang Angga. Melihat keadaannya, tentu rasa kemanusiaanku meronta-ronta. Aku tidak tega melihat bang Angga harus terbaring sakit seperti ini. Meskipun dia hanyalah mantan, tetapi dia juga pernah mengisi hatiku, bahkan sampai saat ini bang Angga masih mampu menguasai perasaanku.


"Bang, segeralah sadar! Anak-anak ingin bermain denganmu, Rama merindukanmu Bang, cepatlah sembuh."


Aku yakin, meskipun posisi bang Angga tidak sadarkan diri, tapi ia masih bisa mendengarkan suaraku.


"Rama, sapalah Ayah nak! Bilang sama Ayah supaya cepat sembuh," aku meminta Rama untuk berbicara dengan Ayahnya.


Dalam hitungan detik, Rama berhambur memeluk Ayahnya dengan isakan tangisnya.


"Ayah! Ayah, Rama rindu. Rama pengen gendong di pundak Ayah kayak dulu, Rama pengen dimandiin Ayah kalo bunda lagi sibuk. Ayah harus sembuh, ya! Harus janji sama Rama, Ayah gak boleh kenapa-kenapa, pokoknya Ayah harus sembuh!"


Kata-kata Rama mampu membuatku terharu. Jika aku di posisinya, aku juga akan merasa sangat terpukul sama seperti yang Rama rasakan saat ini.


Devan memelukku, berusaha menenangkanku. Saat-saat seperti ini, sosok suami seperti Devan memang sangat dibutuhkan.


"Buat apa kalian ke sini?" Seseorang tiba-tiba datang dengan kantong kresek di tangannya.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Linda juga ikut masuk menyusul Ibunya.


"Maaf bu, kami hanya ingin menjenguk bang Angga," jawabku.


"Angga gak butuh dijenguk kamu, Dira. Lagi pula bukannya Ibu sudah bilang, jangan pernah cari-cari Angga lagi. Apa kamu gak bisa hidup tanpa anakku, hah?"


"Ibu, sudahlah bu, Linda yang telfon Mbak Dira buat kesini."


"Buat apa Linda? Kalo kamu pikir Abang kamu bakal sadar setelah dia kesini, kamu salah besar, Linda. Ibu jamin, gak akan ada bedanya buat kesembuhan Abang kamu."


"Kita harus usaha Bu, apa Ibu gak kasihan liat bang Angga koma kayak gitu?"


"Halah, kamu itu tau apa? Gak usah sok nyeramahi Ibu. Angga itu anak Ibu, Ibu yang lebih tau dari kalian."


Kukira setelah apa yang terjadi, mantan Ibu mertuaku ini bakal berubah. Mungkin jadi powwerrangger warna-warni itu lebih baik dari pada jadi manusia. Setidaknya powwerrangger mampu membasmi kejahatan bukan mengumpulkan musuh dan menabung dosa.


Devan yang baru tau bagaimana mantan Ibu mertua ia tampak begitu kesal. Semuanya bisa kulihat dari tangannya yang berkali-kali mengepal dan sorot matanya yang tak biasa.


"Siapa dia?" Tanya mantan mertuaku setelah menyadari hadirnya laki-laki di sampingku.

__ADS_1


"Saya Devan, suami Dira!" Jawab Devan dengan tegas.


"Hebat kamu ya Dira, belum ada satu tahun pisah dari Angga tapi kamu sudah menikah lagi. Ck, ck, pelet apa yang kamu pake?"


"Jaga bicara Ibu! Istri saya adalah orang baik-baik. Saya menikahinya bukan karena saya di pelet atau apalah itu, tapi saya hanya ingin menyelamatkan Dira dari rasa traumanya selama hidup bersama kalian yang penuh dengan tekanan dan luka. Kalian sudah membuang berlian berharga hanya karna rasa ego, jelas saya memungut berlian berharga itu untuk masa depan saya. Karna hal yang berharga, sudah tentu sangat mahal," jebrettt cetak jedherrr..


Aku salut dengan Devan yang ternyata bisa membungkam mulut mantan Ibu mertuaku dikali pertama pertemuannya.


Mama memang benar, ia tidak salah memilih Devan untuk dijadikan menantunya. Andai dulu aku mengikuti kata-kata Mama, sudah dari lama aku hidup dikelilingi orang-orang waras, tidak seperti bang Angga dan Ibunya.


"Halah, bekas aja kok bangga. Sudah jelas Angga jauh lebih baik dari kamu. Anak saya itu mandor di bidang konstruksi PT. Arjuna. Sedangkan kamu...


"Saya Direktur!" Pangkas Devan dengan cepat.


Hayoloh....


Mandor aja bangga hahahha


TBC.

__ADS_1


__ADS_2