DIVA

DIVA
Ten


__ADS_3

Sementara itu dion dan yang lain asik bermain dengan sikecil, semua terhibur dengan celotehan yang sikecil lontarkan.


"eh yon, nih bocah namanya sapa dah"celetuk kevin.


Saat mendengar itu membuat vania berfikir, ini sudah hari kedua ia mengasuh. Tapi ia belum kepikiran sama sekali untuk memberinya nama.


"gua udah punya nama buat dia, tapi gimana pun kan dia masih punya ortu. Jadi gua mau nanya ke ortunya ajalah"jelas dion.


"lah ******! Ortu dia kan lagi kritis babyk!"kesal zidan.


"lu tuh klo diobatin diem aja napa sih! Nyamber mulu lu! "sembur mikha.


"*******! "umpat zidan. Mikha yg mendengar umpatan zidan pun menekan memar yg ada di wajah zidan.


"udah diem aja lu! "ucap mikha.


"trus lu mau gimana? "tanya ardan yang sedari tadi hanya menyimak.


"rencana sih gua besok mau jenguk ortunya sikecil, trus sekalian nanyain seputar keluarga mereka ajasih. Soalnya kemaren gua ditlfn klo ortu sikecil udah sadar. "jelas dion.


"klo sikecil diambil lagi gmn? "tanya vania yg matanya sudah berkaca kaca.


"kita gk bisa berbuat, apalagi kan dia ortu yg sah va" ucao dion.


"gua takut yon, gua gk mau pisah"lirih vania.


"lu harus ikhlaa va, lagian kita juga bisa nanti main kerumah sikecil" sambung dion.


"dan kyaknya gua juga harus ikhlas klo kita pisah va"lanjutnya dalam hati.


Vania mendekap sikecil erat, ia tak mau jika harus kehilangan sikecil. Entahlah vania seperti ada ikatan dengan sikecil, dan sekarang dia harus melepas.


Jika itu yg ortu sikecil inginkan vania hanya bisa pasrah, dan nerima semua keputusannya.

__ADS_1


Melihat kemurungan vania, dion jadi tidak tega melihatnya. Mungkin berpisah adalah salah satu hal yang terberat bagi semua org. Dia juga berat jika harus berpisah dengan sikecil, terlebih lagi jika dengan vania.


Mungkin hidup dion akan berubah drastis jika harus berpisah dengan kedua org yg ia cintai. Meskipun mereka bisa dibilang baru dikehidupan dion, tapi jika mereka harus pergi, efeknya akan besar bagi kehidapan dion.


Bisa dibilang jika dion itu lebay, alay atau apapun itu jenisnya ia tak peduli. Sekarang ia harus memikirkan cara agar ia tidak berpisah dengan kedua malaikatnya itu, tapi tetap saja keputusan yang diambil oleh ortu sikecil akan mutlak.


"udah lah, kenapa jadi pada melo gini sih. Kga cocok lu pada!"hibur kevin.


"tau tuh! Eh udah sore menjelang malem, gua balik aja dah ntar kanjeng ratu ngamuk" ucap zidan.


"alay lu! Org masih sore gini. Ini tuh namanya mendung ******!"Sembur mikha.


"gua pamit pulang! "ucap ardan.


"serah lu pada lah, klo mau balik so bomat!"ucap dion.


"Kga ada niatan mau cegah gua lu? "tanya kevin.


"kga, males gua." santai dion.


Dan gk ada yang naik motor, dion? Dia mah lebih memilih untuk bergabung bermain bersama si kecil. Vania?  Ia memilih ke kamarnya, dan menenangkan diri untuk sementara waktu.


"papi denger besok kamu mau ke rumah sakit? "tanya papi.


"iya pi, klo papi mau ikut. Sekalian aja, dari pada bolak balik" ucap dion.


"mami ikut aja deh, klo papi mau ikut ya terserah. "ucap mami.


"ya pasti ikut dong mi, "ucap papi.


"ya bomat sih! " sewot mami.


"eh! Gaul juga nih camer gua" batin dion.

__ADS_1


"mami kok sewot sih? "ketus papi.


"siapa yg sewot? "ucap mami.


"ya mami lah! "


"dih kok papi ngegas sih? Lagi pms apa gimana sih? "


"papi kan cwo, ya kali pms"


"dan bla bla bla....... "


Dari pada mendengar keributan yang tidak jelas apa penyebabnya, dan kapan berakhirnya . Dion memutuskan membawa sikecil untuk keatas, ia ingin menemui vania.


Saat membuka pintu kamar, ia melihat vania yg merenung di balkon. Sempat terlintas dibenak dion, apakah vania akan bunuh diri? Dan itu hanya khayalan belaka.


"va, jangan gini dong"bujuk dion.


"mi? Angan edih."ucap sikecil sambil mengusap pipi vania.


"enggak kok sayang, momy gk sedih" ucap vania.


Dion berjalan lebih dekat kearah vania, ia meraih pinggang vania.


"gua bakal berusaha biar sikecil gk diambil dari kita. "bisiknya.


Vania dibuat merinding, pasalnya posisi sekarang itu. Sikecil tertidur  digendongan dion, tangan dion berada dipinggang vania.


Dan lebih parah lagi, vania bisa merasakan hembusan nafas dion. Karna dion menenggelamkan kepalanya,  diceruk leher vania.


Setelah sadar dari posisi yang absurd ini, vania berusaha melepaskan diri dari dion.  Tapi semakin ia berontak, semakin erat pula pelukan dion.


"biarin gini dulu " lirih dion.

__ADS_1


Dion melepaskan pelukannya saat hari sudah mulai gelap, dan ia memilih untuk pulang.


Meskipun sempat ditahan untuk makan malam bersama, tapi dion tetep kekeh untuk pulang. Alhasil sekarang vania makan malam bersama keluarganya, tanpa sosok dion disampingnya.


__ADS_2