Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Flashback Kanjeng ratu


__ADS_3

"Ya Allah Ibu, Ibu sebenernya ada masalah apa sama Mbak Dira? Mbak Dira udah cerai dari Abang aja masih Ibu uber. Apa lagi ini, kenapa bisa ibu minta ganti rugi ke orangtuanya Mbak Dira, ganti rugi untuk apa bu?" Linda begitu frustasi menghadapi Ibunya yang terlalu ab normal itu.


"Dia bukan lagi istri Abang kamu sekarang, jadi semua yang sudah Abang kamu kasih ke dia, ya harus dibalikin dong. Ibu gak salahkan Angga?"


"Bu, yang Ibu lakuin itu salah. Gak seharusnya Ibu minta ganti rugi karna Dira bukan lagi istri Angga, kalo soal semua yang sudah Angga kasih ke Dira itu bentuk tanggung jawab dan nafkah dari Angga bu. Ibu gak perlu memintanya lagi," ucapan bang Angga kali ini bijak, bahkan terbilang sangat waras jauh dari sebelumnya.


"Kalian kenapa jadi nyalahin Ibu sih? Apa yang Ibu lakukan itu sudah benar, wajar kalo Ibu minta lagi semuanya. Ini juga 500 jt harusnya sih kurang, tapi gak papa Ibu ikhlasin sisanya. Ibu anggap itu sedekah, minggir ah, Ibu capek mau istirahat."


Linda terlihat mengepalkan kedua tanggannya geram, sementara bang Angga, ia juga terlihat berlalu meninggalkan Linda untuk pergi ke kamarnya.


Bang Angga menatap foto pernikahan kami 5 tahun lalu. Lagi-lagi ia menangisi sesuatu yang sudah sangat terlambat untuk dibenahi. Jarinya mengelus wajahku yang penuh senyum di foto itu.


Senyum itu sudah tidak lagi bisa bang Angga lihat. Yang tersisa hanyalah sebuah rasa penyesalan tak berujung, jadi nikmatilah!


Tabur tunaimu, apa yang kamu lakukan padaku, rasa itu akan terbayarkan lebih sakit dari yang pernah aku alami.


***


"Kenapa Mama kasih tadi, harusnya jangan dong," gerutuku pada Mama. Aku cukup kesal karena Mama menanggapi permintaan mantan Ibu mertuaku, lebih parahnya lagi Mamaku mengabulkan doa-doanya selama perjalanan kesini.


"Sudah gak papa Ra, dengan begitu kamu dan anak-anak akan aman, gak terus-terusan diteror. Mama juga gak mau jauh dari cucu-cucu Mama, Ra."


Memang benar, mantan Ibu mertuaku itu sedikit mengancam. Ia akan membawa Rama ikut bersamanya kalau aku tidak memberikannya uang sebagai ganti rugi atas apa yang sudah anaknya kasih selama ini.


Benar-benar tidak waras! Bukankah itu adalah nafkah dari bang Angga untukku? Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memberiku makan dan hal sebagainya.


Oke, akan aku ceritakan bagaimana sang kanjeng ratu bang Angga datang kemari.


Flashback On


10 Menit setelah perginya bang Angga dari rumahku, 5 menit kemudian disusul oleh Devan yang juga ikut berpamitan pulang.


10 Menit berikutnya, suara bel rumah kembali bernyanyi.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa bi Jum membuka kan pintu pagar untuk seorang wanita tua yang terus-menerus menekan bel.


Sambil teriak-teriak memanggil namaku, mantan Ibu mertuaku itu langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.


"Dira...Nadira...keluar kamu!"


Aku yang baru saja selesai membuatkan baby Dara susu, terkejut mendengar teriakan membahana yang sudah lama tidak kudengar.


Aku meminta bi jum untuk menemani baby Dara dan Rama di kamar. Sementara aku keluar menemui mahluk astral yang tiba-tiba gentayangan sampai ke rumah Mamaku.


"Assalamualaikum bu, Ibu apa kabar?" Aku berusaha sopan dengannya, meskipun hati berkata tak mampu. Cielah malah nyanyi..


"Sudah melahirkan, kamu?" Tanyanya sambil menatap perutku yang sudah rata.


"Alhamdulillah sudah bu, cucu Ibu perempuan."


"Cih, cucuku. Cucuku dari Angga itu cuma Rama! Jelas yang kamu lahirkan itu bukan cucuku, karna dia bukan anaknya Angga."


"Jangan mentang-mentang orangtuamu kaya, kamu jadi main seenaknya ya, Dira. Tes DNA segala, sok punya duit kamu itu. Ibu gak mau basa-basi lagi, Ibu kesini cuma mau ajak Rama pulang! Sudah seharusnya dia itu tinggal sama Ayah dan juga neneknya."


"Gak bu, sampai kapanpun Dira gak akan pernah biarin Rama buat tinggal sama kalian. Apa Ibu gak cukup puas selalu nyakitin kami? Kasihan Rama masih kecil bu, tapi selalu aja Ibu siksa," aku berurai air mata saat mengatakan itu.


Bibirku gemetar rasanya, bayangan masa lalu tentang Rama yang selalu dimarahi dan dipukuli membuatku trauma.


"Siksa bagaimana? Jangan ngada-ngada kamu."


"Ibu mau bohong apa lagi? Percuma bu, semuanya sudah terbongkar jauh sebelum Dira cerai sama bang Angga. Tapi Dira gak pernah ngomong ke Ibu, karna Dira masih menghormati Ibu sebagai orangtua. Tapi Ibu malah seenaknya."


"Halah omong kosong. Pokoknya Rama harus ikut ke jakarta, atau kalau gak, Ibu minta uang ganti rugi!"


"Ganti rugi apa? Dira gak punya sangkutan apa-apa sama Ibu."


"Tapi kamu sudah bukan lagi istri Angga, jadi Ibu minta semua yang sudah Angga kasih ke kamu selama ini, balikin!!"

__ADS_1


"Astagfirullah, tapi bu, itukan nafkah buat Dira, kenapa harus dibalikin? Itu sudah tanggung jawab bang Angga bu."


"Iya atau Rama Ibu bawa ke Jakarta!"


"Dira gak punya uang bu."


"Mana mungkin, orang tuamu kaya. Minta saja ke orangtuamu."


"Tapi bu...


"Berapa yang Anda minta?" Mamaku tiba-tiba saja datang menghampiri kami.


"1 Miliar!"


"Tunggu sebentar," Mamaku terlihat masuk ke dalam kamar dan keluar dengan selembar cek di tangannya.


"500jt, ambilah dan pergi dari sini!"


"Mana cukup, itu masih kurang."


"Anda mau memeras saya? Saya bisa saja melaporkan anda ke polisi dengan kasus pemerasan."


"Jangan-jangan, baiklah saya terima 500jt. Tapi inget Dira, setelah ini jangan pernah cari-cari Angga lagi!"


"Tidak akan, saya sendiri yang akan pastikan anak saya tidak akan pernah mencari anakmu, Angga. Silahkan pergi dari sini!"


Flashback Off


Begitulah kira-kira ceritanya. Huh, apa dikata..


Sebenarnya aku tau itu hanya gertakan Ibunya bang Angga, tapi sayangnya Mamaku tidak ingin ambil pusing dengan jalur ribet.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2