DIVA

DIVA
My superhero


__ADS_3

Mikha yang mendapat perlakuan dari zidan, hanya tersenyum. Tak menyangka jika zidan akan menyelanatkannya, dan menyatakan perasaannya. Akhirnya! Akhirnya zidan membalas cinta mikha, sebenafnya mikha telah lama mempunyai rasa dengan zidan. Tapi mikha malu mengungkapkan perasaannya, dan berakhir menyimpannya selama 3th ini.


Sebelum zidan keluar dari kamar itu, gilang masih sempat sempatnya menahan kaki zidan.


"Anjeng! Kaga tahan lagi gua! "teriak zidan dalam hati.


"Tutup mata kamu dulu ya, akan menyakitkan jika kamu melihat adegan ini. "ucap zidan menundukkan kepala untuk melihat wajah mikha.


Mikha hanya menganggukkan kepalanya saja, tanpa mau bertanya.


Bugh


Zidan tak segan segan lagi menendang wajah gilang, dan alhasil dagu gilang sobek mengeluarkan banhak darah.


Bugh


Satu tendangan lagi yang mengenai perut gilang, dan terdengar rintihan dari mulutnya.


Krekkk


Patah sudah kaki gilang, yg terinjak zidan.


"Arghhh"teriak gilang.


"Itu pelajaran buat lu, jangan pernah sentuh mikha lagi. "ucap zidan dengan wajah datarnya.


Dan setelah itu gilang telah tak sadarkan diri, dika yang melihat mikha digendongan zidan merasa aneh.


"Lah kok sama zidan? Bukannnya tadi gua liat sama gilang? Wah gilak! Tuh cewe main sama 2 cowo sekaligus? "batin gilang takjub.


"Dik, gua mau pulang. Satu lagi, urusin temen brengsek lu. Dia dikamar bawa aja kerumah sakit, dan buat biaya lu gak usah khawatir. "jelas panjang zidan.


Dika hanya mengangguk saja, tapi ia masih bingung. Temen? Brengsek? Rumah sakit? Ia masih berusaha mencerna kata kata itu, dan selanjutnya...


"GILANG! "teriak dika yg sudah menyadarinya, meskipun butuh waktu yg lama.


"Masih idup apa kaga ya tuh anak. "gumam dika, ia pun bergegas menuju kamar yg digunakan gilang tadi.


Melihat gilang tergeletak tak sadarkan diri, dan genangan darah yang cukup banyak membuat dika prihatin melihatnya.

__ADS_1


"Kasian lu lang, sapa suruh dapetin cewe dengan cara kek gini. Ya meskipun enak dikita sih, hehe"


Dalam keadaan seperti ini dika masih sempat sempatnya bercanda, namun itu hanya sesaat. Ia langsung memapah gilang ke mobil, gk mungkinkan dika menggendong gilang ala bridal style. Dika masih waras ya, jadi ia memilih memapah saja.


Sesampainya dirumah sakit, gilang langsung ditangani oleh dokter. Keadaannya sangat memprihatinkan, kata dokterpun ia mengalami patah tulang pada kaki kirinya. Dagu dan pelipis, bagian itu yg sudah terdapat jahitan.


Dan gilang juga membutuhkan darah, ia terlalu banyak mengeluarkan darah. Gilang masih tak sadarkan diri, mungkin itu efek dari obat yg telah diberikan oleh doktor.


Disisi lain zidan bingung harus membawa mikha ke mana, tidak mungkin jika ia membawa pulang ke rumah mikha. Apalagi ke rumahnya, bisa habis dia oleh ayahnya karna keadaan mikha yg kyak gini.


Akhirnya zidan memutuskan membawa mikha ke rumah vania dan dion, ia taj meskipun sudah malam tapi hanya itu pilihan yg paling tepat.


Ting tong.


Suara bel rumah membangunkan tidur vania, ia tak habis pikir dengan tamunya ini. Sudah hampir jam 12 dan ada tamu, jika ia tak mengenal akan ia timpuk pake sendal!


Vania berjalan membukakan pintu rumah, sesekali ia menguap karna rasa kantuknya. Dion juga turun ke bawah, bukan untuk menemani vania. Tetapi untuk mengambil minum, ia lupa tak membawa minum sebelum tidur tadi.


Saat pintu terbuka vania terkejut, ia tak bisa berkata apa apa lagi. Kaget gdengan apa yg ia lihat sekarang, keadaan mikha sudah tak beraturan yg digendong zidan. Dan hodie zidan yang terkena noda darah, bukannya ja menyuruh kedua org itu masuk ia malah terdiam mencermati keadaan ini.


"Siapa sih yang? "tanya dion yg mulai mendekati pintu.


"Lah mikha kenapa? Baju lu, kok ada darah? "tanya dion


"Ck, masuk dulu kek! Capek ini, lu kata kga berat apa! "ucap zidan yg ngegas.


"E, eh iya. Masuk dulu, lu bawa mikha ke kamar tamu aja. Abis itu balik kesini, jelasin ke gua. "


Zidan menganggukkan kepalanya, ia sudah lelah jika harus berdebat dulu. Apa lagi vania yg masih berdiam diri dihadapannya, tak ada pertanyaan yg terlontar dari bibir vania.


"Yang? "ucap dion


"Yang? "


"Sayang! Jangan ngelamun napa, kesambet demit tau rasa kamu"ucap dion pasalnya sedari tadi vania melamun, kan jadinya dion yg menutup pintu.


"E, eh apa? Gimana tadi? "tanya vania bingung.


"Mikha, mikha kenapa? "sambungnya.

__ADS_1


"Kita tanya zidan dulu ya. "


Setelah beberapa menit, vania dan dion menunggu zidan di ruang tengah untuk meminta penjelasan. Tak lama zidan datang dengan keadaan yg lebih bersih, ia meminjam baju dion karna bajunya tadi terkena darah gilang.


"Jadi?"tanya dion


"Kok kalian bisa gitu? "tanya vania yg linglung.


"Jangan potong omongan gua dulu, dan klo mau tanya pas gua abis cerita. Awas aja lu pada motong, gua potong ganti burung lu yon. "ancam zidan.


"Napa bawa bawa burung gua sih, "kesal dion.


"Udahlah, cepet ceritain! "jengkel vania.


Zidanpun menceritakan kejadian dari awal hingga akhir, dan tak melewatkan apapun termasuk juga pengakuan perasaanya ke mikha.


Tak lama vania mulai menangis sesenggukkan, ia tak tau bagaimana lagi harus berkata. Tak menyangka jika sahabatnya harus dihadapkan dengan kejadian yg menyakitkan, kini vania bertekad harus ada disamping mikha. Vania yakin jika mikha saat ini pasti trauma, apalagu orang tuanya sedang tidak ada dirumah.


Tak tahan dengan cerita zidan yg menyakitkan, vania memilih kekamar untuk melihat keadaan mikha. Dan tak lupa untuk menggantikan bajunya, dan meminjamkan baju vania untuk dipakai.


"Gua akan selalu suport lu mik, selalu disisi lu. Bukan hanya gua, lu masih punya dion, zidan, kevin, ardan, orang tua lu. Jadi jangan berfikir, lu sendirian ya."gumam vania.


Vania memutuskan untuk tidur disamping mikha, siapa tau nanti jika mikha membutuhkan sesuatu ia bisa lamgsung mengambilkannya.


Sudah 1 bulan lebih setelah kejadian mikha dan gilang, sekarang mikha menjadi lebih pendiam, cuek, dingin, dan sering baper.


Vania dan yg lain sudah berusaha agar mikha tak mengingat kejadian itu, namun semua usaha mereka sia sia. Mikha tetao tak bisa melupakannya, vania tau jika itu berat.


Tapi setidaknya jangan biarkan kejadian buruk selalu diingatkan, meskipun itu juga sebagian dari pelajaran dalam kehidupan. Dan sekarang mereka semua sedang berada di salah satu cafe milik ardan.


"Mik, jangan gini terus dong. Lu bentar lagi mau lulus, ini udah sebulan lebih mikha."ucap kevin yg frustasi.


"Vin, jangan gitu napa. Mikha juga butuh waktu. "ucap ardan.


"Tapi, mik. Lu gada kasian gutu sama zidan? Dia udah ngungkapin perasaannya sama lu, dan lu juga udah diemin dia sebulan lebih. Gua rasa dia sedih dah, kemarin gua ketemu tuh anak ditaman. Kaga biasanya dia nyebat, pasti dia lagi banyak masalah."tutur ardan yang panjangnya melebihi tol cipali, membuat semua heboh terkagum kagum. Tak biasanya bapak ardan berkata panjangnya, kek tol cipali kan.


Jangan heran mereka membicarakan zidan secara terang terangan, karna zidan sedang tak ada disini. Katanya sih sedang ada kerja kelompok, mangkanya mereka berani gibah.


"Es batu dah lulu gaes ternyata!! "heboh kevin

__ADS_1


"Anjer dah lu dan, gilak! Kesambet kutilanak mana lu? "sahut dion.


__ADS_2