Dilema Pernikahan

Dilema Pernikahan
Beban Baru


__ADS_3

Setelah drama nasi bungkus tempo hari, sampai saat ini aku masih mendiamkan suamiku. Amat sangat kesal rasanya selalu diduakan, apalagi mertuaku itu tidak pernah mau mengalah meskipun demi cucunya.


Tetapi aku masih bersyukur, hamilku kali ini tidak banyak keluhan yang dirasa. Strong selalu ya nak, biarkan Bundamu ini selalu kuat. Suami dan Ibu mertuaku itu tidak mau mengerti, apalagi punya pengertian sebagai manusia.


Diposisi hamil muda, aku masih saja harus bekerja keras mengurusi semuanya sendirian. Keperluan sehari-hari, makan, dan beberes rumah tentunya.


"Ra, apa belum selesai?" Bang Angga menghampiriku yang tengah menjemur baju.


"Apa gak liat tanganku masih bekerja? Toh hari ini Abang gak kerja, apa salahnya bantu mengawasi Rama," jawabku sedikit kesal.


"Abang mau antar Ibu."


"Ya udah pergi aja!" Jawabku tanpa menoleh.


Bang Angga membalikan badannya setelah meminta izin padaku.


'Tentang Ibu aja, apa-apa harus diduluin, apa-apa harus di-iyain anak istri terlantar juga bodo amat' gerutuku dalam hati.


Tapi gak papa deh, dengan begini aku bisa sedikit bersantai ria tanpa ada yang mengganggu. Sudah lama sekali aku tidak menikmati waktu santai saking repotnya dengan pekerjaan rumah.


Kulihat bang Angga membonceng Ibu dengan motornya mulai keluar dari halaman rumah.


Yang awalnya pekerjaanku kubuat lebih lama, seketika itu aku melakukan dengan cepat hingga akhirnya selesai.


"Rama, kita belajar lagi!"


"Oke bunda." Uhh..anakku itu memang penurut, aku sangat bersyukur bisa memilikinya. Meskipun Ayahnya lembek, gak punya pendirian, gak punya ketegasan sebagai kepala keluarga, tetapi aku bisa jamin, anakku tidak akan pernah seperti Ayahnya.


Aku bersantai dan berbaring dengan leluasa sembari menemani Rama belajar.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku belum memeriksakan kehamilanku kedokter.


'Tunggu bang Angga pulang aja deh, siapa tau dia mau nemenin' monologku dalam hati.


Sungguh miris rasanya mengingat saat aku hamil Rama dulu, bang Angga tidak pernah mau menemaniku memeriksakan kandungan. Alasannya selalu sama, bosan menunggu. Padahal pengen banget didampingi suami saat dokter mulai meraba-raba perutku.


Melihat mereka-mereka yang selalu didampingi suaminya saat memeriksakan kandungan, membuatku merasa iri.


Boro-boro mau nemenin, terkadang aku minta antarpun Bang Angga selalu beralasan.


Hari ini aku cukup merasa lelah, dan inilah kesempatanku untuk bisa tidur sejenak menghilangkan lelah. Mumpung mertuaku yang aduhai itu tidak ada hehehe..


****


Tepat dijam 3 sore, terdengar suara motor bang Angga memasuki halaman rumah.


Aku yang sedari tadi sudah bangun, hanya mengintipnya dari balik jendela.

__ADS_1


Tapi kok ada yang aneh ya?


Bang Angga pulang sendirian, lalu kemana Ibu? Aku terheran-heran melihat suamiku pulang tanpa Ibu kesayangannya.


"Ibu mana bang?" Tanyaku saat menyalaminya.


"Ibu belakangan sama Tika, naik mobil," jawabnya.


"Tika ikut kesini bang?"


Bang Angga mengangguk,"Sekarang dia akan tinggal disini."


Duar....


'Nambah lagi dah beban hidupku' ucapku dalam hati.


Tika adalah keponakan bang Angga, anak dari adik perempuan bang Angga.


Entahlah, apa jadinya kalau anak itu tinggal di rumah ini.


Setahuku, Tika bukan gadis baik-baik akibat pergaulan bebasnya.


Ya, mungkin didikannya terlalu dimanja, sudah jadi kebiasaan keluarga suamiku yang salah adalah benar, dan yang benar adalah salah.


Benar saja, tak lama dari kepulangan bang Angga, deru mobil berhenti tepat di depan teras rumah.


"Ra, Dira!!"


'Kupingku ini masih waras kali Bu, gak usah treak-treak bisa gak sih' aku bersungut kesal sembari berjalan keluar menghampirinya.


"Tolong bawa semua koper-koper milik Tika, Ibu bener-bener capek. Ayo sayang!" Ucap mertuaku kemudian menggandeng tangan cucu perempuannya masuk kedalam rumah.


'Emangnya aku ini babu? Yang bisa seenaknya kalian suruh-suruh. Dapet gaji sih mending, lah jatah 25ribu doang, cukup apa coba?' aku menghentakan kakiku saking kesalnya.


Aku meletakan koper milik Tika di kamar yang sudah Ibu mertuaku persiapkan. Pantes saja beberapa hari yang lalu dia memintaku membersihkannya, ternyata cucu perempuannya mau tinggal disini.


Hal tak terduga pun terdengar, lebih tepatnya saat aku ingin memandikan Rama.


Suara membahana milik mertuaku itu sangat amat aduhai, bahkan seseorang yang ada di luarpun bisa mendengarnya.


"Kenapa bisa gitu Tika? Ya Allah, mau ditarok mana muka nenek ini. Bagaimana kalo orang-orang tau kamu hamil?" Tangis mertuaku ketika itu.


"Apaaaaa? Tika hamil?" Ucapku dengan nada lirih.


Aku membekap mulutku sendiri tidak menyangka bahwa Tika sedang hamil saat ini. Yang lebih membuatku tidak percaya, Tika hamil saat belum menikah. Terlebih lagi statusnya masih seorang pelajar yang duduk di bangku SMA.


Mengingat bagaimana pergaulan Tika, wajar saja jika akibatnya akan fatal seperti ini.

__ADS_1


Setahuku Tika sering gonta-ganti pacar, bahkan jarang pulang kerumah saat pulang sekolah.


Pergaulannya sungguh sangat bebas, tetapi kenapa tidak ada yang menegurnya?


Tak lama berselang setelah aku memandikan Rama, tiba-tiba saja Ibu mertuaku meminta untuk menyiapkan makanan untuk cucu perempuannya.


"Siapkan makan untuk Tika ya, kasian dia lagi hamil, gak boleh capek-capek dan terlalu banyak gerak."


Ya Tuhan..


Ingin rasanya aku menampar mulut itu. Apa dia lupa, kalo aku juga lagi hamil?


Lagian cuma ambil makan doang, apa susahnya sih? Manja amat..


Gimana jadi aku coba? Beberes rumah, masak, ngurusin suami, anak, dan mertua yang super waw itu.


"Dira mau siapin buat Rama dulu Bu, baru Tika setelah itu," jawabku.


"Kamu ini Bude macam apa sih? Tau keponakannya hamil bukannya diurusin. Kasian Tika, dia lagi hamil, gak boleh telat makan. Pokoknya siapin dulu buat Tika setelah itu Rama!"


"Udahlah Ra, kenapa mesti didebatin sih. Turutin aja apa kata ibu, lagian Rama juga masih mainan," sambung suamiku yang entah nongol dari mana tiba-tiba.


Ayah yang tidak punya perasaan, tidak punya hati. Itu kata-kata yang pantas untuk seorang Ayah seperti bang Angga.


Keluarganya selalu diutamakan, sementara anak dan istrinya nomor sekian. Hanya bisa memendam kekesalan yang kurasa saat ini. Lihat saja jika sabarku tidak lagi bisa dipertahankan, maka kalian akan merasakan seperti bagaimana aku yang selalu kalian zdholimi.


****


"Bang, minta uang dong buat kedokter!"


"Kalo ada yang gratis kenapa harus nyari yang bayar, Ra? Kepuskesmas aja, kan sama saja periksanya juga sama dokter," jawaban yang sangat tidak ingin kudengar.


'Padahal aku tau bang, bukan itu alesan yang sebenernya' Ucapku berbathin.


Flashback On


"Angga, Ibu minta uang buat susu hamil dan vitamin Tika!"


Aku tidak sengaja mendengarkan Ibu mertuaku yang tengah meminta uang pada bang Angga.


Dan aku melihat bang Angga langsung memberikannya tanpa ada protes satu patah katapun.


"Segini mana cukup Angga, Ibu mau sekalian bawa Tika periksa kerumah sakit. Tau sendiri kalo dipuksesmas itu pelayanannya kurang memuaskan," ucap mertuaku tidak tau malu.


Duh gregettt punya mertua kayak gini..


TBC

__ADS_1


__ADS_2