
"kamu cantik pake gaun itu. "bisik dion.
Semburat merah terluhat dipipi vania.
Memang sih gaun ini nyaman juga elegan, tapi saat mengingat waktu fitting gaun kemaren. Ingin rasanya ia mencekik leher dion, dan membuangnya ke sungai!
Flashback on
Vania dan dion berangkat menuju butik
disalah satu kita jakarta, lebih tepatnya butik milik bibi nya dion.
Sebenarnya waktu yg mereka butuhkan tidaklah lama, tapi bukan jakarta jika tidak macet.
Saat tiba dibutik, mereka disambut oleh bibi dion.
"hai bi" sapa dion.
"hai ganteng, duh lama gk ketemu makin ganteng aja. "
"ini calonnya? Kok cantik sih. "
"kok bibi gitu. " ucao dion dengan mengerucutkan bibirnya.
Bukannya terkesan imut, tapi justru menjijikkan bagi vania.
"udah, sekarang kalian ikut bibi. "
"nah, nama kamu siapa? " tanya bibi kepada vania.
"vania bi"
"duh, kamu gk mikir dulu mau nikah sama dion?dipelet apa kamu? "tanya bibi.
"BIBI! Dion denger ya!" pusing dion tuh, kenapa juga mamanya menyuruh untuk fitting gaun disini. Sudah ia duga akan jadi seperti ini.
__ADS_1
Bibi terkekeh mendengar gerutuan yg dion lontarkan, baginya menjaili dion adalah hal yg menyenangkan. Tapi it tidak berlaku untuk dion, justru bibinya itu selalu menguras emosinya.
"kamu cobain gaun yg udah bibi sediain ya, entar dibantu sama karyawan bibi. "
"iya bi"
"yaudah bibi tinggal dulu, kalo ada yg pas langsung bungkus aja "vania menganggukkan kepalanya.
Vania terkagum saat melihat beberapa desain yg sudah bibi siapkan, ia sangat senang.
Gaun pertama, vania keluar dari ruang ganti.
"dion? Baguskan"ucap vania dgn senyum yg tidak luntur.
Dion terpana, ternyata jika vania menggunakan gaun cantiknya bertambah. Namun itu hanya sesaat, setelah melihat vania memutar.
"ganti. "
"kenapa? Bagus tau."
"yaudah sih. "vania kembali untuk berganti gaun
Gaun ke dua, masih dengan senyum yg merekah ia meminta pendapat dion.
"baguskan, punggungnya juga gk bolong"
"iya gk bolong, tapi tuh gaun sobek apa gimanasih! Roknya sobek tuh sampe ke paha! "
"tapi kan.. "
"ganti! "
Vania mendengus sebal, sabar va sabar.
Gaun ketiga, dengan senyum yg dipaksakan ia kembali kearah dion.
__ADS_1
"gimana? "ketus vania.
"bagus,"
Vania bisa bernapas lega, akhinya ia tidak akan ganti gaun lagi! Pasalnya ia capek!
"tapi gaunnya kok kurng bahan sih, mana kga panjang! Kurang dana apa gimana sih, buat gaun kok gk niat. "ucap dion
"APA?! "
"ganti yang," ucap dion dengan nada selembut sutra.
Dengan perasaan yg jengkel ia kembali ke kamar ganti dengan kaki yg dihentak hentakan, ia tak peduli jika sekarang masih menggunakan high heels.
Dion tertawa geli melihat vania yg jengkel, siapa suruh menggunakan gaun yg kurang bahan. Ingat vania itu miliknya, perlu kalian ketahui itu!
Dengan berbagai macam alasan dion menolak gaun yg telah vania pakai, dengan perasaan dongkol ia kembali berganti gaun untuk kesekian kalinya.
"yon? Ini udah gaun ke sembilan loh, sampe lu suruh ganti lagi. Gua pulang!"ucap vania ketus.
Mendengar suara vania, ia langsung mendongakkan kepala. Senyum hangat tercetak diwajah dion.
"cantik"gumam dion.
"ha? Gimana? "
"eh, enggak. Bagus ini aja. "putus dion.
"hufttttt" helaan napas terdengar dimulut vania.
"untung aja kga ganti lagi, udah gedek gua. Pengen gua bunuh tuh orang rasanya. " batin vania.
Flashback off.
Akhirnya dion memustuskan gaun yg dipakai vania, simpel tertutup namun juga elegant. Sangat cocok ditubuh vania.
__ADS_1