
Sementara itu dion dan vania menunggu di depan ruang ICU ,keduanya berfikir bagaimana nasib si kecil. Jika ia kasih ke panti asuhan bisa saja, tapi mereka telah mendapat pesan dari kedua orang tua dari sikecil.
"Eh, dari tadi kita ngomong. Gua kga tau nama lu? "tanya dion dengan mengulurkan tangannya.
"Nama gua, Vania Anandita Wirya."ucap vania yang menjabat tangan dion.
"Kalo gua, Dion Azka Alfariz. "
"Sekarang lu ikut gua ke rumah, lagian pasti abang gua tadi udah bocorin ke bonyok."
"Tapi ini udah malem, gua juga harus pulang!"ucap vania yang tak mau kalah.
"Ke rumah gua dulu, abis itu gua anter lu pulang! "putus dion.
"Yaudah, gua ngikut lu aja."pasrah vania.
"Nah gitu kek, "
"Tapi motor lu kan dibawa ke kantor polisi, trus kita naek apaan?"
"Kan ada taksi, kalo kaga digunain ntar bangkrut. "
Vania yang mendengar penuturan dion hanya bisa menghela napas panjang, karna jika dia balas maka tidak akan ada kata henti.
Mereka sampai dikediaman alfariz, ini bukan seperti rumah tapi lebih mirip dengan mansion .
Membuat vania tertegun melihatnya, jika di depannya sudah mewah apalagi dengan dalamnya. Pertanyaan itu berputar dipikiran vania.
Ting tong! Ting tong!
"Bentar! "teriak seseorang dari dalam.
Tak lama kemudian, pintu terbuka memuncullah seorang perempuan paruh baya.
"Loh den, ini siapa? " tanya bi imah
"Ntar aja bi, nanti bibi juga tau"
"Papa sama mama dimana bi? "
"Tuan sama nyonya ada di ruang tengah den"
"Yaudah bi, saya mau ke dalam dulu "
"Ayok va! "ajak dion.
"Eh i..iya"
Keadaan diruang tengah sangat harmonis, banyak orang yang menginginkan keluarga seperti keluarga dion. Anggota keluarga yang lengkap juga kesetiaan yang ada di dalamnya.
"Assalamualaikum ma, pa! "
"Wa'alaikumsalam sayang"
"Loh dion ini siapa? Jangan bilang kamu... "tanya mama yg melihat kearah vania yang sedang menggendong sikecil .
Melihat vania yg menunduk ketakutan, entah angin dari mana dion menggenggam tangan vania. Menyalurkan kekuatan, belum juga kenal dion sudah meluncurkan aksi modusnya.
"Ish, ya nggaklah ma! Dion masih waras ya ma."bela dion.
"Jelaskan! "ucap papa yng mengeluarkan aura dingin.
Dion menceritakan awal dari kejadian yang dia alami malam ini bersama vania, juga kejadian dia mendapatkan si kecil. Saat dion bercerita papa menampilkan raut wajah yg sulit diartikan.
__ADS_1
"jadi, bagaimana nasib anak ini?"tanya papa
Berbeda dgn papa, mama justru memberikan respon yg positif. Dia justru ingin menjadikan sikecil sbg cucu pertama dari keluarga Alfariz, pendapat yang mama lontarkan membuat papa terkejut.
"Biarin diadopsi pa, mama mau dia jadi anak dion trus jadi cucu mama. "
"Tapikan ma, klo mau adopsi anak harus ada surat nikah ma. Bentar lagi dion juga UN, bukannya nanti jadi ribet?"kekeh papa.
"Gampang! Tinggal nikahin mereka berdua, kan beres"ucap mama tanpa pikir panjang.
Vania dan dion yang menyimak perdebatan kedua orang tua ini dibuat terkejut,karna ucapan yg dilontarkan mama dengan gampang. bagaimana bisa, mereka menikah dengn status masih pelajar.
"Mah, kita masih sekolah loh! "protes dion.
"Kan yang punya sekolah itu temen mama, jadi mama bisa atur. Kalian tenang aja"
"Sayang, besok kami mau ketemu sama orang tua kamu ya.
"lanjut mama yang memandang harap ke vania.
"Hah? gimana tante? "jwb vania.
"Besok kami mau ketemu org tua kamu, sayang"
"Tapi tante... "
Dion dan papa hanya menghela napas pasrah dengan kemauan mama tercinta, jika ditentangpun tidak akan ada hasilnya.
"Yaudah tante, saya mau pulang. Ini juga udah malam"pamit vania.
"Jangan panggil tante dong sayang, panggil mama aja ya. "
"Iya tan, eh ma"
"Dion! Kamu jangan diem aja dong, nih mantu mama mau pulang anterin cepet! "
Tetapi mama justru bergidik ngeri dengan kelakuan anak bungsunya itu, terkadang ia sempat berfikir apakah anaknya itu sudah tidak waras lagi.
"Ayo! Mau pulang kga lu? "
"Hm"
"aelah dari tadi jwb gitu mulu, kga punya kata lain napa"batin dion.
"Pa, ma dion nganterin vania dulu ya. Assalamualaikum "pamit dion.
"Wa'alaikumsalam"jwb mereka bersamaan.
Didalam mobil hanya diselimuti keheningan, dan diisi dengan suara dari radio yang diputar.
"Ayo turun! "ucap vania.
"Iya, sabar elah! "
"Assalamualaikum mi, pi"
"Wa'alaikumsalam va!"jawab dua orang bersamaan dari dalam rumah.
Kedua org itu terkejut dengan apa yang mereka lihat sekarang, karna keadaan sekarang vania yang berdiri di samping lelaki. Dan vania yang tengah menggendong sikecil.
"Ada yg bisa jelaskan?! "suara papi yang mengeluarkan aura tidak bersahabat.
Dan sekali lagi dion menggenggam tangan vania erat, vania yang diperlakukan seperti itu merasa lebih tenang saat berhadapan dengan orang tuanya.
__ADS_1
Mami melihat keadaan yang tidak bersahabat, mencoba mencairkan suasana.
"Kalian masuk dulu, tidak enak jika dilihat tetangga" ucap mami
lembut.
Sikecil diambil alih oleh mami, untuk ditidurkan dikamar vania. Setelah mami keluar dari kamar, ia menuju dapur untuk membuat minuman.
Saat mami kembali masih belum ada yang berbicara, suhu yang dingin didalam rumah mendukung suasana yang menegangkan.
"Sekarang siapa yg bisa jelaskan ini ke kami? "ucap mami lembut.
"Biar saya yang jelaskan tante. "ucap dion, papi hanya ingin mendengar penuturan dari mulut dion sendiri.
Dionpun mulai menceritakan kejadian yg mereka alami malam ini, dan bagaimana cara mereka mendapat sikecil. Papi dan mami sama sama terkejut dgn penuturan dari dion.
Mereka tdk percaya dgn apa yg telah dikatakan oleh dion yang
terbilang org asing di keluarga itu, papi dan mami memandang Vanesa meminta penjelasan. Namun, vania hanya menganggukkan kepalanya.
"Jika kalian tidak percaya, kalian bisa bertemu orang tua saya dan bertemu dengan orang tua sikecil dirumah sakit."ucap dion
"Dan jika orang tua si kecil sudah sadar dari masa kritisnya"lanjutnya.
"Kalau begitu kami akan menemui orang tuamu dan orang tua sikecil besok."ucap papi bijak.
Mami tidak bisa lagi mengucapkan kata kata lain, ia masih shock dangan kejadian barusan.
"Kalau begitu saya mau pamit om, tante. Ini juga sudah larut malam."pamit dion.
"Baiklah nak, hati hati dijalan. Vania tolong antarkan dion ke depan."ucap papa.
Dion langsung berpamitan dengan kedua orang tua vania.
"Eh gua minta id line lu"ucap dion.
"Nih! "ucap vania seraya memberikan hpnya kepada dion.
"Lah gua minta id line lu, bukan hp lu! "ucap dion dengan wajah datarnya.
"Catet sendiri! "ucap vania malas, karna dia mau menyusul sikecil ke dalam alam mimpi.
"Kuncinya apaan? "
"Kaga gua kunci! "
"Nih, udah tuh! "
"Hm,dah sono lu! "
"Lu ngusir? "tanya dion dengan menaikkan sebelah alisnya.
Vania hanya menganggukkan kepala sambil menguap, karna dia sedari tadi sudah mengantuk! Ingatkan vania akan menampol wajah tampan dari dion, jika tidak segera pulang.
"Yaudah sono lu masuk trus tidur, ingat! Besok lu gua jemput buat ke sekolah! "titah dion.
Vania hanya menaikkan sebelah alisnya.
"lah emang dia tau gua sekolah dimana? "batin vania.
"Iya gua tau lu sekolah dimana, secara kita temen sekolah"jawab dion santai.
Vania semakin dibuat tidak mengerti dengan dion, bagaimana bisa dia membaca si batin vania. Dan apa mungkin dion temen sekolah vania? Tapi kenapa dia tidak pernah melihat dion?
__ADS_1
"Udahlah gua pamit, assalamualaikum."
"Hm, Wa'alaikumsalam. "