Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Kedatangan mantan suami


__ADS_3

Linda yang tau bagaimana sifat Ibunya, seketika pergi begitu saja tanpa menanggapi celotehannya.


Sementara bang Angga, ia terlihat tengah memikirkan sesuatu, namun lebih tepatnya memikirkan kata-kata adiknya.


'Apa aku cari ke rumah orangtuanya ya? Bener kata Linda, pergi kemana lagi Dira, kalau bukan kesana' Bathin bang Angga bergemuluk.


Bang Angga berjalan masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Tangannya terlihat tengah mengetik seperti mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.


Setengah jam kemudian, mobil Avanza terlihat memasuki pelataran rumah Bang Angga.


"Sori lama, bro.."


"Gak papa Her, aku gak buru-buru juga."


"Mau kemana sih?" Tanya Heri teman sepekerjaan bang Angga.


"Ke Bandung."


"Nyusulin Dira?" Bang Angga mengangguk sebagai jawaban.


"Saran gue, lo jangan kayak anak kecil yang lagi-lagi harus orangtua, apa-apa orangtua. Ngga, gue sebagai temen lo gak mau nyalahin lo di posisi kayak gini, tapi lo juga harus paham dan ngertiin posisi Dira, istri lo. Dia tertekan karna rumah tangganya selalu dicampuri Ibu lo. Apalagi lo sebagai laki gak punya keputusan tegas sendiri, itu yang buat Dira makin kesiksa bathin Ngga. Pokoknya good luck lah buat lo, bawa tuh mobil, dan motor lo gue bawa."


Bang Angga meminjam mobil milik temannya yang selalu dipanggil Heri itu. Dia berniat menyusulku ke rumah Mama. Sementara aku sendiri yang tidak tau akan hal itu, tengah berbaring sembari menatap putri kecil yang baru kulahirkan.


Semakin aku perhatikan, semakin aku yakin, mata Dara begitu mirip dengan Ayahnya. Lagi-lagi sepintas kenanganku bersama bang Angga menyapa.


Tanpa kusadari, aku sudah menjatuhkan air mataku untuk mantan suamiku. Hati terdalam tidak bisa membohongi, bahwa aku merindukan sosok bang Angga yang kini telah menjadi mantan suami. Bang Angga adalah cinta pertamaku, aku menikah dengannya karena aku memang mencintainya. Tapi selama aku menjalani hidup bersama suamiku, disitu pula aku merasakan sakitnya menginjak duri setiap hari.


"Non Dira!"


"Eh, iya bik.." Aku buru-buru memalingkan wajah dan mengelap air mataku, semoga bi Jum gak sadar kalau mataku sedikit sembab.


"Maaf non, Bibi ngagetin ya? Abisnya dari tadi Bibi ketok-ketok pintu, tapi gak ada jawaban dari non Dira, ya udah bibi masuk aja."


Aku tersenyum mendengar ucapan bi Jum,"Gak bi. Itu apa?" Tanyaku sambil melirik sesuatu di tangan Bi Jum.


"Ya Allah, iya, Bibi hampir lupa. Ini jamu kunyit non, bagus buat yang habis melahirkan, biar cepet pulih. Bibi buatin khusus lo buat non Dira," ucapnya sambil meletakan gelas di atas nakas yang katanya adalah jamu.


"Makasih ya bi, Dira jadi ngerepotin."

__ADS_1


"Gaklah non, malah bibi seneng bisa bantu non Dira. Kalo gitu Bibi keluar dulu, non."


Aku menganggukinya.


Menghela nafas lega setelah melihat bi Jum menghilang dari balik pintu.


Melihat jamu buatan bi Jum membuatku mual seketika, baunya saja tidak enak, apalagi rasanya, pasti pahit. Bathinku bergidik ngeri menatap gelas berisi air dengan warna kuning seperti orange jus itu.


Aku memilih untuk beristirahat dan tidur, sementara jamu itu kubiarkan begitu saja di tempatnya.


****


"Ngapain Abang kesini?" Aku bertanya pada pria yang datang ke rumah Mamaku sekitar 10 menit yang lalu.


"Abang kangen kalian."


Sontak saja kalimat bang Angga berhasil menyihirku. Kami saling bersitatap, merasakan segelintir rasa rindu yang menyeruak dalam dada. Akupun merindukanmu bang..


Ah, kata-kata itu, andai aku bisa mengucapkannya secara langsung dan tidak lagi sungkan, tapi sepertinya aku tidak punya keberanian mengatakan hal itu untuk seseorang yang membuat hidupku penuh luka. Aku memang merindukannya, tapi aku juga tidak bodoh! Aku masih ingat dengan jelas kata-kata bang Angga yang selalu membuatku merasakan sakit.


"Rama kali, bang lebih tepatnya, bukan kalian!" Jawabku ketus.


Bang Angga menjeda kalimatnya karena ia belum mengetahui anak yang baru saja kulahirkan.


"Apa kamu sudah melahirkan, Ra?" Lanjutnya lagi.


"Seperti yang Abang lihat, perutku gak lagi buncit kan? Ya itu artinya aku sudah melahirkan."


Sebenarnya aku agak malas berbicara dengan bang Angga, walau hati sejujurnya rindu. Jika saja bukan karena Mama yang memaksaku untuk menemuinya, aku tidak akan terbuai dengan rasa rinduku pada pria jahanam itu.


"Jangan pernah menghilangkannya, walau bagaimanapun, Angga adalah Ayah dari anak-anak kamu, Ra. Keputusanmu untuk bercerai dari Angga dan membawa anak-anak ikut bersamamu, Mama sangat setuju, tapi jangan pernah melarang Angga untuk menemui anak-anaknya sewaktu-waktu."


Ya begitulah kata-kata Mamaku sebelum aku menemui bang Angga.


"Boleh Abang lihat anak kita yang baru lahir itu, Ra?"


"Bi Jum, minta tolong gendong Dara ke sini!"


"Iya non."

__ADS_1


Bi Jum masuk ke dalam kamarku dan menggendong Baby Dara untuk bisa bertemu dengan Ayahnya.


Aku tidak lagi sudi meminta bang Angga untuk masuk ke dalam kamarku, terlebih lagi dia hanya mantan. Memang sudah sepantasnya berlaku layaknya orang luar yang bertamu.


"Boleh Abang menggendongnya, Ra?"


"Kasih bi!"


Bi Jum memberikan baby Dara ke bang Angga, setelahnya ia kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya.


Bang Angga menatap baby Dara dengan bahagia dan penuh haru.


"Siapa namanya Ra?"


"Dara," jawabku singkat.


"Hallo baby Dara, ini Ayah sayang, Ayahnya Dara. Dara kangen gak sama Ayah?" celoteh bang Angga dengan nada yang dibuat layaknya anak kecil.


'Ck, gak ada yang kangen setelah apa yang kamu lakuin sama kami, bang. Ya gak bohong sih, aku juga kangen kamu bang, tapi itu hanya sedikit, cuma seujung kuku, bahkan tidak sampai. Otakku masih cukup waras untuk melupakan bagaimana kepedihan yang kau buat untukku dan juga anak-anak. Jangan pernah mengira aku menyesal karna bercerai darimu, justru hidupku dan anak-anak jauh lebih bahagia hidup tanpa kamu bang'


"Ayah....!" Suara yang paling amat bang Angga rindukan akhirnya terdengar juga.


"Rama," bang Angga berkata lirih sambil menatap Rama yang berjalan dengan sedikit berlari menghampirinya.


Melihat itu, aku langsung mengambil alih baby Dara dari tangan bang Angga.


Kulihat anak dan Ayah itu saling berpelukan melepas hasrat rindu yang sudah sekian bulan tidak bertemu.


Aku dapat melihat bagaimana bang Angga sangat-sangat merindukan Rama. Tanpa sengaja aku melihat tetesan air jatuh dari mata mantan suamiku itu.


"Ayah kangen sekaliiii sama Rama."


"Rama juga kangen sama Ayah. Tapi..


"Tapi kenapa sayang?" Bang Angga melepaskan pelukannya dan menatap manik mata Rama dengan intens.


"Ayah jahat sama bunda, Ayah selalu buat bunda nangis. Rama gak papa kok Ayah, kalo harus dipukuli sama nenek, tapi jangan buat bunda Rama nangis, kan Rama juga ikutan sedih."


Deg...

__ADS_1


Aku yakin, melihat dari ekspresi wajah bang Angga, hatinya tercubit mendengar kata-kata Rama. Yang jelas, suatu saat nanti Rama adalah pelindung Ibu dan adiknya yang siap berada di garda terdepan.


__ADS_2