
Mendengar ucapan dion yang entengnya nauzubillah, pengen rasanya jedotin tuh jidat ke tembok. Sapa tau klo dah dijedotin bisa benerkan, biar kek di sinetron sinetron gitu.
"Arin pulang apa tidur sini? "tanya vania.
"Tidul sama mommy"
"Mommy tidul sama abang lha "
"Sama adek!"
"Abang"
"Adek"
"Abang"
"Adek"
"Abang! Daddy adek nda mau ngalah sama abang lha"
"Boys, jadi cwo itu gk boleh ngadu. Kita tuh gk boleh rebutan sama cewe, ih abang gak gentle lagi "
"Gentle apa daddy? "tanya el
"Gentle itu ganteng"
"Wuihhh,mommy sama adek ja lha. Abang kan gentle"
"buset, anak gua diracunin kga bener sama bapaknya"batin vania.
"Biadap emang dion. "umpat vania.
"Yaudah klo gitu kalian berdua, tidur di kamar sebelah! "ucap vania garang.
"Oke mommy" seru el.
"Lah klo gua tidur di kamar sebelah, kga bisa grep grep dong"batin dion.
"Janganlah yang, kamu gak kasian sama aku? "melas dion.
"Lah bodo amat"
"Yang ntar aku gak bisa tidur. "
"Serah! "
"Napa gua yang jadi korban sih"batin dion.
Malam pun tiba, vania dan arin tidur bersama. Sedangkan dion dan el, tidur di kamar sebelah. Ralat bukan el dan dion, tapi el aja. Kalian ingatkan bahwa dion tidak akan bisa tidur tanpa vania, dan ternyata itu bukan alibi doang.
Itu fakta! FAKTA! Kini dion lebih memilih berkutat dengan laptop dan setumpuk berkas yang perlu ia revisi juga tanda tanganannya, saat ia sedang membaca salah satu dari tumpukan berkas itu. Perutnya terasa berbunyi, cacingnya memang tidak bisa diajak kerja sama.
Mana mungkin dion membangunkan vania, dan ini sudah pukul 01.00 dini hari. Ia memilih untuk ke dapur setidaknya ia masih bisa membuat mie instan, ayolah dion masih bisa memasak walau hanya sebuah mie instan.
Saat ia pergi ke dapur dan membuka lemari makanan, ia dikejutkan dengan vania yang tengah berada di depan kulkas.
"Astaga!"teriak dion.
Vania segera membungkam mulut dion, jika tidak dibungkam maka el dan arin akan terbangun.
"Ngapain? "tanya vania yang penasaran dengan apa yang dilakukan dion. Pasalnya dini hari ia berada di dapur, jarang jarang kan.
"Hehe, laper" ucap dion, dan jangan lupakan rentetan giginya gang ia pamerkan.
__ADS_1
"Kenapa gak bangunin aku? "ucap vania yang telah mengambil alih pekerjaan didapur, seraya mencepol rambutnya asal.
"Gak mau ganggu kamu tidur "
"Duduk sana, jangan ganggu"
"Iya sayang"
Dion mematuhi ucapan vania, ia sekarang tengah duduk di meja. Melihat vania yang tengah memasak untuknya, kan dion tambah sayang. Mata dion tak bisa lepas dari gerak gerik vania, astaga dion tengah bucin dengan istrinya sendiri.
"Nih aku udah buatin. "ucap vania bersama dengan 2 mangkok yang tengah berisi mie instans yang berkuah.
"Makasih sayang, duh kan makin sayang. "
"Apasih, udah makan aja. Gk usah gombal segala, gk cocok kamu tuh. "
"Dih, tros kenapa tuh muka jadi merah? Hm? "
"*****, klo bukan suami udah gua banting nih org"batin vania.
"Udah deh diem, aku tinggal nih"
"Ehe , jangan lha"
Meja makan itu kini menjadi hening, hanya dentingan sendok gang mengisi heningnya keadaan saat ini.
Selesai makan, dion lah yang mencuci piring. Awal vania yang ingin cuci, tapi karna dion kekeh mau cuci dan memberi gombalan gombalan receh yang membuat vania ingin muntah. Akhirnya vania lah yang mengalah, kan mayan dapet langsung rebahan sambil nonton cantik diruang tamu.
Setelah mencuci piring, dion menghampiri vania yang tengah menonton televisi diruang tamu. Tak lupa ia membawa nampan berisi, orange jus dan beberapa cookis.
"Kenapa gk tidur? "tanya dion.
"Gak ngantuk, kekenyangan sih. "
"Gak, kepo tuh. "
"Kamu mah..... "
"Apasih, jangan alay dah. "
"Aku tuh gk bisa tidur, karna gak ada kamu yang"
"Yaudah sih, bodo amat. "
Tanpa bertanya kepada vania, dion mendekatkan diri ke vania. Dan memiringkan kepala vania agar bisa bersandar di dadanya, vania pun tak menolaknya. Tangan dion yang mengelus pucuk kepala vania, sesekali tak lupa jyga ia menciumnya. Malam yang dingin, ditambah lagi hanya suara dari televisi yang mengisi ruangan itu.
Menambah kesan romantis yang menyeruak ke seluruh ruangan, dion janji tidak akan pernah membuat vania menitikkan air mata.
Tak terasa sudah 4 bulan lamanya dion menjadi alumni SMA bima sakti, dan sudah 4 bulan vania menduduki kelas Xll. Selama 4 bulan ini, banyak sekali kejadian yang membuat persahabatan antara vania, mikha, dan zidan semakin renggang.
Mungkin karna zidan yang sudah memiliki pacar, dan mikha yang akhir akhir ini dekat dengan gilang. Nasib vania, punya suami tapi dikantor. Kan sekarang dia ke kantin sendiri, berasa jomblo tauk.
"Va, ngapain sendiri? "tanya zidan yang sudah ada di samping
vania, ah jangan lupakan nampan yang berisi es teh dan bakso.
"Lah, lu kan sama lia. Mikha juga kalo istirahat sama gilang, berasa jomblo lagi gua."ucap vania dengan nada melasnya.
"Maafin gua va, gua gak tau klo selama ini lu kesepian."ucap zidan yang nampak bersalah.
"Santai aja kali, lu kan juga butuh pacar. "
"Makasih perngertiannya va, tapi 2 hari yang lalu gua udah putus sama lia. "
__ADS_1
"Lah kok bisa? "
"Dia selingkuh va, sama andre. Pentolan sekolah, kan gua kaga berani lawan dia. Mana dia jago karate lagi, lah gua apa yg bisa cuman jujitsu doang. "
"Lah sama aja njer, dia karate lu jujitsu. Kan sama sama bisa gelud, napa lu jga gelud aja sih"ucap vania gregetan.
Emang zidan tuh rada rada, dia bisa bela diri tapi kaga mau gelud. Buat apa coba latian bela diri kalo kaga digunain, rasanya vania pengen nampol tuh muka.
"Karna gua sadar, klo berantem bukan nyelesein masalah. Toh, lagian lia juga udah bosen sama gua. "
"Bgsd! Lu napa jadi bucin gini sih, jijik gua liatnya asw. "
"Heh! Lu nikah sama dion, napa jadi bar bar gini sih. "
"Ya kan ini didikan dion, jangan salahin gua dong. "
"Serah lu lah, "
"Eh va, tadi lu bilang mikha sama gilang? "
"Iya, mereka deket dah satu bulan"
"Napa emang? "
"Bukannya gilang udah punya pacar? "
"Heh! Ya belom lah, klo uda mikha mana mau sama dia. "
"Tapi.... "
"Udah lah, mikha juga berhak bahagia dan. "
"Iya juga sih. "
"Tapi kenapa perasaan gua jadi gak enak. "batin zidan.
Disisi lain mikha dan gilang tengah berada di halaman belakang sekolahnya, disana ada tamana tersembunyi. Dan taman itukini menjadi temoat favorit mereka, saat sedang berdua.
"Mik? Gua mau ngomong sama lu"
"Apa?"
"Selama ini gua udah suka sama lu, gua sayang sama, gua nyaman saat disisi lu. Meskipun kita dekat sebentar, tapi tidakmenutup kemungkinankan klo gua suka sama lu. Lu mau gk jadi pacar gua? "
"Hah? "
"Gimana mik? "
"Iya gua mau, gua juga udah suka lama sama lu. "
"Makasih mik, makasih. Gua seneng banget"ucap gilang yang langsung memeluk erat tubuh mikha.
"Oh iya, ntar malem aku jemput. Mau kan nemenin aku ke pesta temen? "
"Boleh deh. "
"Makasih sayang"
"Iya"
Pasangan itu kini tengah dimabuk asmara, hanya ada rasa bahagia yg terpancar di keduanya.
Malam pun tiba, mikha telah cantik meski hanya sedikit make up yang ia gunakan. Dress hitam selutut, hig heels yang tak terlalu tinggi, rambut yang ia biarkan tergerai menambah kesan elegant yang melekat padanya.
__ADS_1