
Ingin rasanya aku tertawa mendengar kesombongan mantan Ibu mertuaku yang mengatakan dengan bangganya kalau anaknya adalah kepala mandor di PT. Arjuna.
Tapi aku tidak mau kembali berdebat dengannya.
"Sebenarnya saya tidak ingin mengumbar jabatan. Tapi kata-kata Ibu yang memaksa saya mengatakannya."
Aku rasa, Devan wajib diberi penghargaan karena mampu membungkam mulut Ibunya bang Angga seketika. Melihat itu, aku bener-bener salut sama Devan, rasanya aku bangga memiliki sosok suami sepertinya yang sudah jelas sangat tegas.
"Sudahlah Bu, Ibu kenapa selalu cari gara-gara sih? Linda yang minta Mbak Dira buat kesini Bu. Kalaupun Mbak Dira nikah lagi itu haknya, semua orang berhak menentukan kebahagiaannya Bu."
"Kenapa kamu jadi belain mereka? Ibu ini Ibunya kamu Linda, yang melahirkan kamu, harusnya kamu belain Ibu dong, bukan malah menentang Ibu. Durhaka kamu.."
Kata-katanya masih sama. Ia selalu mengandalkan persepsi tentang durhakanya seorang anak yang berani menentang orangtua. Tapi dia sendiri tidak menyadari akan kesalahannya, bahwa ucapan dan kelakuannya berbeda.
Tiba-tiba saja tubuh bang Angga kejang, semua orang panik termasuk aku. Linda berlari keluar menanggil Dokter untuk segera memeriksa bang Angga.
Dengan berjalan dan sedikit berlari, Dokter masuk ke dalam ruangan dengan dua orang suster.
"Silahkan tunggu di luar! Saya akan memeriksa pasien."
Begitulah Kata-kata Dokter sebelum mengecek kondisi bang Angga yang mendadak kejang.
__ADS_1
Kurang lebih 10 menit, Dokter dan dua orang suster keluar dari ruangan. Mantan Ibu mertuaku dan Linda menghampirinya.
"Dokter, gimana anak saya dok? Angga baik-baik aja kan dok?"
"Iya dokter, gimana keadaan Abang saya?"
"Pak Angga baik-baik saja, tubuhnya bereaksi karena obat dan rangsangan suara. Jika bisa, hadirkan seseorang yang paling berpengaruh untuknya untuk selalu mengajaknya bicara. Hal itu bagus untuk rangsangan tubuh pasien yang sedang koma. Kalau begitu saya permisi."
Semuanya terlihat bernafas lega mendengar perkataan Dokter. Rama, ya, mungkin tubuh bang Angga menunjukkan reaksi setelah mendengar suara Rama.
"Ibu denger sendiri kan apa kata Dokter, hadirkan seseorang yang paling berpengaruh untuk Abang bu. Dengan hadirnya Mbak Dira dan Rama itu tindakan yang sangat tepat. Linda yakin, hanya mereka yang bisa bantu Abang untuk segera sadar dari koma. Mengertilah bu, jangan terus buat masalah.."
"Buat masalah gimana? Orang Ibu gak ngapa-ngapain kok. Kalian aja yang pada baper," ucapnya tak mau disalahkan.
Yang aku ucapkan tidak salahkan? Hidupku dan mereka sudah masing-masing. Hanya karena rasa kemanusiaanku aku menjenguk mantan suamiku. Dan yang paling penting adalah Rama.
Aku meninggalkan Mama seorang diri di rumah, bahkan bi Jum yang biasa selalu menemaninya ia pun ikut bersamaku.
Dan lagi, suamiku itu bukan orang pengangguran. Dia juga harus kerja untuk menghidupi anak dan istrinya. Karena sosok seperti Devan yang aku kenal sangat amat perhitungan akan waktu. Yang jelas berbeda dengan bang Angga, sosoknya memang pekerja keras, hanya saja ia mampu diluluhlantakan oleh rasa egois. Tidak bisa membedakan dan membandingan antara benar dan salah, jujur dan bohong.
"Ya Allah, Linda mohon sama Mbak, tetaplah di sini sampai bang Angga sadar Mbak. Linda yakin, cuma Mbak sama Rama yang bisa buat bang Angga keluar dari komanya. Linda mohon Mbak!"
__ADS_1
"Linda!!! Apa-apaan kamu ini, gak pantes mohon-mohon sama manusia gak punya hati seperti mereka. Dira yang sekarang bukan Dira yang kita kenal, dia sekarang lebih sombong karena punya suami kaya raya, hidupnya mewah, biasalah orang seperti itu rata-rata kacang lupa kulitnya."
"Bukannya gitu Bu, Dira masih sama seperti Dira yang dulu, yang kalian kenal. Tapi posisi saat ini berbeda, Dira punya suami yang harus kerja, Dira juga punya bayi dan Dira juga masih dalam masa pemulihan. Ditambah lagi Mama sendirian di rumah. Seperti yang selalu Ibu bilang, Dira juga gak mau jadi anak durhaka karena gak mentingin orangtua," skakmat, aseloley..
Sekarang, semua kata-katanya di masa itu aku juga bisa mengatakannya.
"Tapi Mbak..
"2 Hari masih okelah, Lin. Tapi kalo untuk lebih, maaf ya..Mbak juga punya kehidupan yang harus diprioritaskan. Apalagi Mbak ninggalin Mama sendirian, orangtua gak boleh ditelantarin nanti dicap anak durhaka, bener gitu kan Bu?"
Aku melirik melihat mantan Ibu mertuaku yang tatapannya sinis dan sombong.
"Halah, kamu itu memang pinter drama ya Dira, gak berubah sama sekali. Eh, kamu dengerin dan inget kata-kata saya, Dira ini cuma bisa ngabisin duit suami. Hambur sana-sini senengnya poya-poya, lebih parahnya lagi gak bisa nabung. Gimana hidup mau punya masa depan kalau gitu caranya?"
"Angga yang sudah mengalaminya, gak lama lagi kamu juga bakal tau gimana kelakuan Dira yang sebenarnya."
"Ibu masih gak berubah ya bu? Masih sama kayak dulu yang suka nyebarin fitnah sana-sini, gosip gak bener. Ibu bilang Dira ngabisin duit suami? Bukannya gaji suami Dira Ibu yang pegang? Lalu kemana duit itu? Dan lagi, apa tadi Ibu bilang, Dira gak bisa nabung? Semoga orang berpikir pake nalar dan logika Bu. Jatah 25ribu buat sehari, apa Ibu pikir bisa buat nabung juga? Jangan membandingkan kehidupan Ibu yang kuno dengan kehidupan modern jaman sekarang yang semuanya serba mahal!!"
"Semenderita itukah kamu dulu, Ra?" Devan tiba-tiba menatapku dengan penuh rasa iba.
"Dia itu biang muslihat, kamu jangan gampang percaya sama omongannya," lagi-lagi Ibunya bang Angga berusaha mencuci otak suamiku dengan kata-katanya yang penuh kepalsuan.
__ADS_1
'Dasar kompor....'
TBC.