
Saat dion melihat kesamping, dimana vania tengah terduduk lesu. Ia sadar jika hari sudah mulai gelap dan tamu juga sudah hampir pulang. Dion memutuskan untuk memilih mengajak vania beristirahat.
"Capek? "vania hanya menganggukkan kepala.
"Yaudah kita ijin dulu "
Dion menghampiri orang tua mereka yang sedang berbincang, dan vania mengikutinya dibelakang.
"Ma, mi kita istitahat dulu ya. Kasihan vania, dia keliatan capek banget. "
"Iya, kalian juga udah diizinin selama 3 hari kok. "
"Kita duluan ma. "
Dion dan vania menuju kamar yang telah disiapkan, betapa terkejutnya mereka saat membuka pintu kamarnya. Disana sudah ada taburan bunga? Lilin? BIG NO! Disana telah ada sesosok mahluk astral yang tampan dan seorang anak kecil.
"Bang kok lu disini? Inikan kamar gua sama vania. "ucap dion kesal.
"Lah terus? "jawab cowo itu yang masih asik dengan tv dan
kacang ditangannya.
"Pergi! "usir dion.
"Bang alex kalo mau disini gak papa kok, aku ketoilet bentar"ucap vania.
Alex gilang alfariz, orang yang bersama sikecil didalam kamarnya adalah abang tersayang dion. Tersayang? Kesambet apaan dion mengakui sayang pada abangnya itu. Dan dion masih bener kok, buktinya ia bisa menikah dengan vania.
Saat membuka kamar mandi vania sangat terkejut!
"AAAAAAAA" jerit vania.
"Kenapa va? "tanya dion.
"Eh gua lupa, disana ada vino. "ucap alex dengan entengnya.
"Sebenernya kalian ngapain sih disini! "geram dion.
"Guwa mwau jagwa adwek guwa biar kga jebol! " ucap vino yang masih dengan sikat giginya.
"Tuh sikat gigi telen dulu, kalo udah ditelen baru ngomong! " ucap dion satai.
"Heh bege, lu mau bunuh abang gua. "sembur vania seraya menoyor dion.
"Sakit yang, kan aku bener telen dulu. Dari pada ngomong kaga jelas. "
"Ya ntar mati lah klo ditelen, terus kalo mati yang beliin gua tiket nonton sapa dah. "
"******* ,lu belain abang lu ternyata ada maunya. " kesal vino dan mendapat cengiran dari vania.
"Udah sono lu berdua pergi, gua ngantuk mau tidur. "
"OGAH!!!" ucap vino dan alex bersama.
Sikecil? Tenang ia sudah tertidur pulas diatas ranjang.
"Udahlah yon, biarin aja. Gua mau mandi, eh bang tuh sikat yang lu pake punya sapa dah? "ucap vania.
"Bini lu aja kaga sewot tuh. " sambung alex
"Tau tuh dion, ribet amat jadi suami. Eh kaga tau tadi warnanya yang item. " ucap vino.
"Item? Eh yang bukannya tuh bekas sepatu ya? " tanya dion dan hanya diangguki kepala oleh vania.
__ADS_1
"Bekas sepatu gimana? "
"Ya tadi sebelum gua pake sepatu, gua kasih ke pak totok buat disemir. Berhubung kaga ada sikat gua pake yang itu. "
"Lah anjeng! Trus gigi gua gimana ***"
"Ya kaga tau lah! "
"Ah bodoamat, penting dah sikat gigi. "
"Jorok lu njer!" sembur alex.
Vania menggelengkan kepala melihat pertikaian antara mereka, sebenarnya tadi ia hanya ingin menjaili abangnya itu. Tapi melihat sikap acuh vino, ia jadi kesal sendiri dan memilih untuk mandi.
Setelah mandi ia menghampiri sikecil untuk menyusulnya ke alam mimpi, ia melihat 3 cowo yang masih setia dengan ps yang digenggamnya. Sesekal menendang badan mereka untuk berbuat curang.
Hari telah berganti, status vania kini juga telah berubah. Ia terbangun dan ingin menunaikan ibadah, namun vania pusing dibuatnya. Sekarang keadaan kamarnya mirip seperti kandang hewan dari pada kamar hotel.
Bungkus kacang yg tergeletak dimana mana, tv yang masih menyala serta 3 manusia yang tidurnya tidak manusiawi. Justru mirip hewani, ia akan memarahi meraka nanti ingat kan vania tentang itu.
"WOY! BANGUN!!!" teriak vania.
"Emang dasar kebo! "gumam vania.
Tanpa pikir panjang ia mengambil jam weker yang ada di nakas, ia mulai menyalakan dengan volume tinggi. Namun, apa yang ia dapat? Hanya pergeseran badan! Tenang, vania tidak kehabisal akal. Ia mulai mengambil ponselnya lalu menyalakan sebuah musik dengan volume yang cukup membuat orang budek kembali bisa mendengar.
Tapi tidak dengan ke3 mahluk ajaib yg sedang tidur, vania lelah sendiri jadinya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini, karna ia masih sayang dengan karpet bulunya, ingat KARPET BULU!
Bukannya dion ataupun abangnya. Dengan langkah yang gontai ia berjalan menuju kamar mandi, untuk mengambil air.
Ia mulai memercikkan air ke muka mereka, tapi tetap saja tidak bangun. Karna kesal ia langsung mengguyur mereka semua, karpet bulu? Suruh saja 3 serangkai itu untuk menjemurnya nanti.
"WOY UJAN ANJER, BOCOR! BOCOR! "
"KEBAKARAN! KEBAKARAN!! "
Semua yang mendengar ucapan ajaib vino langsung kicep, kecuali vania karna ia sudah mengerti arti kata itu. Karna paman vania berasal dari surabaya, dan keluarganya pun sering mengunjungi.
"Kedelep? Bahasa mana sih njer! "sembur alex.
Sedangkan dion, ia kembali ke alam mimpinya dan tidak mau ikut dalam perdebatan yang sengit itu. Justru sekarang ia sudah berada dikasur empuk, yang sudah melambai lambai kearahnya.
"Itu bahasa jawa! Bacot amat sih" sewot vino.
"Dih b aja bisa kali. "balas alex.
"Lah mahluk yang satu kemana nih? "batin vania.
Sebuah dengkuran halus terdengar ke telinga vania, dan mengalihkan perhatiannya untuk ia lihat ternyata itu seorang dion yang menjabat sebagai suaminya sekarang.
Tak habis pikir vania tuh, udah dikasih musik disiram aer tetep aja molor.
"Gua punya ide"
Vania turun kebawah mencari sikecil, dan membawanya kekamar.
"Sayang, mau bangunin daddy?"
"Mau! "
"Yaudah banginin gih"
"He.em"
__ADS_1
"DADDY BANGUN! "teriak sikecil tepat ditelinga dion.
"Nghhhhh"
"Ish daddy bangun susah lha! "
"BANGUN DADDY DAH SIANG! "
Dion terlonjak kaget dan langsung terbangun, vania tersenyum bangga dengan anak kecil itu caranya untuk membangunkan dion sangat luar biasa.
Bagaimana tidak, sikecil dengan suara yang menggelegar dan jangan lupakan aksi melompat lompat diperut dion! Oh astaga itu sangat menggemaskan.
"Morning boys" ucap dion sambil menciumi seluruh wajah sikecil.
"Molning daddy! Dah lha, daddy blom mandi! "ucap sikecil.
"Katana mommy, kalo mau ganteng halus mandi lha daddy"lanjutnya.
"Daddy masih ganteng tau"
"Nda lha, daddy jelek blom mandi" ucapa sikecil dengan memencet hidungnya.
"Yaudah, daddy mandi dulu."
"Mom, ajak dia ke restoran bawah daddy mau mandi dulu. "ucapa dion seraya mencium singkat pipi vania.
"Morning kiss" bisik nya lalu berlari sebelum vania mengamuk.
Pipi vania bersemu merah, ia malu sangat malu! Dion telah menciumnya didepan sikecil, oh astaga ingin sekali ia menjambak rambutnya itu.
"Mommy kenapa pipi na kok melah? "
"Mommy, kepanasan. Yaudah yuk kita sarapan dulu." ajak vania.
"Dasar dion gila! "batin vania.
Semua keluarga berkumpul direstoran hotel, tampak raut wajah yang mereka pancarkan sangat bahagia.
"Jadi, kalian mau tinggal dimana? "tanya papi.
"Dion belum tau pi, dion punya apart. Tapi gimana vania aja "
"Kalian tenang aja, papa sudah siapkan rumah untuk kalian. "
"Wahhh, yang bener pa? "tanya vania.
"Iya sayang, papa kasih itu untuk hadiah pernikahan dari papa dan mama. "
"Papi sama mami juga udah nyiapin mobil buat kalian."
"Kalo bang alex sama bang vino, hadiahnya mana? "tanya vania.
"Kalo kita do'a aja udah cukup kok. "ucap vino dengan cengirannya.
"Kita? Sori ya kita gak udah selesai kalo lu lupa. "sergah alex.
"Kok abang gitu sih!" ucap vino dengan nada yang sangat sangat
lembut, sampai orang yang mendengarnya ingin muntah.
"UDAH WOY! Anak gua denger ini! "sergah dion, kedua mahluk ajaib itu hanya memamerkan deretan giginya yg putih.
"Kalian udah kasih nama buat nih bocah? "tanya vino.
__ADS_1
"Udah/blom" jawab vania dan dion bersamaan.
"Udah? Siapa? "tanya vania, semua juga ikut bertanya tanya.