Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Kebongkar


__ADS_3

Bukan hanya kalian yang bisa menceramahi dan menghinaku. Bang Angga yang baru saja kata-katanya kutelak mendadak kicep. Ya, mungkin dirinya sedikit merasa bersalah. Tapi sedikit, dan itu hanya berlaku untuk beberapa jam saja.


Meskipun saat ini hidupku terasa adem-ayem, tetapi suamiku itu masih sama dengan jatah uang belanjanya, yang hanya 25ribu doang, doang!!


Seperti pagi ini tepatnya, aku meminta uang untuk membeli beras karena memang stok beras yang tersisa sudah habis.


Aku berharap, suamiku mau menambahkan jatah belanjaku setelah ia merasa bersalah kemarin.


Tapi rupanya..


"Ini jatah belanjamu!" Bang Angga menyodorkan dua lembar uang yang membuatku cukup bosan menatapnya.


Aku hanya menatap nanar uang di tangan Bang Angga. Aku menerimanya dengan perasaan yang capek, lelah, emosi jiwa, bahkan rasanya aku ingin mengamuk saat itu juga.


"Yaelah Bang, kirain mau ditambah gitu? Percuma Dira ceramahi Abang panjang lebar tapi tetep gak ada ngertinya sama sekali," Aku menggerutu setelah mengambil uang itu dari tangan Bang Angga.


"Cukup-cukupin aja, Abang kerja dulu," Aku menatap punggung suamiku dengan wajah memelas. Dengan harapan ia akan luluh dan mau menambahkan jatah belanjaku.


Tapi tidak...


Wataknya yang keras kepala itu tidak akan bisa bahkan tidak akan pernah menambahkan jatah belanjaku.


Setelah suamiku pergi, aku bergegas pergi ke warung Bu Marni untuk membeli beras dan yang lainnya.


Sementara Rama, kubiarkan dia bermain dengan sepupunya, anak Mas Ilham.


"Eh, Ra, mau beli beras ya?" Bu Marni, pemilik warung begitu hafal kapan jatahku membeli beras.


"Eh, iya bu," jawabku dengan seulas senyum.


Bu Marni yang sudah tau berapa jatah belanjaku dan gimana kehidupanku, dia hanya bisa memberikan beberapa petuah untukku.


Saat pertama kali Bu Marni tau, dia bertanya padaku kenapa masih mau mempertahankan rumahtangga yang tidak ada bahagianya sama sekali. Jawabanku cuma satu, dan itu Rama.


Hanya karena Rama aku bisa meluaskan sabarku demi dirinya. Aku tidak ingin anak itu merasa kehilangan sosok Ayah dan Ibunya yang biasa setiap hari ia lihat.

__ADS_1


Tapi akan kupastikan, saat itu akan tiba jika saja suamiku masih tetap tidak mau merubah sifatnya.


Aku bergegas pulang setelah mendapatkan apa yang kucari. Seperti biasa aku menyapa para tetangga yang tengah membersihkan halaman mereka, ada juga yang tengah berolahraga pagi, bahkan ada yang hanya sekedar duduk sambil minum teh di teras rumahnya.


"Lala, apa kamu beli Ayam? Sudah lama Ibu tidak makan Ayam,"


"Ada bu, tapi cuma setengah kilo. Angga cuma kasih uang 20ribu," jawab Mbak Lala.


Aku yang baru saja memasuki rumah setelah belanja dari warung tidak sengaja mendengar perbincangan mereka. Aku membelalakkan mata dengan memanas dan detak jantung begitu memburu. Tanpa sepengetahuanku, Bang Angga diam-diam memberikan uang pada Mbak Lala untuk membantu mengurusi Ibunya, yang mana uang itu seharusnya menjadi tambahan jatah belanjaku.


'Tega sekali kamu bang, anak dan istrimu mampu menahan apa yang kami ingin makan, hanya karena menghargai jatah belanja yang hanya kamu kasih 25ribu setiap harinya. Sedangkan Ibumu?'


Sungguh, aku tidak mampu lagi untuk berkata-kata bagaimana kecewanya aku dengan suamiku.


Berbakti dengan orang tua itu tidaklah salah, karena memang pada dasarnya anak lelaki yang sudah menikah masih sepenuhnya milik Ibunya. Hanya saja, ada sedikit perbedaan disaat sudah memiliki keluarga sendiri.


Bagaimana dengan suamiku yang selalu mencukupi kebutuhan Ibunya sementara untuk anak dan istri tidak? Surga suami masih ada di Ibunya, tapi ia tidak akan masuk surga jika mendzolimi istrinya. Jadi, berlaku adil-lah pak suami, jangan kau pilih kasihkan antara Ibu dengan anak dan istrimu!!


Please, tidak untuk dicontoh apa lagi dipraktekkan!!!


Seperti biasa, Bang Angga akan pulang disaat jam makan siang.


Suara motornya mulai terdengar di halaman rumah.


"Sudah masak Ra?"


"Sudah," jawabku dengan malas.


"Kok cuma buat sambelan, emang gak beli sayur atau apa gitu?" Tanya bang Angga saat ia membuka tutup nasi dan melihat apa yang sudah kumasak.


Kata-kata yang kutunggu-tunggu akhirnya terdengar juga.


"Jangan berharap banyak kalau istrimu ini akan masak lauk spesial untukmu Bang. Abang nanyain sayur atau lauk lainnya, minta aja sana ke Ibu, bukannya Abang juga kasih jatah belanja ke Mbak Lala buat urus Ibu?"


Duar...

__ADS_1


Lagi-lagi selamat datang di kebenaranmu bang Angga.


Aku sengaja tidak memasak sayur pagi ini. Sebetulnya aku membeli tahu dan tempe, tapi setelah mendengar obrolan mertuaku dan Mbak Lala, aku ingin menjebak Bang Angga supaya dia mau bertanya tentang apa yang kumasak. Dengan begitu, jawaban kebenaran akan ku-ungkapkan di depannya.


"Abang kenapa diem? Heran, kenapa Dira bisa tau? Inget bang, semakin Abang banyak sembunyi, semakin banyak juga Dira tau. Doa istri itu manjur loh, suami yang sudah zdolim sama istri rezekinya bakal seret," ucapku kembali mencecar Bang Angga.


"Sudah berapa hari ini Ibu ngeluh pengen makan sama ayam Ra. Apa salahnya sekali-kali kita bantu, lagian bukan kamu lagi yang mengurusnya kan? Lalu apa masalahnya?"


"Abang bilang apa masalahnya bang? Bahkan tiap hari Dira ngeluh uang jatah belanja dari Abang cuma 25ribu, apa Abang ada mikirin buat nambahin? Gak bang! Sekarang dengan gamblangnya Abang bilang bantu, cuma baru beberapa hari Ibu ngeluh, langsung Abang turutin. Gimana dengan Dira dan Rama Bang? Apa Abang mau menuruti permintaan kami? Oh tidak!! Jangankan untuk menuruti, sekedar bertanyapun Abang gak lakuin," aku meluapkan emosiku di depan Bang Angga.


"Ada apa ini?" Mertuaku menghampiri. Mungkin dia dengar keributan kami.


"Dira gak terima kalo Angga kasih uang ke Mbak Lala," jawab bang Angga.


"Perempuan gak tau diri, gak tau diuntung! Kenapa memangnya kalo Angga kasih jatah belanja ke Lala? Angga juga anak Ibu, wajarlah anak mau bantu ibunya. Istri durhaka kamu, sudah melarang suami buat berbakti sama orangtua. Apa kamu iri dengan Mbakmu yang hidupnya sudah mapan dan mampu mengurus Ibu? Makanya belajar nabung, biar cepet mandiri. Boros kok dipelihara," wah mulut mertuaku ini sepertinya perlu di kasih cabe. Dengan entengnya dia bilang nabung biar cepet mandiri?


Hahha memangnya berapa juta anakmu kasih uang?


"Apa Ibu bilang, nabung? Bukannya bang Angga selama ini sudah nabung banyak? Benerkan bang?"


"Gak ada Ra,"


"Gak ada? Lalu gaji Abang selama ini yang semuanya dikasih Ibu, kemana?"


Duar...


Lagi-lagi selamat datang dikebenaranmu Bang Angga


Banyak hal yang suamiku sembunyikan, satu-persatu pasti akan kubongkar semuanya.


Jangan mengira kalian mengubur bangkai dalam-dalam hingga tidak ada orang yang tau, pada kenyataannya bau busuknya perlahan-lahan akan kecium.


**Wajib tinggalkan jejak kalian ya..


Komen, like, dan vote jangan lupa!! Biar Othor makin semangat up

__ADS_1


TBC**.


__ADS_2